Seteru

Hasil gambar untuk a cup of coffee

commons.wikimedia.org/wiki/File:A_small_cup_of_coffee.JPG

Setelah beberapa detik penuh keheningan, Harun pun mulai membuka suara, “Kuharap kau tak sedang dikejar waktu, Maryam.”

Lelaki itu menopangkan dagunya santai.

“Sudahlah, tak perlu berbasa-basi! Aku tak punya waktu untuk meladeni orang sepertimu. Apalagi posisimu saat ini,” ucap si lawan bicara dengan ketus.

Bahkan gadis itu sama sekali tak menyentuh minuman yang dipesannya sendiri, meski si lelaki telah berpesan untuk tidak perlu khawatir dengan pembayarannya.

“Apa maumu?” lanjut gadis berkerudung itu, lantas menajamkan tatapannya.

Entah tak kuasa dengan binar di balik kacamata itu atau hanya sekadar mencari objek visual lain, Harun menoleh ke luar dan berkata, “Kau pasti sudah tahu.”

Sejenak menebak maksud pemuda di depannya, Maryam pun membalas penuh keyakinan, “Kalau begitu kau juga sudah tahu jawabannya, kan? Seharusnya kau tahu seperti apa aku, mengingat kita ini rival.”

Sedikit sensitif dengan kata terakhir, Harun menyeruput pesanan miliknya.

“Rival? Kurasa itu kata yang terlalu jahat untuk menyebut hubungan kita. Bagaimana kalau kan—-”

“Sekali lagi kau bicara ngalor-ngidul aku akan pergi.” potong perempuan itu dengan nada mengancam.

“Oke, baiklah,” cegah si pemuda melihat Maryam hendak beranjak.

“Aku ingin kau menghentikan tindakanmu,” lanjutnya kemudian.

Memasang wajah heran, gadis itu bertanya, “Apa maksudmu?”

“Harusnya akulah yang bertanya, apa maksudmu?” balas Harun menatapnya dengan serius lalu melanjutkan, “Kau sengaja menjatuhkanku dengan orasi emansipasimu itu hanya karena lebih banyak siswi di sekolah kita?”

Maryam pun mengubah mimik yang tadinya terkejut–entah dengan suara atau tatapan itu, menjadi meremehkan.

“Harun, Harun. Kukira kau sudah lama berkecimpung dengan politik. Apa kau tak tahu apa yang disebut strategi pemenangan? Aku pun juga tak akan sesensi ini kalau kau menjelek-jelekkan aku atau sejenisnya.”

Tak ayal lontaran itu memerahkan wajah si lelaki menerbitkan senyum tipis di bibir Maryam.

“Di samping itu, sebenarnya kenapa kau ikut masuk kompetisi ini?” tanya Harun mengalihkan topik.

“Salah satunya adalah menjatuhkanmu,” jawab gadis itu dengan percaya diri lantas menambahkan, “Sisanya, kau bisa dengar pidatoku tadi pagi.”

Rupanya pemuda itu tak gamang lagi, dia kembali ke sikapnya yang tenang.

“Perlu kau ketahui kalau masih ada calon lain yang harus kau khawatirkan, Maryam. Dan kau tak akan dapat apa-apa dengan modal emansipasimu itu.  Kau boleh beremansipasi tapi kau tak dapat lari dari kodratmu! Kau pikir semua orang mau dipimpin oleh wanita?”

“APA!”

Beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka berdua, bukan hanya karena suara yang sedikit lantang tapi gebrakan meja oleh tangan gadis yang kini bermuka padam itu.

“Sekarang kau punya agama, kan? Kau belajar agama, kan? Agama kita sama, kan? Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan dengan derajat yang sama, kau tahu!”

Maryam sudah tak mempertimbangkan lagi etika sosial apalagi dengan manusia di depannya yang memberinya senyum penuh kemenangan.

“Ya aku tahu dan sepertinya kau harus belajar lebih banyak lagi karena dibagian lain aku pernah membaca bahwa laki-laki diciptakan untuk memimpin kaum wanita, bukan sebaliknya. Kau boleh berbangga dengan hak emansipasimu itu tetapi kau juga harus melaksanakan kewajiban yang mengiringinya.”

“Cukup! Sudah kuduga pembicaraan ini tak ada gunanya,” ucap Maryam kemudian berlalu pergi meninggalkan Harun yang tersenyum sinis di belakangnya.

Meneguk seruputan terakhir pemuda itu membatin, ku kira dia akan bawa-bawa RA Kartini, syukrulah dia menyerah, satu orang sudah tumbang sisa tiga lagi, kau bilang aku tak tahu strategi? justru aku sangat paham itu.

“Waiter!” panggil Harun meminta tagihan masih dengan senyum liciknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s