Wawancara Kerja

Salim telah berdiri di depan gedung sebuah perkantoran dimana dia akan diwawancara. Dilihat dari tingginya kemungkinan bisa mencapai 30 lantai atau mungkin lebih, mengingat tempat wawancara berada di lantai 36. Sejenak menggeleng takjub, dirinya masih belum percaya bila akan bekerja di perusahaan yang cukup banyak diminati orang-orang. Akhirnya setelah menanti sekian lama, terombang-ambing dalam ketidakpastian dia dipanggil juga. Kakinya pun mulai melangkah mantap memasuki bangunan itu.

Banyak karyawan berpakaian eksekutif sesampainya dia di depan lift. Mereka juga menunggu angka penunjuk menurun menjadi satu. Sedikit mencuri dengar pembicaraan mereka, Salim mengulas senyum tipis. Dirinya bertanya-tanya akankah kelak topik bahasan dengan koleganya akan seperti itu. Kebanggaan pun muncul di dadanya.

TING!!!!!!

Begitu pintu terbuka keluarlah Continue reading

Advertisements
Hasil gambar untuk a cup of coffee

commons.wikimedia.org/wiki/File:A_small_cup_of_coffee.JPG

Setelah beberapa detik penuh keheningan, Harun pun mulai membuka suara, “Kuharap kau tak sedang dikejar waktu, Maryam.”

Lelaki itu menopangkan dagunya santai.

“Sudahlah, tak perlu berbasa-basi! Aku tak punya waktu untuk meladeni orang sepertimu. Apalagi posisimu saat ini,” ucap si lawan bicara dengan ketus.

Bahkan gadis itu sama sekali tak menyentuh minuman yang dipesannya sendiri, meski si lelaki telah berpesan untuk tidak perlu khawatir dengan pembayarannya.

“Apa maumu?” lanjut gadis berkerudung itu, lantas menajamkan tatapannya.

Entah tak kuasa dengan binar di balik kacamata itu atau hanya sekadar mencari objek visual lain, Harun menoleh ke luar dan berkata, “Kau pasti sudah tahu.”

Sejenak menebak maksud pemuda di depannya, Maryam pun membalas penuh keyakinan, “Kalau begitu kau juga sudah tahu jawabannya, kan? Seharusnya kau tahu seperti apa aku, mengingat kita ini rival.”

Sedikit sensitif dengan kata terakhir, Harun menyeruput pesanan miliknya.

“Rival? Kurasa itu kata yang terlalu jahat untuk menyebut hubungan kita. Bagaimana kalau kan—-”

“Sekali lagi kau bicara ngalor-ngidul aku akan pergi.” potong perempuan itu dengan nada mengancam.

“Oke, baiklah,” cegah si pemuda melihat Maryam hendak beranjak.

“Aku ingin kau menghentikan tindakanmu,” lanjutnya kemudian.

Memasang wajah heran, gadis itu bertanya, “Apa maksudmu?”

“Harusnya akulah yang bertanya, apa maksudmu?” balas Harun menatapnya dengan serius lalu melanjutkan, “Kau sengaja menjatuhkanku dengan orasi emansipasimu itu hanya karena lebih banyak siswi di sekolah kita?”

Maryam pun mengubah mimik yang tadinya terkejut–entah dengan suara atau tatapan itu, menjadi meremehkan.

“Harun, Harun. Kukira kau sudah lama berkecimpung dengan politik. Apa kau tak tahu apa yang disebut strategi pemenangan? Aku pun juga tak akan sesensi ini kalau kau menjelek-jelekkan aku atau sejenisnya.”

Tak ayal lontaran itu memerahkan wajah si lelaki menerbitkan senyum tipis di bibir Maryam.

“Di samping itu, sebenarnya kenapa kau ikut masuk kompetisi ini?” tanya Harun mengalihkan topik.

“Salah satunya adalah menjatuhkanmu,” jawab gadis itu dengan percaya diri lantas menambahkan, “Sisanya, kau bisa dengar pidatoku tadi pagi.”

Rupanya pemuda itu tak gamang lagi, dia kembali ke sikapnya yang tenang.

“Perlu kau ketahui kalau masih ada calon lain yang harus kau khawatirkan, Maryam. Dan kau tak akan dapat apa-apa dengan modal emansipasimu itu.  Kau boleh beremansipasi tapi kau tak dapat lari dari kodratmu! Kau pikir semua orang mau dipimpin oleh wanita?”

“APA!”

Beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka berdua, bukan hanya karena suara yang sedikit lantang tapi gebrakan meja oleh tangan gadis yang kini bermuka padam itu.

“Sekarang kau punya agama, kan? Kau belajar agama, kan? Agama kita sama, kan? Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan dengan derajat yang sama, kau tahu!”

Maryam sudah tak mempertimbangkan lagi etika sosial apalagi dengan manusia di depannya yang memberinya senyum penuh kemenangan.

“Ya aku tahu dan sepertinya kau harus belajar lebih banyak lagi karena dibagian lain aku pernah membaca bahwa laki-laki diciptakan untuk memimpin kaum wanita, bukan sebaliknya. Kau boleh berbangga dengan hak emansipasimu itu tetapi kau juga harus melaksanakan kewajiban yang mengiringinya.”

“Cukup! Sudah kuduga pembicaraan ini tak ada gunanya,” ucap Maryam kemudian berlalu pergi meninggalkan Harun yang tersenyum sinis di belakangnya.

Meneguk seruputan terakhir pemuda itu membatin, ku kira dia akan bawa-bawa RA Kartini, syukrulah dia menyerah, satu orang sudah tumbang sisa tiga lagi, kau bilang aku tak tahu strategi? justru aku sangat paham itu.

“Waiter!” panggil Harun meminta tagihan masih dengan senyum liciknya.

Maple Love

An old writing of me, enjoy! 😀

Arif Ardiasmono

Halo. Selamat berjumpa. Ketemu lagi deh dengan Cerpen si Tory. Berhubung ini bulan September dan di belahan bumi sebelah utara sedang mengalami musim gugur jadi tema-nya tentang musim gugur aja ya. Ya udah daripada kelamaan simak aja nih cerpen.

Maple Love

Pertengahan September di salah satu tempat di belahan bumi utara, matahari tak sepanas dulu, udara bertambah dingin, pepohonan mengubah warna daunnya menjadi merah kecoklatan, angin sibuk menerbangkan daun-daun layu yang membuat jalanan menjadi kotor, apel-apel yang telah matang menjatuhkan diri dari tangkainya, labu-labu di ladang berganti kulit menjadi jingga kecoklatan, para hewan sibuk mengumpulkan persediaan makanan untuk usim dingin, bebek-bebek liar mulai berpindah terbang ke selatan, dan pohon-pohon maple siap untuk diambil sirupnya karena musim gugur telah tiba.

View original post 2,431 more words

Rima Kenapa?

Hasil gambar untuk bicycle for girl

kevinmcallisterreviews.blogspot.com/2013/05/bikestar-406cm-16-inch-kids-children.html

“Rima kenapa, sih? Kok dari tadi cemberut aja?” tanyaku pada keponakanku yang kecil dan manis itu. Yang ditanya hanya menatapku tanpa berkata-kata kemudian kembali lagi memandangi halaman dengan tatapan kosong. Kuambil inisiatif untuk duduk di sampingnya, tak biasanya dia menekuk wajahnya berhari-hari. Apa gerangan yang mengambil keceriaan dan senyumnnya yang selalu terkembang itu? Aku bertanya-tanya. Aku senggol dia, “Eh, ditanyain omnya kok diem aja?”

Akhirnya dia berbicara, Continue reading

Perayaan Kecil

Source: gagacenter.com

Terlihat seorang laki-laki muda memasuki toko kue. Dia nampak gugup sewaktu melangkah membuka pintu toko membunyikan gemerincing lonceng diatasnya, sepertinya ini kali pertama lelaki bertubuh tambun itu masuk bakery. Begitu beberapa langkah masuk semakin ke dalam, mulai terasa hawa pendingin ruangan serta semerbak bau aneka roti yang baru saja keluar panggangan. Agak lama dia menikmati suasana yang berkebalikan dengan jalanan di luar kemudian mengarahkan pandang ke depan dan didapatinya Continue reading

Permulaan

cover cerpen

Bau khas etanol menyeruak di ruangan yang serba putih. Ranjang dorong banyak teronggok di sudut ruangan. Rak-rak terpasang di belakang meja jaga penuh dengan berbagai macam obat seperti formaldehida dan rempah-rempah herbal untuk membalsam. Di dalam ruangan itu berbaris rapi laci-laci pengawet bernomor sesuai dengan pemiliknya yang tercatat di buku administrasi. Di samping pintu yang menghubungkan dengan ruangan sebelahnya, berdiri tegak lemari besar yang menyimpan gulungan kain kafan, tumpukan lipatan tuksedo, botol wewangian, toples untuk abu kremasi, dan peralatan perawatan jenazah lainnya. Bila masuk ke ruangan sebelah dapat terlihat Continue reading