Aku Suka Bulan Desember

en.people.cn/NMediaFile/2016/0405/FOREIGN201604050000000212960261989.jpg

Secercah cahaya mulai memasuki mata. Tamparan pipi mulai terasa. Kuat dan penuh amarah. Perut ditekan sekuat tenaga membuat muntah tapi tak kunjung keluar. Antara sadar dan tidak sayup-sayup kudengar suara kakak. Entah sumpah serapah apa yang dikatakannya tapi aku ingin Continue reading

Advertisements

Aku Suka Bulan Desember

Aku suka bulan Desember. Di penghujung tahun aku bisa menikmati semilir sejuknya angin muson yang membawa banyak uap air dari samudera. Rintik hujannya yang membawaku ke dalam kenangan-kenangan kelam masa lalu. Sorenya yang sepanas siang hari membasahkan baju membuatku ingin menceburkan diri ke sungai. Mendungnya yang membatalkan semua rencana untuk keluar rumah seakan menyuruh untuk tetap meringkuk di kamar. Paginya yang beraroma lembut menyapa hidung untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin. Serta malamnya yang tenang dan begitu cepat membawaku ke alam mimpi. Tapi, yang terpenting dari semua itu adalah berakhirnya seluruh kegiatan semester ganjil. Masa-masa sulit ujian akhir yang telah terlewati dan menyisakan panjatan doa untuk hasil yang terbaik. Continue reading

Bukan Milikku

“Kemarin kenapa kamu balik nggak nunggu aku dulu? Padahal udah kubeliin es campur di jalan,” tanya Rama di kelas keesokan harinya.

“Sorry, Ram. Kemarin beneran ditelfon sama mama,” jawab Nia berbohong.

“Nggak karena ada pasien yang lagi kritis, kan? Atau gara-gara aku nganter Nuri?” ejek Rama.

“Iya, aku cemburu!” seru Nia. Continue reading

Bukan Milikku

PicsArt_08-31-12.55.11

Source: danfinnen.com/wp-content/uploads/2013/10/tabletop-3453.jpg

Tenggat waktu yang diberikan Pak Hasyim selama tiga minggu membuat selama itu pula sepulang sekolah Nia harus berkunjung ke rumah Rama. Selama itu pula kedua remaja itu dapat saling mengerti satu sama lain. Yang tadinya kerja kelompok dihiasi saling ejek jurusan sekarang mereka berdua lebih Continue reading

Bukan Milikku

PicsArt_08-31-12.52.30

Source: www.askideas.com/media/72/Ice-cream-stick-craft-house.jpg

Jarak toko kelontong dengan rumah Rama tidak begitu jauh jadi mereka berdua hanya berjalan kaki. Menit-menit pertama sunyi tanpa obrolan. Rama hanya berjalan santai dan diikuti Nia dibelakang sembari menikmati lingkungan sekitar.

“Eh, Nia!” seru Rama, yang dipanggil menoleh.

“Kenapa sih kamu ngebet banget jadi dokter? Padahal nggak gampang kan masuknya? Udah gitu mahal lagi biayanya,” lanjutnya.

Nia tersenyum, “Gimana ya? Continue reading