Aku Suka Bulan Desember

 

Rocks Seashore Sea Amazing Landscapes Cliffs Beach Cavern Wallpaper Surf

renatures.com/wp-content/uploads/2016/11/beaches-beach-sea-cavern-amazing-landscapes-cliffs-rocks-seashore-wallpaper-style.jpg

Di saat yang sama di tempat lain.

“Mort, dimana Nathalie?” tanya Simba, teman SMP kami.

“Peduli amat. Dia paling ke gazebo tebing. Belum puas aku jewer dia, setelah kagetin Roy sampe nangis tadi. Aku jadi nggak enak sama paman Andre.”

“Mort. Mort. Gitu-gitu juga adikmu lho. Kalian keluar dari lubang yang sama,” goda Deddy.

“Iya, dan kalian mirip banget. Ingat nggak kalian waktu lomba raja ratu SMP. Mereka bertukar posisi dan nggak ada yang menyadari,” cerita Shelly.

“Heehh. jangan ingatkan aku kejadian menggelikan itu,” pintaku dengan muka merah.

Mereka semua tertawa. Continue reading

Advertisements

Apanya yang jurusan lain lebih mudah? Apanya yang penelitian dia lebih gampang? Apanya yang sudah diteliti banyak orang tinggal salin? Yang ada aku hanya mencari pembenaran atas kesalahan yang kubuat. Aku menyalahkan semua orang padahal sudah jelas itu adalah kesalahanku sendiri. Aku malah lebih memilih untuk gelap mata. Seperti sekarang ini, aku malah mengungkapkan ketakberdayaanku disini.

Lalu sekarang apa? Tak ada lagi jalan mundur pun juga tak boleh berlama-lama jongkok di situ saja. Mau bikin alasan apa lagi? Jurusanku susah? Penelitianku belum banyak yang ngelakuin? Kehabisan referensi? Sudahlah nggak usah banyak alasan! Keep going and moving forward. Udah banyak waktu, tenaga, biaya dan semuanya yang dihabiskan selama ini. Udah! Nggak usah seandainya seandainya sebab itu nggak akan mengubah keadaanku juga. Memangnya aku bisa menjamin kalau dulu aku memilih jalan lain akan lebih baik daripada sekarang?

Sebenarnya bayak jalan yang terpampang begitu jelas dihadapanku. Jalan yang sudah jelas dapat membawaku ke tempat yang aku tuju hanya saja aku terlalu takut untuk megambilnya. Lebih terlalu malu karena kesalahaku di masa lalu. Ah, kenapa aku malah mencari pembenaran lagi. Tak ada gunanya.

Mungkin aku menganggap enteng masalah ini karena masih banyak sebayaku yang bernasib tak jauh denganku. Tapi bila aku terus menerus merasa santai maka aku tidak akan sadar bila kelak mereka akan melambaikan tangan mendahuluiku. Bahkan mereka-mereka yang selama ini aku remehkan. Mereka akan meninggalkanku dan megolokku dari jauh sana dari tempat yang seharusnya aku telah berada di sana.

Mau menangis? Untuk apa kalau setelah itu aku hanya meratap dan tak mau berusaha lagi. Aku punya Tuhan tetapi Dia juga tak akan begitu mengabulkan permintaanku jika aku tetap diam saja di hadapan-Nya. Tuhan tidak bekerja seperti itu. Mau mengabulkan gimana kalau aku masih sering melupakan-Nya? Aku yang malah sibuk mencari pembenaran atas diriku yang nyatanya Dia paling benar diantara semua kebenaran.

Waktu akan terus bergulir dan tanpa kusadari aku telah melakukan hal yang sia-sia selama ini. Kumohon aku tak mau seperti itu. Aku iri dengan mereka, ingin seperti mereka. Aku juga malu dengan mereka yang selalu memberiku semangat untuk segera mengakhiri ini semua. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya, kepalaku sudah buyar.

Bukan Milikku (Selesai)

PicsArt_10-11-10.14.01

timeinc.brightcove.com.edgesuite.net/rtmp_uds/293884104/201708/63/293884104_5534280418001_5534275413001-vs.jpg?pubId=293884104&videoId=5534275413001

“Kamu nggak apa-apa kan, Ram?”

“Ini udah lima kalinya kamu bertanya. Aku baik-baik sa–“ suara Rama terputus, dia menghembuskan napas panjang.

Sejenak lengang.

“Ram, kita udah enam tahun saling kenal. Sejak SMP kita selalu ikut organisasi yang sama. Aku mengerti dengan jelas mana wajah Rama yang baik-baik saja dan yang sedang kepikiran sesuatu. Kamu mungkin bisa menyembunyikannya dari orang lain tapi tidak dariku. Ayolah Ram, ceritalah. Tak biasanya kau selalu mengalihkan pembicaraan saat aku bertanya keadaanmu. Berarti ini masalah serius.”

“Nuri, kau memang hebat. Bisa dibilang kau cewek yang paling mengerti aku setelah ibuku.”

“Jadi ada apa? Jangan seenaknya mengganti topik pembicaraan!” Continue reading