Wawancara Kerja

Salim telah berdiri di depan gedung sebuah perkantoran dimana dia akan diwawancara. Dilihat dari tingginya kemungkinan bisa mencapai 30 lantai atau mungkin lebih, mengingat tempat wawancara berada di lantai 36. Sejenak menggeleng takjub, dirinya masih belum percaya bila akan bekerja di perusahaan yang cukup banyak diminati orang-orang. Akhirnya setelah menanti sekian lama, terombang-ambing dalam ketidakpastian dia dipanggil juga. Kakinya pun mulai melangkah mantap memasuki bangunan itu.

Banyak karyawan berpakaian eksekutif sesampainya dia di depan lift. Mereka juga menunggu angka penunjuk menurun menjadi satu. Sedikit mencuri dengar pembicaraan mereka, Salim mengulas senyum tipis. Dirinya bertanya-tanya akankah kelak topik bahasan dengan koleganya akan seperti itu. Kebanggaan pun muncul di dadanya.

TING!!!!!!

Begitu pintu terbuka keluarlah berjubel manusia. Alat transpor itu pun digantikan dengan orang yang masuk–juga tak kalah banyak. Bahkan Salim hampir tak dapat tempat saking penuhnya. Batinnya, sudah mirip KRL saja malah lebih parah. Diantara desakan badan orang lain, Salim mengutuki angka penunjuk yang bergerak lamban. Untungnya dia bukan klaustrofob. Untungnya lagi semakin naik semakin berkurang pengguna fasilitas itu. Dia sedikit bernapas lega. Hingga sampai di lantai yang dia tuju, lift hanya menyisakan beberapa staf.

Begitu keluar saraf olfaktorinya mencium uaran aroma apel. Sekali lagi dia menghirup udara banyak-banyak untuk menenangkan dirinya yang mulai terserang kegugupan. Agaknya apa yang dilakukannya cukup menarik perhatian resepsionis yang sedang berjaga. Wanita bersanggul itu pun menyapanya.

“Permisi Bapak, ada yang bisa saya bantu?”

Salim menoleh dan memberikan senyum gagapnya.

“Eng … oh .. ya … Saya mau interview dimana ya?”

“Tunggu sebentar ya Pak,” ujarnya dan resepsionis ber-nametag Medina itu lantas mengangkat gagang telepon menghubungi seseorang.

Kemudian, “Silakan Bapak sudah ditunggu di ruang U36B, nanti bapak ke …,” Medina pun memberikan arahan pada Salim untuk menuju ruangan yang dimaksud.

Laki-laki itu pun melangkah meninggalkan si resepsionis. Sedikit jengkel di umurnya yang masih dua puluhan disamakan dengan bapak-bapak tetapi tertutupi oleh rasa gugup yang semakin kental saja. Di sela langkahnya Salim memperhatikan bagian gedung dengan saksama. Banyak ruangan bersekat di dalam dengan plat divisi di pintu luarnya. Sepintas terlihat kesibukan orang-orang di sana. Hal yang juga akan dilakukannya kelak–kalau diterima. Hampir tersesat, akhirnya dia menemukan ruangan yang ditujunya. U36B dengan plat di pintu bertuliskan HRD.

Sekali lagi Salim menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Tak lupa mulutnya merapalkan doa agar dimudahkan dalam urusannya kali ini. Sekeras apa pun dia berusaha jika Tuhan tidak berkehendak, selesai sudah. Itulah hal yang dia yakini. Tangan kanannya pun terangkat mengetuk pintu, pelan tapi mantap. Tak kunjung dipersilakan laki-laki itu pun memutuskan untuk masuk sendiri. Di dalam dia menemui resepsionis yang lain yang menanyakan keperluannya. Menjawab seadanya wanita yang sepertinya lebih tua dari resepsionis di depan tadi pun menyuruhnya menunggu bersama calon karyawan yang lain di ujung ruangan.

Di tempat itu telah ada dua tiga orang yang bernasib sama seperti Salim, menunggu dalam kegelisahan. Tak ingin memperparah kegugupan yang telah muncul sedari tadi dia memutuskan untuk berbincang dengan mereka, sekaligus sebagai penghabis waktu yang rasa-rasanya berjalan bak keong sawah. Benar saja, hingga gilirannya datang Salim sedikit dapat melupakan kecemasannya. Sebelum masuk ke ruang interview dia memanjatkan doa sekali lagi.

Dalam ruangan itu telah duduk seorang pria mungkin hampir 40 tahun. Wajahnya tegas cukup mengintimidasi tetapi atmosfir berubah santai saat suaranya yang ramah mempersilakan Salim untuk duduk. Sejenak memperhatikan, ruangan si pewawancara tak begitu luas tetapi cukup untuk menerima dua tiga tamu. Cat dindingnya berwarna kalem dan tak terlalu banyak benda-benda yang menggantung di sana, hanya beberapa penghargaan dan foto yang dipajang di rak kaca dengan beberapa buku di dalamnya yang tersusun rapi. Perabotnya juga tak begitu banyak, agaknya bapak ini punya selera yang minimalis, menurut Salim.

“Bisa kita mulai?” ucap pria itu mengalihkan perhatian Salim yang dibalasnya dengan anggukan sopan.

Wawancara berjalan santai namun tetap serius. Sedikit tawa pun kadang menghiasi. Ternyata tidak sesulit yang dibayangkannya, Salim sudah cukup belajar jadi dia tinggal menjawab seadanya, sejujurnya dan sekiranya memang jawaban yang diharapkan. Keyakinannnya untuk bergabung dengan perusahaan impiannya pun bertambah berkali lipat. Hingga tiba pada bagian yang menurutnya sedikit sensitif kala bapak pewawancara menjelaskan sistem kerja pada kantor ini.

“Perusahaan kami sangat menjunjung tinggi hak-hak karyawan, kami menyediakan berbagai macam fasilitas yang dapat menunjang kinerja karyawan agar lebih optimal, seperti kantin dan cek kesehatan gratis. Anda akan bekerja selama delapan jam dan satu hari libur dalam seminggu. Mengingat posisi yang akan anda isi dan pentingnya posisi tersebut anda tidak diperkenankan untuk meninggalkan lokasi kerja sebelum jam kerja anda selesai.”

“Tunggu sebentar,” agak pernyataan itu mengerutkan dahi Salim dan membuatnya memotong penjelasan bapak itu, “maksud bapak saya harus stand by selama delapan jam? Lantas bagaimana bila saya hendak ke toilet atau istirahat untuk makan?”

Mengangguk sebentar si pewawancara menjawab, “Ruangan anda mempunyai kamar mandi dalam jadi tak perlu risau dan untuk makan anda bisa menggunakan layanan pesan antar dari kantin kami. Jadi Anda bisa makan di ruangan. Delapan jam adalah jatah anda, selama pekerjaan anda beres anda bisa rehat setelahnya yang penting saat jam kerja anda selesai laporan anda juga harus sudah selesai.”

“Kalau untuk ibadah?”

“Maaf?” kata bapak itu memiringkan kepala.

“Saya kan juga harus ibadah,” ulang Salim lebih jelas.

“Oh, kamu muslim ya? Perusahaan kami punya pandangan seperti ini,” si bapak membenarkan posisi duduknya, “ibadah itu hubungan manusia dengan Tuhan dan kami mengasumsikan hal tersebut ke dalam masalah pribadi tiap karyawan. Bahkan bekerja juga ibadah, kan? Perusahaan hanya memandang pekerjaan dapat tertangani dengan baik dan selesai tepat waktu. Jika itu terpenuhi anda bebas melakukan apapun sama seperti istirahat yang saya jelaskan di awal. Yang penting anda tetap di ruangan selama jam kerja.”

“Apa tidak ada tempat khusus untuk ibadah di kantor ini?” tanya Salim kemudian.

“Selama tidak ada permintaan dari karyawan ya kami tidak sediakan. Saya lihat banyak karyawan yang tetap bisa meng-handle pekerjaannya meski mereka muslim.”

Bapak itu menjelaskan tetapi pikiran Salim masih terpaku pada tak bisanya dia menunaikan perintah Tuhan. Mencari rejeki adalah salah satu bentuk ibadah dan kewajiban agar seseorang dapat tetap bisa hidup. Tuhan juga memerintahkan pada hamba-Nya untuk mencari rejeki yang Dia tebar di muka bumi. Namun, bila beribadah pada Sang Pemberi Rejeki saja dihalangi, akankah rejeki yang kita raup itu bermakna? Tuhan Maha Pemurah, memang. Akan tetapi tidak dengan begitu lantas kita lupa bahwa kewajiban utama seorang hamba adalah untuk menyembah Tuhan. Manusia diciptakan tidak lain adalah untuk menyembah Sang Pencipta bukan sebaliknya malah melupakanNya.

“Jadi bagaimana?” pertanyaan bapak pewawancara menyadarkan pergumulan pikiran Salim.

“Jika anda lolos tahap ini, kita bisa langsung tanda tangan kontrak dan anda bisa mulai training per Senin ini,” lanjutnya.

Salim masih terlihat berpikir.

“Untuk diketahui, jawaban anda adalah yang paling mengesankan daripada calon-calon sebelumnya. Jadi menurut saya kemungkinan anda lolos sangat besar.”

“Maaf, Pak.” Salim berdiri sebelum dipersilakan, ruangan sejenak hening dan kemudian setelah menghela napas penjang lelaki itu berkata, “Saya tidak bisa bekerja di tempat yang tidak mau menghargai agama saya. Permisi.”

Salim langsung mohon diri meninggalkan pewawancara yang sedikit terkejut itu. Menurutnya dia sudah melakukan sesuatu yang benar. Tuhan jelas akan murka jika dia memilih lanjut. Kembali lagi kepada Dzat yang mempunyai kekuasaan tertinggi, dia yakin tanpa bekerja di perusahaan yang diimpikan banyak orang dengan gaji yang sangat menjanjikan, Tuhan mempunyai kejutan yang lebih indah yang membuat Salim tetap bisa menghambakan diri padaNya. Entah kenapa ada rasa lega yang tiba-tiba menyelimuti dirinya. Dia benar-benar bersyukur masih memiliki akal sehat untuk tetap berada di jalan yang benar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s