Terhimpit

Pernah nggak sih kalian terhimpit dalam dua situasi yang saling berlawanan yang memaksa kalian untuk menjadi dua orang yang berbeda. Itulah yang kualami sekarang. Ibarat gembok yang saling terkunci yang menahanku untuk terbebas darinya. Kalau dalam sistem operasi namanya deadlock. Paksaan dari rumah yang tak sabar memintaku agar segera mandiri dan paksaan dari kampus yang membuatku lebih lama menyelesaikan studi. Kini aku sadar bahwa otak ini memang sudah mencapai batasnya. Paper, penelitian dan segala tetek bengeknya yang membundetkan syaraf-syaraf otak ditambah cibiran keluarga yang membandingkanku dengan sebayaku yang telah sukses membeli motor sendiri dan mempunyai tabungan berjuta-juta hasil kerjanya di tempat pembayaran pajak semakin membuat kinerja syaraf pusat mencapai pada batasnya. Tentu aku tak boleh keluar begitu saja setelah apa yang kumulai tiga tahun lalu, begitu banyak duit yang telah mengalir dari pundi-pundi orang tuaku. Aku tak tahu apa yang terjadi kalau melakukan hal itu, paling parah diusir mungkin. Orang-orang akademik juga tidak tahu dan sama sekali tidak mau tahu dengan keadaanku ini, bagi mereka yang penting aku bisa membuatĀ  puas dengan hasilku menimba ilmu disini. Oke sudah cukup meratapnya. Kembali bergemul pada tugas-tugas akhir yang menumpuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s