Rima Kenapa?

Hasil gambar untuk bicycle for girl

kevinmcallisterreviews.blogspot.com/2013/05/bikestar-406cm-16-inch-kids-children.html

“Rima kenapa, sih? Kok dari tadi cemberut aja?” tanyaku pada keponakanku yang kecil dan manis itu. Yang ditanya hanya menatapku tanpa berkata-kata kemudian kembali lagi memandangi halaman dengan tatapan kosong. Kuambil inisiatif untuk duduk di sampingnya, tak biasanya dia menekuk wajahnya berhari-hari. Apa gerangan yang mengambil keceriaan dan senyumnnya yang selalu terkembang itu? Aku bertanya-tanya. Aku senggol dia, “Eh, ditanyain omnya kok diem aja?”

Akhirnya dia berbicara, “Sepedaku hilang, om.”

“Loh? Kok bisa?” aku semakin tertarik untuk mengoreknya.

“Kemaren waktu maen di tempat Tiara lupa dibawa pulang. Aku tinggalin di depan rumahnya. Aku belum sadar kalau bawa sepeda dan aku pulang jalan kaki. Ingetnya tadi pagi sewaktu mau dipake sepedaan terus aku turutin kemana aja kemaren aku pergi. Nggak ketemu,” jelasnya mulai kembik-kembik, “terus … terus … tadi waktu ke rumah Tiara lagi katanya dia nggak liat sepedaku. Berarti kan hilang om dibawa lari sama orang jahat.” Bressss … tumpah sudah air matanya.

Duh repot nih kalau kedengeran emaknya. Disangkanya aku lagi yang bikin mewek. “Udah … udah. Cup … cup,” kataku menenangkan sembari menggosok punggungnya, “Kamu udah bener carinya?” lanjutku.

“Semua tempat udah aku datengin om. Di taman, di warung Mbak Yem, di kebon pisang belakang rumah Pak Dal, terus terakhir rumahnya Tiara. Aku tanya semua orang nggak ada yang liat. Aku yakin terakhir di rumah Tiara kok. Orang aku masih pake sepedanya waktu habis maen pasaran di kebon.”

“Ya udah. Mau gimana lagi?” aku menatapnya. Semakin deras aja air mata membasahi pipinya. “Nggak minta mama lagi? Apa mau om beliin yang baru?” tanyaku mencoba memberi saran.

“Emangnya om punya duit?” dia menatapku tajam. Aku mengalihkan arah pandanganku darinya. Rupanya dia tahu kondisi finansialku. “Lagian kalo beli yang baru pasti rasanya udah beda. Sepeda itu dulu dibeli pake uang tabunganku dari TK sampe kelas satu. Dia udah nemenin aku sampe sekarang aku kelas tiga berarti udah,” dia menghitung pake jari tangannya, “ tiga diambil satu, udah dua tahun om dia nemenin aku kemana-mana. Aku selalu mencucinya sama papa, aku bersihin pake kemoceng, terus dihias-hias pake pita kayak punya Dimas. Sekarang daaaahhhh hilang.”

Aku memberi senyum wajah sesenggukan lebih karena terlihat lucu dibanding iba. “Gini, om mau bilang. Rima pernah diajarin sama gurunya Rima nggak? Kalau apa saja yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan,” dia manggut-manggut, “dan suatu saat nanti entah kapan itu waktunya Tuhan akan mengambil kembali apa yang Dia punya. Semua yang ada di dunia ini lho. Benda mati ataupun makhluk hidup.”

“Kayak nenek waktu dulu itu ya om,” potongnya.

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Pernah nggak Rima kepikiran kalau apa saja yang diambil sama Tuhan itu karena menurutNya kita belum bisa menjaga barang milikNya yang dititipkan ke kita. Dan suatu saat nanti ketika kita memang sudah layak untuk dititipi kembali om yakin pasti sesuatu yang telah diambil itu akan diganti dengan yang lebih baik. Seperti dedek Rama yang menggantikan kepergian nenek. Jadi, mending sekarang Rima berdoa sama Tuhan. Kalau memang Dia masih menganggap kamu layak menjaga titipannya berharaplah agar barang itu kembali kepadamu tetapi kalau Dia menganggap kamu masih belum berhak untuk dititipi mintalah diberi keikhlasan untuk merelakannya dan berharaplah agar barang itu dititipkan kepada orang yang tepat.” Dia diam saja sambil menatap mataku lekat-lekat. Aku berhasil memberinya nasihat. Aku bersorak di dalam hati. Yeahhhh.

Tiba-tiba dia berdiri, berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah. “Mamaaaaaaa,” teriaknya sambil menangis, “Om Hendra jahat. Kata Om Hendra aku suruh ngelupain sepedaku, aku suruh jalan aja terus dan dia nyalahin aku karena aku ceroboh ngilangin sepedaku sendiri.”

Waduh. Rekayasa media, nih. Harus segera diluruskan.

END

Wait for the next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s