Peristiwa Nuzulul Quran

starry sky in timelapse mode

Photo by Şahin Sezer Dinçer on Pexels.com

Belakangan beliau merasa hatinya gundah gulana. Seolah ada sesuatu yang akan terjadi namun belaiau sendiri pun masih ragu apakah hanya sebuah perasaan yang seharusnya dianggap lalu atau memang akan ada kejadian yang teramat penting. Beliau pun akhirnya mohon diri pada sang istri untuk menjauh sejenak supaya mendapatkan ketenangan hati. Tak ingin melihat suaminya terus menerus dirundung perasaan tak nyaman, si istri dengan ikhlas ditinggal selama beberapa waktu bahkan ikut mempersiapkan perbekalan. Beliau pamit untuk menenangkan diri di sebuah gua tak jauh dari kota. Dengan perbekalan yang cukup beliau pun mulai berangkat dengan berjalan kaki pada malam hari sedikit lebih lama setelah sang surya menghilang ke peraduannya.

Menjelang fajar beliau sampai di gua yang dijadikan tujuan. Dengan air yang dibawa sebelumnya beliau menyucikan diri sebelum menguluk salam dan memasuki gua yang gelap tersebut. Beliau menghadapkan diri ke arah kubus batu hitam di tengah kota lantas mulai berdoa serta berkeluh kesah pada Sang Penguasa Kehidupan. Apa sejatinya yang memunculkan perasaan gelisah ini?

Terhitung lebih dari enam kali pergantian malam dan siang beliau berada dalam gua itu menghindarkan diri dari kehidupan dunia untuk berkontemplasi. Hingga pada suatu malam yang diberkahi, beliau merasakan ada kehadiran sesosok makhluk namun beliau sendiri tak dapat melihat seperti apakah wujudnya. Ada tiga kali beliau menyuarakan, “Siapa itu?” Siapa tahu itu seseorang yang kebetulan lewat tetapi tak ada balasan. Beliau semakin khawatir sebab kehadiran makhluk itu semakin terasa. Beberapa butir keringat bermunculan membasahi wajah beliau. Agak lama berada dalam keadaan yang sangat tak nyaman itu akhirnya beliau mendengar bisikan. Sebuah bisikan merdu yang mengalahkan kicauan burung murai di pagi hari. Suara yang sebenarnya begitu menenangkan tetapi karena kekhawatiran yang terlalu kental menyelimuti beliau menjadi sedikit takut. Bisikan itu terus menerus menyuruh beliau untuk membaca. “Bacalah! Bacalah! Bacalah!” begitu suara bisikan itu. Beliau tak tahu harus melakukan apa selain menjawab sejujurnya bahwa beliau tak dapat membaca. Sadar, beliau hanya seorang pedagang dan penggembala sebelumnya yang tidak begitu banyak mendapatkan pelajaran tentang huruf dan aksara-aksara. Perasaan takut kini sempurna mengungkung, hati beliau terasa semakin berat semakin seringnya bisikan itu menyuruhh beliau membaca. Akhirnya demi lepas dari perasaan tak menyenangkan ini beliau memutuskan untuk meninggalkan gua tersebut dan berlari secepat kaki beliau bisa menuju ke rumah dimana sang istri menunggu dengan cemas setiap malam.

Di rumah, sang istri merasa lega mendengar kedatangan beliau akan tetapi kelegaan itu langsung menguap melihat suaminya begitu kelelahan dengan keringat yang menetes deras di sekujur badan. Wanita baik itu pun menuntun beliau menuju kamar dan menyelimuti beliau yang terlihat gemetar dengan selimut berbahan bulu domba. Dia membiarkan suaminya tenang hingga keesokan harinya. Dia membawakan segelas air segar ketika mendapati beliau telah terbangun. Bermaksud meringankan perasaan, sang istri menanyakan perihal kejadian semalam. Beliau menceritakan pengalaman sepanjang malam selengkap-lengkapnya tanpa menambah cerita lain atau menyembunyikan bagian lainnya. Selesai mendengar pernyataan beliau, wanita saleh itu langsung mendapati dirinya diselimuti keterkejutan yang amat banyak. Dia lalu membawa beliau kepada seseorang yang dikenalnya yang lebih mengerti permasalahan ini. Pria itu adalah seorang ahli ibadah yang begitu dalam mempelajari agama.

Di rumah si pria, beliau menceritakan sama persis dengan apa yang beliau sampaikan pada sang istri di rumah dan reaksi pria itu sama dengan istri beliau bahkan lebih lagi. Pria tua itu lalu memeluk beliau dengan air mata kebahagiaan dan penyesalan akan umurnya yang telah sangat renta. Ahli ibadah itu menceritakan apa yang diketahuinya dan mengatakan bahwa apa yang beliau alami itu adalah pertanda yang baik, sangat baik bahkan. Pria itu langsung meminta beliau untuk kembali ke gua tempat dimana pertemuan sakral itu terjadi dan menirukan apa yang makhluk itu bisikkan. Pria itu mengatakan bila makhluk itu adalah utusan yang sangat mulia yang jua diutus kepada orang-orang terpilih zaman dahulu Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa untuk menyampaikan wahyu secara langsung dari Ilah Yang Maha Kuasa.

Beliau—manusia terpilih itu, mendatangi gua untuk kali keduanya dengan hati yang lebih mantap. Di dalam beliau berdoa sama seperti yang beliau lakukan sebelumnya. Ketika malam tiba beliau kembali merasakan kehadiran sosok tanpa wujud dan mendengar bisikan yang sama “Bacalah.” Sesuai dengan anjuran pria tua itu, beliau menirukannya. Bisikan itu pun muncul lagi dengan perkataaan lain yang lebih indah, “Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakan”. Pria tua itu benar, jika beliau menirukan bisikan itu, beliau akan mendengar bisikan lain yang lebih indah. Beliau terus menirukan hingga lima perkataan itu terngiang dan menempel begitu lekat di kepala. Akhirnya sosok itu memperkenalkan diri dan seperti apa yang dikatakan si ahli ibadah bila makhluk mulia itu tidak lain dan tidak bukan adalah utusan Sang Pencipta, Jibril Alaihi Salam. Dia menyampaikan tujuannya diutus kepada beliau untuk menjadi pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada seluruh umat manusia di dunia semenjak hari itu hingga hari yang ditentukan oleh Al Ilah sendiri.

Kelak kelima wahyu permulaan itu akan diikuti oleh wahyu-wahyu lain yang akan dijadikan pedoman bagi seluruh manusia di dunia sampai hari yang kita tak tahu itu kapan.

—END—

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s