Wawancara Kerja

Salim telah berdiri di depan gedung sebuah perkantoran dimana dia akan diwawancara. Dilihat dari tingginya kemungkinan bisa mencapai 30 lantai atau mungkin lebih, mengingat tempat wawancara berada di lantai 36. Sejenak menggeleng takjub, dirinya masih belum percaya bila akan bekerja di perusahaan yang cukup banyak diminati orang-orang. Akhirnya setelah menanti sekian lama, terombang-ambing dalam ketidakpastian dia dipanggil juga. Kakinya pun mulai melangkah mantap memasuki bangunan itu.

Banyak karyawan berpakaian eksekutif sesampainya dia di depan lift. Mereka juga menunggu angka penunjuk menurun menjadi satu. Sedikit mencuri dengar pembicaraan mereka, Salim mengulas senyum tipis. Dirinya bertanya-tanya akankah kelak topik bahasan dengan koleganya akan seperti itu. Kebanggaan pun muncul di dadanya.

TING!!!!!!

Begitu pintu terbuka keluarlah Continue reading

Advertisements

Kisah Mei

Mei melamun memperhatikan kalender. Dia masih terbayang soal April dan ceritanya. Sebentar lagi sahabatnya itu akan selesai bertugas dan digantikan olehnya bersamaan hari yang semakin mendekati akhir bulan. Kembali ke awal bulan saat April mulai bertugas menggantikan Mareta, dia bercerita bahwa gadis itu menghiburnya bila dia tak akan mengalami hal yang sama dengannya karena memang sudah jatahnya.

“Tenang, lagipula dia mungkin sudah bosan telah datang selama enam bulan kami bertugas? Yakinlah dia akan membiarkan saudaranya yang menggantikan,” begitu kata Mareta di penghujung tugasnya.

Namun, apa? Continue reading

Hasil gambar untuk a cup of coffee

commons.wikimedia.org/wiki/File:A_small_cup_of_coffee.JPG

Setelah beberapa detik penuh keheningan, Harun pun mulai membuka suara, “Kuharap kau tak sedang dikejar waktu, Maryam.”

Lelaki itu menopangkan dagunya santai.

“Sudahlah, tak perlu berbasa-basi! Aku tak punya waktu untuk meladeni orang sepertimu. Apalagi posisimu saat ini,” ucap si lawan bicara dengan ketus.

Bahkan gadis itu sama sekali tak menyentuh minuman yang dipesannya sendiri, meski si lelaki telah berpesan untuk tidak perlu khawatir dengan pembayarannya.

“Apa maumu?” lanjut gadis berkerudung itu, lantas menajamkan tatapannya.

Entah tak kuasa dengan binar di balik kacamata itu atau hanya sekadar mencari objek visual lain, Harun menoleh ke luar dan berkata, “Kau pasti sudah tahu.”

Sejenak menebak maksud pemuda di depannya, Maryam pun membalas penuh keyakinan, “Kalau begitu kau juga sudah tahu jawabannya, kan? Seharusnya kau tahu seperti apa aku, mengingat kita ini rival.”

Sedikit sensitif dengan kata terakhir, Harun menyeruput pesanan miliknya.

“Rival? Kurasa itu kata yang terlalu jahat untuk menyebut hubungan kita. Bagaimana kalau kan—-”

“Sekali lagi kau bicara ngalor-ngidul aku akan pergi.” potong perempuan itu dengan nada mengancam.

“Oke, baiklah,” cegah si pemuda melihat Maryam hendak beranjak.

“Aku ingin kau menghentikan tindakanmu,” lanjutnya kemudian.

Memasang wajah heran, gadis itu bertanya, “Apa maksudmu?”

“Harusnya akulah yang bertanya, apa maksudmu?” balas Harun menatapnya dengan serius lalu melanjutkan, “Kau sengaja menjatuhkanku dengan orasi emansipasimu itu hanya karena lebih banyak siswi di sekolah kita?”

Maryam pun mengubah mimik yang tadinya terkejut–entah dengan suara atau tatapan itu, menjadi meremehkan.

“Harun, Harun. Kukira kau sudah lama berkecimpung dengan politik. Apa kau tak tahu apa yang disebut strategi pemenangan? Aku pun juga tak akan sesensi ini kalau kau menjelek-jelekkan aku atau sejenisnya.”

Tak ayal lontaran itu memerahkan wajah si lelaki menerbitkan senyum tipis di bibir Maryam.

“Di samping itu, sebenarnya kenapa kau ikut masuk kompetisi ini?” tanya Harun mengalihkan topik.

“Salah satunya adalah menjatuhkanmu,” jawab gadis itu dengan percaya diri lantas menambahkan, “Sisanya, kau bisa dengar pidatoku tadi pagi.”

Rupanya pemuda itu tak gamang lagi, dia kembali ke sikapnya yang tenang.

“Perlu kau ketahui kalau masih ada calon lain yang harus kau khawatirkan, Maryam. Dan kau tak akan dapat apa-apa dengan modal emansipasimu itu.  Kau boleh beremansipasi tapi kau tak dapat lari dari kodratmu! Kau pikir semua orang mau dipimpin oleh wanita?”

“APA!”

Beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka berdua, bukan hanya karena suara yang sedikit lantang tapi gebrakan meja oleh tangan gadis yang kini bermuka padam itu.

“Sekarang kau punya agama, kan? Kau belajar agama, kan? Agama kita sama, kan? Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan dengan derajat yang sama, kau tahu!”

Maryam sudah tak mempertimbangkan lagi etika sosial apalagi dengan manusia di depannya yang memberinya senyum penuh kemenangan.

“Ya aku tahu dan sepertinya kau harus belajar lebih banyak lagi karena dibagian lain aku pernah membaca bahwa laki-laki diciptakan untuk memimpin kaum wanita, bukan sebaliknya. Kau boleh berbangga dengan hak emansipasimu itu tetapi kau juga harus melaksanakan kewajiban yang mengiringinya.”

“Cukup! Sudah kuduga pembicaraan ini tak ada gunanya,” ucap Maryam kemudian berlalu pergi meninggalkan Harun yang tersenyum sinis di belakangnya.

Meneguk seruputan terakhir pemuda itu membatin, ku kira dia akan bawa-bawa RA Kartini, syukrulah dia menyerah, satu orang sudah tumbang sisa tiga lagi, kau bilang aku tak tahu strategi? justru aku sangat paham itu.

“Waiter!” panggil Harun meminta tagihan masih dengan senyum liciknya.

 

Di tengah hari yang panas aku menjajakan mochi kacang daganganku. Banyak yang mengacuhkanku tapi tak sedikit yang menolaknya dengan senyum. Satu dua memutuskan membeli lebih karena merasa kasihan melihat penampilanku. Di zaman yang serba modern ini mungkin sedikit orang yang tertarik dengan makanan tradisional bahkan hampir tidak ada. Padahal kalau mereka mencicip satu mochi saja akan Continue reading

Pernah nggak sih kalian terhimpit dalam dua situasi yang saling berlawanan yang memaksa kalian untuk menjadi dua orang yang berbeda. Itulah yang kualami sekarang. Ibarat gembok yang saling terkunci yang menahanku untuk terbebas darinya. Kalau dalam sistem operasi namanya deadlock. Paksaan dari rumah yang tak sabar memintaku agar segera mandiri dan paksaan dari kampus yang membuatku lebih lama menyelesaikan studi. Kini aku sadar bahwa otak ini memang sudah mencapai batasnya. Paper, penelitian dan segala tetek bengeknya yang membundetkan syaraf-syaraf otak ditambah cibiran keluarga yang membandingkanku dengan sebayaku yang telah sukses membeli motor sendiri dan mempunyai tabungan berjuta-juta hasil kerjanya di tempat pembayaran pajak semakin membuat kinerja syaraf pusat mencapai pada batasnya. Tentu aku tak boleh keluar begitu saja setelah apa yang kumulai tiga tahun lalu, begitu banyak duit yang telah mengalir dari pundi-pundi orang tuaku. Aku tak tahu apa yang terjadi kalau melakukan hal itu, paling parah diusir mungkin. Orang-orang akademik juga tidak tahu dan sama sekali tidak mau tahu dengan keadaanku ini, bagi mereka yang penting aku bisa membuat  puas dengan hasilku menimba ilmu disini. Oke sudah cukup meratapnya. Kembali bergemul pada tugas-tugas akhir yang menumpuk.

Apanya yang jurusan lain lebih mudah? Apanya yang penelitian dia lebih gampang? Apanya yang sudah diteliti banyak orang tinggal salin? Yang ada aku hanya mencari pembenaran atas kesalahan yang kubuat. Aku menyalahkan semua orang padahal sudah jelas itu adalah kesalahanku sendiri. Aku malah lebih memilih untuk gelap mata. Seperti sekarang ini, aku malah mengungkapkan ketakberdayaanku disini.

Lalu sekarang apa? Tak ada lagi jalan mundur pun juga tak boleh berlama-lama jongkok di situ saja. Mau bikin alasan apa lagi? Jurusanku susah? Penelitianku belum banyak yang ngelakuin? Kehabisan referensi? Sudahlah nggak usah banyak alasan! Keep going and moving forward. Udah banyak waktu, tenaga, biaya dan semuanya yang dihabiskan selama ini. Udah! Nggak usah seandainya seandainya sebab itu nggak akan mengubah keadaanku juga. Memangnya aku bisa menjamin kalau dulu aku memilih jalan lain akan lebih baik daripada sekarang?

Sebenarnya bayak jalan yang terpampang begitu jelas dihadapanku. Jalan yang sudah jelas dapat membawaku ke tempat yang aku tuju hanya saja aku terlalu takut untuk megambilnya. Lebih terlalu malu karena kesalahaku di masa lalu. Ah, kenapa aku malah mencari pembenaran lagi. Tak ada gunanya.

Mungkin aku menganggap enteng masalah ini karena masih banyak sebayaku yang bernasib tak jauh denganku. Tapi bila aku terus menerus merasa santai maka aku tidak akan sadar bila kelak mereka akan melambaikan tangan mendahuluiku. Bahkan mereka-mereka yang selama ini aku remehkan. Mereka akan meninggalkanku dan megolokku dari jauh sana dari tempat yang seharusnya aku telah berada di sana.

Mau menangis? Untuk apa kalau setelah itu aku hanya meratap dan tak mau berusaha lagi. Aku punya Tuhan tetapi Dia juga tak akan begitu mengabulkan permintaanku jika aku tetap diam saja di hadapan-Nya. Tuhan tidak bekerja seperti itu. Mau mengabulkan gimana kalau aku masih sering melupakan-Nya? Aku yang malah sibuk mencari pembenaran atas diriku yang nyatanya Dia paling benar diantara semua kebenaran.

Waktu akan terus bergulir dan tanpa kusadari aku telah melakukan hal yang sia-sia selama ini. Kumohon aku tak mau seperti itu. Aku iri dengan mereka, ingin seperti mereka. Aku juga malu dengan mereka yang selalu memberiku semangat untuk segera mengakhiri ini semua. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya, kepalaku sudah buyar.

The Most Beautiful Word

thekidwhisperer.wordpress.com

“Ayo Bony, Sayang. Salaman sama Om,” suruh ibunya.

Dia agak-agak takut menyambut tanganku yang sedari tadi mengarah padanya. Tak lupa kusunggingkan senyum lebar-lebar.

“Maaf lahir batin, Om. Bilang gitu, mana mulutnya? Hmmm, dasar anak ibu pemalu,” ucap kakakku saat dia menyalami tanganku dan malu-malu menatapku.

Dia kembali lagi bersembunyi di belakang ibunya. Aku dan kakak dibuat tersenyum dengan tingkahnya. Anak itu bernama Bony baru mau masuk SD Agustus depan. Anaknya memang jarang bicara terlebih dengan orang yang baru baginya. Sebenarnya aku tidak begitu baru sih, hanya Continue reading