Aku Suka Bulan Desember

en.people.cn/NMediaFile/2016/0405/FOREIGN201604050000000212960261989.jpg

Secercah cahaya mulai memasuki mata. Tamparan pipi mulai terasa. Kuat dan penuh amarah. Perut ditekan sekuat tenaga membuat muntah tapi tak kunjung keluar. Antara sadar dan tidak sayup-sayup kudengar suara kakak. Entah sumpah serapah apa yang dikatakannya tapi aku ingin mengucapkan terima kasih karena dia telah mendengar suara hatiku dan memenuhi janjinya untuk menyelamatkanku. Udara hangat terasa mendekat, seperti hembusan napas, bau napas ini membuatku ingin muntah. Akhirnya aku bisa terbatuk dan mengeluarkan air yang kutelan sewaktu hanyut. Wajah yang pertama kali terlihat saat aku membuka kedua mataku tidak lain dan tidak bukan adalah kakak tersayangku sendiri, Kak Mort. Wajah yang penuh akan kekhawatiran dan takut kehilangan bercampur dengan amarah. Aku langsung memeluk kakakku sesuai janjiku dan menangis di pundaknya.

“Bodoh! Bodoh! Bisa enggak sih, kamu nggak ngeyel!,” seru kakakku terisak.

“Maafkan aku, Kak! Maafkan aku!” aku tak kalah keras.

“Yang harusnya mati duluan tuh aku, namaku Morthalie, artinya kematian! Kamu nggak boleh pergi duluan!”

Aku semakin erat memeluknya dan tangisku semakin menjadi.

“Nathalie! Bersyukurlah atas kehidupan yang diberikan padamu, percuma ayah ibu ngasih kamu nama Nathalie kalau kamu ngeyel sampai bikin kamu kayak gini. Janji sama kakak kamu nggak akan negeyel lagi!”

Aku hanya terdiam sesenggukan di pundaknya.

“Janji sama kakak! Kamu nggak akan keras kepala dan bikin kakak khawatir lagi!”

“Iya, Kak. Aku janji. Nathalie jadi adik yang baik,” suaraku menciut di akhir.

Keempat temanku hanya saling tatap menyaksikan drama opera sabun murahan kami. (“-_-)(-_-“)(“-_-)(-_-“)


Setelah agak lama memulihkan diri dan situasi, kami kembali ke tempat pesta. Baju-baju kami sudah kering. Sudah hampir tengah malam, orang-orang sudah pulang dan kembali ke penginapan. Api unggun telah padam dan panggung telah gelap sesampainya kami disana. Kami semua sepakat untuk merahasiakan kejadian ini agar ayah dan ibu tidak panik dan langsung membawaku ke rumah sakit. Ketiga teman TK-ku memutuskan untuk langsung kembali ke rumah masig-masing dan berusaha melupakan kejadian tadi. Keisha memilih untuk menginap malam ini.

“Keisha, kamu pake kamarku aja nggak papa,” perintahku.

Keisha mengangguk tersenyum.

“Kalian berdua sebaiknya mandi biar nggak masuk angin, terus tidur,” saran kak Mort sebelum berlalu.

“Kak Mort,” panggilku.

Dia menoleh. Sejenak kuperhatikan kakak kembarku. Aku serasa menghadap cermin. Kami benar-benar mirip. Tiba-tiba aku terkaget, dia mengibaskan tangannya di mukaku.

“Enggak, itu apa merah-merah di baju kakak? Kayak darah.”

“Mana?” dia mencari-cari dan akhirnya melepas bajunya, “woh, iya bener,” dia kemudian meraba-raba punggungnya tapi tak menemukan luka apapun, aku juga sudah memeriksanya.

“Aku ijin mandi duluan, ya,” Keisha berlari sambil menutup mulutnya.

Aku dan kakak saling bertatapan bingung.

Kak Mort berbalik menuju dapur.

“Makasih ya, Kak!” ucapku.

Dan satu-satunya kakak kembarku itu mengacak-acak rambutku, “Jangan nakal lagi, ya.”

“Kakak juga buruan mandi dan jangan pamer otot di dalem rumah.”

Aku Suka Bulan Desember – part 5 of 5 – END

Wait for the next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s