Kisah Mei

Mei melamun memperhatikan kalender. Dia masih terbayang soal April dan ceritanya. Sebentar lagi sahabatnya itu akan selesai bertugas dan digantikan olehnya bersamaan hari yang semakin mendekati akhir bulan. Kembali ke awal bulan saat April mulai bertugas menggantikan Mareta, dia bercerita bahwa gadis itu menghiburnya bila dia tak akan mengalami hal yang sama dengannya karena memang sudah jatahnya.

“Tenang, lagipula dia mungkin sudah bosan telah datang selama enam bulan kami bertugas? Yakinlah dia akan membiarkan saudaranya yang menggantikan,” begitu kata Mareta di penghujung tugasnya.

Namun, apa? Belum lama dia  bertugas omongan Mareta itu tidaklah benar. April masih mengalami hal yang sama. Dia pun bersabar hingga menunggu tugasnya berakhir sembari berharap akan ada keajaiban sesuai dengan keinginannya dan sampai sekarang Tuhan masih belum mengabulkannya. Hujan masih sering menyapanya hampir setiap hari. Terkadang pagi hari saat dia datang tapi lebih sering sore hari Hujan menyapa saat dia mau pergi. Padahal sesuai dengan harapan semua orang pun juga April sendiri, dia lebih suka dengan kemarau. Dia ingin disapa oleh Kemarau, si Hujan itu apa tidak bosan telah menyapa petugas-petugas sebelumnya sejak si Okti bekerja. Novi, Desi, Yanuri, Febri dan terakhir Mareta, semua sudah dia sapa. Bahkan terang-terangan menyatakan rasa sukanya pada Desi karena gadis itu begitu gembira hampir setiap saat disapa.

Kenapa dia tidak berhenti menyapa dan membiarkan si Kemarau yang datang? Apa hendak semua yang bertugas di sini ia sambangi? Bahkan si Yuni dan Yuli yang jelas-jelas itu adalah jatah Kemarau? Mendengar cerita itu Mei jadi kepikiran, apa memang benar si Hujan akan menyapanya besok sewaktu dia mulai bertugas melihat di akhir waktu si April dia masih getol menyapa gadis 30 hari itu? Terbayang lagi, bila kemarin tersiar kabar April sudah muntab hampir setiap hari disapa oleh Hujan.

“Kenapa kau terus-terusan masih menyapaku? Menyapa di saat aku bertugas? Waktumu sudah selesai! Aku lebih suka di sapa oleh saudaramu! Beri waktu untuk Kemarau menyapaku juga!”

Mendengar uneg-uneg April waktu itu, Hujan yang selalu tampak riang menjadi murung. Dia pun meninggalkan April di penghujung tugas gadis itu, “Baiklah kalau itu maumu, aku tak akan menyapa lagi. Lagipula waktumu sudah mau habis, kau akan selesai bertugas akhir bulan, kan? Di hari itu mungkin aku akan terakhir kali menyapamu.”

Mendengar kabar itu, Mei pun merasa di antara lega dan khawatir. Lega bila Hujan tak akan menyapa siapa pun lagi dan membiarkan Kemarau menyapa serta khawatir bila memang Hujan tak akan menyapa April karena tugas gadis itu sudah berakhir dan malah berganti menyapanya saat bertugas nanti. Di lubuk hatinya yang terdalam, dia juga merasakan hal yang sama dengan April agar Kemaraulah yang menyapanya. Mei seperti halnya April, dia lebih suka dengan Kemarau. Dia sudah bosan dengan sapaan segar dan basah Hujan, dia ingin disapa dengan hangat nan kering oleh Kemarau.

Sekali lagi dia memperhatikan kalender yang semakin hari semakin mendekati waktu bertugasnya. April hampir selesai dan akan digantikan oleh Mei. Kembali lagi dia menerawang bahwa akan ada beberapa hari istimewa di saat dia bertugas nanti ditambah juga kedatangan Ramadhani yang juga bertugas di kalender sebelah. Dia pun menengadahkan tangan dan kepala untuk memulai berdoa.

Ya, Tuhan. Yang Maha Kuasa Maha Berkehendak. Bukan maksud hamba untuk merusak rencana yang telah Engkau buat bahkan sebelum hamba ada tapi dalam diri hamba, hamba ingin pemandangan berbeda saat hamba mulai bertugas nanti. Hamba ingin merasakan betapa teriknya mentari-Mu di atas langit bersih tak bermega, betapa keringnya bumi pertiwi lantas Engkau buat berdebu sebagai bentuk cobaan-Mu terhadap kami, betapa panasnya udara bertiup, betapa Engkau berkuasa menyusutkan sumber air supaya kami belajar untuk tidak menghamburkannya. Hamba ingin melihat para jati menerbangkan daun kecoklatannya ke jalan-jalan.

Setidaknya bila memang Engkau masih berkehendak Hujan menyapa di sela-sela hamba bertugas datangkanlah Kemarau pula untuk menyapa hamba sekalipun itu di titik akhir hamba sebelum berganti orang lain. Jangan sampai sahabat hamba, Yuni juga disapa oleh Hujan di tiap hari dia bertugas, dia milik Kemarau dan layak disapa olehnya sepenuhnya. Buatlah mereka berdua menyapa hamba atau bahkan bersama saudaranya yang lain, Pancaroba yang selalu ikut menyapa di saat kami menyambut dan melepas Hujan dan Kemarau. Amin.

Mei kemudian meraupkan tangannya ke muka dengan hati yang dia rasa lebih ringan. Apapun jadinya nanti dia harus menerimanya karena telah menjadi kehendak Tuhan. Namun, satu hal yang dia yakini Kemarau pasti akan menyapanya di sela 31 hari dia bertugas, tidak sendirian melainkan bersama kedua saudaranya. Mereka bertiga sama-sama menyapanya hingga harus mengucapkan perpisahan karena Pancaroba akan membawa Hujan pergi sementara waktu sampai saatnya nanti. Kali ini akhirnya Mei dapat tersenyum melihat kalender di depannya di detik-detik pergantiannya dengan April yang telah menunaikan tugasnya selama 30 hari yang ternyata dihiasi oleh sapaan Hujan, tak sesuai harapannya dan orang-orang.

Akhir kata, seperti musim penghujan yang di sela-selanya dihiasi terik matahari, di musim kemarau pun rintik hujan tetap akan menyambangi sekali dua kali untuk menyapa orang-orang. Kenapa? Karena Tuhan Maha Tahu bahwa beberapa makhluk-Nya kurang pandai bersyukur dan lebih banyak mengeluh. Merindukan matahari di kala hujan deras dan menginginkan mendung hitam di saat kerontang kemarau.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s