Kisah Penjual Mochi

 

Di tengah hari yang panas aku menjajakan mochi kacang daganganku. Banyak yang mengacuhkanku tapi tak sedikit yang menolaknya dengan senyum. Satu dua memutuskan membeli lebih karena merasa kasihan melihat penampilanku. Di zaman yang serba modern ini mungkin sedikit orang yang tertarik dengan makanan tradisional bahkan hampir tidak ada. Padahal kalau mereka mencicip satu mochi saja akan menyadari betapa lembut dan kenyal tekstur campuran beras ketan dan akan menemukan ledakan kacang diakhir yang disangrai dengan waktu dan suhu yang tepat ditambah taburan tepung beras ketan yang disaring halus yang akan meleleh bercampur dengan nikmatnya setiap kunyahan di dalam mulut.

Sudah hampir 20 tahun aku menggantungkan hidup pada mochi-mochi kacang ini. Resep mochi turun temurun yang mungkin akulah generasi terakhir yang membuatnya. Anak-anakku lebih senang bekerja menjadi buruh pabrik ketimbang menjalankan bisnis keluarga ini. Menurut mereka pendapatan dengan menjadi buruh lebih stabil ketimbang capek-capek bangun dini hari membeli bahan di pasar dan seharian berkeliling menjajakan dagangan. Sering aku berpikir, di usia yang sudah memasuki senja adakah seseorang yang akan melestarikan mochi ini dan makanan tradisional lainnya? Atau malah akan tergeser oleh arus globalisasi dan punah bersama dengan kepergianku suatu saat nanti.

Padahal dahulu menurut cerita dari buyut-buyutku, di negara tempatnya berasal-Jepang, kue mochi merupakan makanan bagi kaum-kaum bangsawan dan hanya akan dihidangkan pada acara-acara kerajaan tertentu saja. Kue mochi juga dimakan oleh para ksatria di zaman itu sebagai bekal makanan saat tengah dalam medan peperangan karena bentuk dan struktur mochi kecil nan ringan serta komposisinya yang sarat akan karbohidrat penghasil energi juga membuat perut dapat kenyang lebih lama. Intinya begitu praktis digunakan dalam situasi seperti itu. Sebab begitu istimewanya, untuk membuat kue mochi tidak sembarang orang diperbolehkan, hanya petani-petani yang mempunyai keahlian khusus dalam menumbuk beras menjadi tepung agar dihasilkan mochi dengan kekenyalan yang pas.

Sekarang keberadaan mochi sudah terpinggirkan oleh makanan-makanan cepat saji dari luar negeri. Penjual mochi sepertiku pun sudah jarang. Tidak akan ditemukan kalau tidak dicari hingga sudut-sudut kota. Kabar baiknya aku jadi tidak punya saingan. Kabar buruknya mereka mungkin berganti dagangan yang lebih bisa menarik banyak pelanggan. Zaman beralih musim bertukar. Di masa sekarang apa-apa serba cepat dan praktis membuat waktu juga terasa cepat. Kemajuan teknologi juga mempengaruhi selera manusia terhadap jenis makanan. Orang-orang membutuhkan makanan yang enak, praktis serta mudah dan cepat didapat. Bila tidak dapat mengikuti arus dan beradaptasi akan terlupakan seperti aku.

Ah, kenapa aku malah bermuram durja seperti ini. Meratapi nasib tidak akan membuat daganganku berkurang. Sebaiknya kulanjutkan menawarkan mochi yang masih separuh kosong ini. Ku harap suatu saat nanti mochi dapat tetap bertahan menghadapi zaman yang semakin maju.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s