Graduasi

achievement cap celebration ceremony

Photo by Pixabay on Pexels.com

Pelataran dipenuhi mahasiswa yang tengah berkumpul menunggu giliran memasuki gedung. Baju hitam kebesaran, topi berwarna senada dengan bandul kecil tergantung di depan, samir yang terkalung dileher menghiasi hampir semua anak muda di situ. Beberapa wanita memoles wajahnya agar tampak elok saat tampil di hadapan berribu pasang mata di dalam nanti.

Pagi itu atmosfer diselingi rasa keceriaan dan kepuasan akan suatu pencapaian. Tak ada kesedihan ataupun duka, tidak di hari yang indah itu. Begitu pula untuk Aliza, dia tak boleh menunjukkan sedikit pun raut itu. Sebisa mungkin dia harus tetap tersenyum dan menikmati acara sama seperti rekan-rekannya, meski tidak semua. Ah, lagi-lagi pikirannya menuju ke situ. Tak boleh, tak boleh. Hari ini adalah hari bahagianya. Hari yang hanya datang sekali seumur hidupnya–mungkin.

Mereka semua tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya saat ini. Ayah, ibu, dan semua teman seangkatannya bahkan beberapa civitas akademik di kampusnya mengetahui hal itu. Namun, dirinya tak ingin menjadi satu-satunya oknum yang menyebarkan perasaaan mendung di hari yang cerah ini. Jadi dia berusaha untuk tetap tersenyum dan menikmati serangkaian acara wisudanya.

Sang surya mulai berterik namun para purnasiswa masih belum diijinkan untuk memasuki ruangan. Mereka dibiarkan ‘dijemur’ di halaman. Luntur sudah riasan kebanggaan para gadis terhapus oleh cucuran keringat yang menderas. Mulai pula terdengar gerutu hingga cacian khas anak muda. Tak lelaki tak perempuan mengecam tindakan panitia acara yang menelantarkan para tamu istimewa, bintang utama. Untungnya Aliza sendiri hanya menyapukan bedak tipis sekadar agar tak dibilang pucat. Bedak pemberian seseorang yang Aliza janji akan memakainya di hari kelulusan. Dan dia menepatinya. Tetapi seseorang yang berjanji pula untuk melihatnya memakai riasan itu tidak menepati janjinya.

Janji untuk memasuki pintu gedung wisuda–yang sarat akan makna, bersama pun jua tak ditepatinya. Dalam arakannya, Aliza melangkah melewati pintu kayu cokelat, besar nan megah. Ada unsur lawas yang kental namun sekaligus tak lekang oleh waktu. Di pintu inilah setiap mahasiswa dilewatkan sebelum dilepaskan ke dunia luar bagai merpati ke alam bebas. Kini dia tahu bagaimana rasanya. Dahulu dia bertanya-tanya ketika melihat kakak-kakak tingkat yang diwisuda di gedung yang sama dengan pakaian yang sama. Salah satu yang dia jadikan motivasi selama empat tahun menimba ilmu. Seandainya semua berjalan lebih baik, batinnya. Ah, mana mungkin seperti itu, kali ini benaknya yang lebih logis.

Di dalam gedung yang menurutnya bisa memuat lebih dari sepuluh ribu orang itu telah tertata dengan rapi kursi-kursi lengkap dengan emblem nama wisudawan di masing-masingnya. Di pinggir kiri kanan telah duduk dengan khidmat para orang tua, wali atau siapa pun yang mau menikmati acara sakral ini. Aliza yakin ada mama dan papanya diantara lautan manusia itu tapi cukup sulit mencari wajah orang sambil berjalan. Di bagian depan ruangan dibangun panggung besar yang langsung menghadap pemirsa, Aliza mengira pasti di situlah orang-orang penting dalam acara akan menempatkan diri. Tak kalah pamor di sudut kiri depan penonton, berdiri panggung yang lebih kecil dengan beberapa macam instrumen teronggok rapi di atasnya. Sudah bisa ditebak jenis hiburan apa yang akan disuguhkan kepada audiens nanti. Keseluruhan tak mengecewakan hanya penerangan yang terlalu silau mengganggu penglihatan, menurut Aliza. Ditambah sirkulasi udara yang hanya menggunakan kipas angin, wow sepertinya dia harus mengurungkan memberi nilai sempurna untuk ruangan ini.

Walau tak nyaman mau tak mau dia harus mengikuti seluruh rangkaian acara yang kini telah dimulai. Ruangan pun menyenyap ketika moderator mengelukan salam pembuka. Dari suaranya yang khas Aliza menduga bila si pemandu jalannya kegiatan kali ini adalah seorang pria berumur dengan jam terbang moderator yang sudah tinggi. Entah darimana muncul bayangan kepala botak, kacamata formal dan kumis yang setengah memutih membayangkan pemilik suara itu. Bapak itu membacakan susunan acara yang sepertinya akan berjalan sangat lama. Tak apa seandainya ada yang bisa dia ajak bicara sepanjang acara berlangsung hanya saja lelaki di sebelahnya bukan berasal dari jurusannya dan di sebelah lain adalah kakak tingkat yang sudah sibuk ngobrol dengan rekan di sebelahnya, membicarakan riasan. Heuh.

Tak lama kemudian setelah bapak moderator membuka acara dan mempersilakan para petinggi kampus dari masing-masing fakultas menempatkan diri acara dilanjutkan dengan menyanyi. Semua orang di ruangan diminta berdiri untuk melantunkan lagu wajib setiap acara kampus. Apalagi kalau bukan lagu kebangsaan dan mars kampus diiringi dengan orkestra dan paduan suara mahasiswa. Alunan nada menghiasi seluruh ruangan mendirikan bulu kuduk siapa pun yang menghayatinya. Aliza tak menyangka efek lagu bisa semenakjubkan ini. Yang paling harmonis adalah perpaduan permainan instrumen oleh orkestra dan senandung syahdu dari suara-suara surgawi mahasiswa anggota paduan suara.

Selanjutnya, sosok paling penting di kampus tercinta dipersilakan untuk memberikan sambutan. Bapak rektor yang kebetulan belum lama ini dilantik sebagai puncak pimpinan kampus melangkah menuju podium dan mulai menyambut baik wisudawan maupun tamu undangan.

“Dan kami juga cukup berduka atas kejadian yang menimpa salah satu mahasiswa kami.”

Demikian sepenggal ujaran dari pak rektor yang mampu melebarkan kelopak Aliza memunculkan prasangka-prasangka. Darimana beliau tahu? Siapa yang memberi tahu? Kenapa beliau sendiri yang malah membawa awan mendung itu padahal Aliza sudah berusaha mati-matian untuk menghalaunya bahkan jauh-jauh waktu sebelum wisuda dimulai. Curang. Tak sadar bedak tipisnya telah luntur oleh air mata yang dia sendiri tak ingin menunjukkannya pada semua orang tetapi ucapan pak rektor dalam pidatonya cukup untuk menghadirkan kembali memori-memori yang telah ditimbunnya dalam-dalam.

Lelaki itu berjanji akan membersamai wisuda dengan Aliza. Lelaki itu yang telah memberi gadis itu dorongan setahun belakangan ini untuk mengakhiri apa yang telah dia mulai. Lelaki itu yang telah menorehkan kisah dalam buku harian hidupnya sejak mereka bertemu. Namun, tak ada siapa pun di dunia ini yang dapat mengalahkan takdir atau mengubahnya. Kenyataan pahit memang datang belakangan setelah ilusi manis yang memabukkan.

Cepat-cepat dia hapus kecengengan di wajahnya sebelum namanya dipanggil oleh moderator untuk menerima ijazah. Aliza tak ingin mencetak pose jelek di foto kenangan wisuda saat menerima ijazah dan menjabat salam hangat dari pak dekan. Dia harus memberikan senyuman terbaik seperti yang diinginkan lelaki itu. Yah, wisuda memang bukan waktunya untuk bersedih. Dia juga harus menepati janji pada lelaki itu untuk selalu tersenyum untuknya.

—END—

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s