Kurang Empat Soal

Di Rabu pagi yang diselimuti gerimis Mono berangkat dengan Honda Varionya ke sekolah dengan berbalutkan jas hujan berwarna kuning. Tak seperti pagi biasanya, yang satu ini dia agak terburu-buru karena Continue reading

Advertisements
PicsArt_10-19-05.41.10

encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTpajBbr53Phqg1T1J92th_30hil4grK_XDzLgYoT3yASioKqVQrQ

Kembali ke beberapa menit sebelumnya.

“Aku juga …” suara Rama terhenti.

“Benarkah?” tanya Nuri penuh harap memastikan.

“Aku juga sudah menduga kau pasti akan mengatakannya. Sebenarnya aku sudah tahu. Sikap baikmu padaku bukanlah hanya karena pertemanan kita yang telah berjalan hampir selama enam tahun. Tapi, maaf Nuri. Aku sedang tidak ingin memiliki hubungan spesial dengan siapapun. Karena seperti yang kau katakan tadi, aku harus membuktikan bahwa aku bisa walaupun harus merelakan cita-citaku dan aku ingin serius dengan kuliahku nanti. Hubungan semacam itu hanya akan membuatku tidak fokus. Jadi sekali lagi, sorry ya, Nuri.”

Lengang. Canggung.

“Maaf, kalau aku mengganggu,” tiba-tiba Mono muncul.

Keduanya terkejut.

“Aku kesini hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu karena telah menjadi teman sebangkuku selama tiga tahun ini dan …”

Mono menyerahkan kantong plastik putih berisi cupcake pemberian Nia.

“Ini. Titipan dari Nia. Dia bilang terima kasih atas bantuanmu selama ini. Terima kasih karena telah menjadi teman sekelompok maket dan kelompok-kelompok lainnya. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk belajar bersama. Semoga sukses,” jelas Mono datar.

Sebelum berlalu pergi Mono menambahkan, “Oh ya. Lain kali jika kau melihat orang yang kau ejek berusaha keras membuktikan ucapanmu salah kau juga harus berusaha lebih keras darinya agar kalian sama-sama bisa membuktikan kalau dapat mewujudkan impian masing-masing. Bukannya malah menanggung malu dan mendapatkan penyesalan berkepanjangan seperti itu.”

Bukan Milikku – Extra – END

Bukan Milikku

“Kemarin kenapa kamu balik nggak nunggu aku dulu? Padahal udah kubeliin es campur di jalan,” tanya Rama di kelas keesokan harinya.

“Sorry, Ram. Kemarin beneran ditelfon sama mama,” jawab Nia berbohong.

“Nggak karena ada pasien yang lagi kritis, kan? Atau gara-gara aku nganter Nuri?” ejek Rama.

“Iya, aku cemburu!” seru Nia. Continue reading

Bukan Milikku

PicsArt_08-31-12.55.11

Source: danfinnen.com/wp-content/uploads/2013/10/tabletop-3453.jpg

Tenggat waktu yang diberikan Pak Hasyim selama tiga minggu membuat selama itu pula sepulang sekolah Nia harus berkunjung ke rumah Rama. Selama itu pula kedua remaja itu dapat saling mengerti satu sama lain. Yang tadinya kerja kelompok dihiasi saling ejek jurusan sekarang mereka berdua lebih Continue reading

Bukan Milikku

PicsArt_08-31-12.52.30

Source: www.askideas.com/media/72/Ice-cream-stick-craft-house.jpg

Jarak toko kelontong dengan rumah Rama tidak begitu jauh jadi mereka berdua hanya berjalan kaki. Menit-menit pertama sunyi tanpa obrolan. Rama hanya berjalan santai dan diikuti Nia dibelakang sembari menikmati lingkungan sekitar.

“Eh, Nia!” seru Rama, yang dipanggil menoleh.

“Kenapa sih kamu ngebet banget jadi dokter? Padahal nggak gampang kan masuknya? Udah gitu mahal lagi biayanya,” lanjutnya.

Nia tersenyum, “Gimana ya? Continue reading

Bukan Milikku

PicsArt_08-25-05.17.10

s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/d6/01/d7/d601d7ab05af6451ae8b68fed69cf547.jpg

Keesokan harinya sepulang sekolah Nia berjalan mendekati gerbang. Banyak anak yang keluar gerbang sekolah untuk jajan, menunggu jemputan atau sekadar berbincang dengan yang lainnya. Terlihat Rama dan Mono yang tengah asyik mengobrol lalu keduanya menoleh ke Nia sesampainya dia di gerbang. Mono pamit duluan dan mulai pergi dengan mengayuh sepedanya.

“Kamu dijemput?” tanya Rama memulai percakapan.

Nia menggeleng, “Aku pakai motor sendiri.”

“Kenapa nggak dibawa sekalian? Kamu mau nanti pulangnya jalan? Aku nggak mau nganter kamu balik ke sini lagi ya,” Rama mulai menyulut. Continue reading