Bukan Milikku

PicsArt_08-31-12.52.30

Source: www.askideas.com/media/72/Ice-cream-stick-craft-house.jpg

Jarak toko kelontong dengan rumah Rama tidak begitu jauh jadi mereka berdua hanya berjalan kaki. Menit-menit pertama sunyi tanpa obrolan. Rama hanya berjalan santai dan diikuti Nia dibelakang sembari menikmati lingkungan sekitar.

“Eh, Nia!” seru Rama, yang dipanggil menoleh.

“Kenapa sih kamu ngebet banget jadi dokter? Padahal nggak gampang kan masuknya? Udah gitu mahal lagi biayanya,” lanjutnya.

Nia tersenyum, “Gimana ya? Continue reading

Advertisements

Bukan Milikku

PicsArt_08-25-05.17.10

s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/d6/01/d7/d601d7ab05af6451ae8b68fed69cf547.jpg

Keesokan harinya sepulang sekolah Nia berjalan mendekati gerbang. Banyak anak yang keluar gerbang sekolah untuk jajan, menunggu jemputan atau sekadar berbincang dengan yang lainnya. Terlihat Rama dan Mono yang tengah asyik mengobrol lalu keduanya menoleh ke Nia sesampainya dia di gerbang. Mono pamit duluan dan mulai pergi dengan mengayuh sepedanya.

“Kamu dijemput?” tanya Rama memulai percakapan.

Nia menggeleng, “Aku pakai motor sendiri.”

“Kenapa nggak dibawa sekalian? Kamu mau nanti pulangnya jalan? Aku nggak mau nganter kamu balik ke sini lagi ya,” Rama mulai menyulut. Continue reading

Bukan Milikku

PicsArt_08-21-03.39.07

penamotivasi.files.wordpress.com/2014/01/pelajaran-dari-buku-tulis.jpg

Keesokan harinya di jam istirahat Nia mendatangi Mono yang tengah membolak-balik soal pendalaman materi fisika. Nia berdeham.

“Makasih ya, Mon,” ucapnya.

Mono mengangguk tanpa menatap Nia dan berkata, “Selesaikan saja tugasmu dan jangan hilangkan hasil kerjaanku.”

Nia hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Mono. “Kalau dipikir-pikir dari kelompok kita yang kerja hanya Mono saja. Aku hanya ngerapiin sementara yang lain nggak ngapa-ngapain. Terutama Rama yang kerjaannya hanya ngabisin makanan dan tidur.”

“Pendapatmu itu tidak sepenuhnya benar, Nia. Maaf.”

Nia terkejut. Continue reading

Bukan Milikku

PicsArt_08-15-05.14.39

Source: Google (edited)

Terdengar suara mesin motor menjauh. Nia pun terbangun. Setengah tak sadar dia mencari penunjuk waktu. Astaga! Pukul 20.10, lima puluh menit lagi ayah, ibu dan kakak-kakak Nia yang ada di toko akan pulang dan Rama masih menikmati tidur nyenyaknya di sofa empuk itu. Nia pun melihat beberapa lembar kertas bertumpuk di depannya. Tumpukan teratas berukuran paling kecil terdapat tulisan. Continue reading

Bukan Milikku

Akhirnya Nia memutuskan sore ini untuk mengerjakan tugas biologi. Sembari menyalakan laptop dan mepersiapkan bahan-bahan tugas, Nia mengerling jam dinding di ruang tengah, pukul empat lebih tiga puluh menit. Padahal perjanjian awal seharusnya mereka sudah mulai bekerja satu jam yang lalu. Di meja sudah tersaji toples-toples penuh camilan. Nia teringat sesuatu, dia pun beranjak ke dapur membuat satu teko penuh es limun. Di tengah keasyikannya memeras limun, terdengar salam dan ketukan pintu. Nia bergegas lari menuju pintu depan dan menjawab salam. Continue reading

Bukan Milikku

PicsArt_08-03-08.36.33

“Sudahlah. Kau tak akan pernah menjadi dokter. Nilai biologimu aja sama kayak aku. Tinggian aku malah,” ejek Rama untuk ke sekian kalinya setiap kali Nia membicarakan tentang cita-citanya itu kepada teman-temannya.

Nia. Seorang cewek yang duduk di bangku kelas tiga SMA yang tidak sampai tiga bulan lagi dia dan teman-temannya akan menempuh ujian nasional. Seperti anak-anak yang lain, di tahun terakhirnya belajar di SMA Nia juga mempunyai Continue reading