Aku Suka Bulan Desember

Hasil gambar untuk drown

d2v9y0dukr6mq2.cloudfront.net/video/thumbnail/QwIr88a/hand-sinking-deep-underwater-ocean-sea-drown-desperation-hopelessness-sun-rays-shining-surface-trouble-danger-swimmer-salvation-rescue-hope-concept-gopo-hd_eyedn5wzz__F0000.png

Belum selesai Rifky becerita Mort sudah lari tunggang langgang menuju pos penjaga pantai diikuti Rifky dan Keisha. Tentu Keisha amat kesusahan berlari dengan gaun pestanya.

“Keisha! Tolong jaga pakaianku sebentar, ya!” seru Mort.

Keisha melihat Mort yang selama berlari melucuti kemeja, kaos, celana panjang dan alas kakinya meninggalkan sehelai celana boxer yang terkesan sempit. Keisha juga sejenak tidak mengerti maksud perkataan Mort, dia lebih fokus memperhatikan betapa bagusnya badan sahabatnya, tentu dia rajin sekali berolahraga untuk menjaga badannya agar membentuk seperti itu.

Otot-otot lengan yang kencang, dada yang bidang, enam tonjolan di perutnya serta pinggang yang membentuk v-cut, tidak ketinggalan betisnya yang terlihat seksi saat berlari di tepi pantai. Betapa bodohnya Keisha sebegitu sempatnya memperhatikan semua itu ditambah mukanya sudah sempurna merah dengan darah mengucur dari hidungnya memunguti pakaian Mort yang berjatuhan di pasir kemudian menghirup aroma parfum yang bercampur dengan bau alami tubuh Mort.

“Apa yang kupikirkan, ya Tuhan!” batin Keisha.

Sesampainya di pos penjaga pantai Omi terlihat tengah menampar-nampar wajah Ninda. Rupanya gadis itu belum sadar juga setelah kejadian ombak besar tadi. Pakaian mereka berdua basah membentuk tubuh.

“Dimana Nathalie?” seru Mort saat Omi hampir menyentuhkan bibirnya ke bibir di depannya—memberikan napas buatan kepada Ninda. Ah, sial, batin Omi. Omi segera menunjuk tempat dimana mereka mencari kerang beberapa menit yang lalu dan melanjutkan prosesi menamparnya.

Dengan gagahnya Mort berlari menyongsong ombak berenang menuju tempat kembarannya hanyut. Di tengah laut Nathalie terlihat sudah mengambang naik turun mengikuti arah gelombang. Dengan cepat walaupun kesusahan Mort langsung berenang ke arah gadis itu yang entah masih sadar atau tidak. Arus laut pasang cukup kuat melawan arah dia berenang. Mort kemudian merangkulnya dan berenang membawanya ke tepian menjauhi maut. Dibantu Rifky, Nathalie digendong menuju ke tempat aman, melakukan hal yang sama seperti Omi, Mort menampar-nampar adiknya sendiri. Ninda sudah setengah tersadar memegang tangan Omi—ketakutan.

“Jangan, Rifky!” cegah Mort saat lelaki itu akan berlari menuju tempat pesta, “Keisha mungkin sudah membawa kabar buruk ini kesana. Kita harus segera menyadarkan Nathalie agar orang-orang tidak kha—“

Belum selesai Mort berbicara, Keisha dengan sisa-sisa muka merahnya mendekat.

“Ini Mort. Pakai kembali bajumu biar tidak kedinginan,” pinta gadis itu.

“Terima kasih,” ucap Mort tersenyum tipis dan Keisha langsung memalingkan muka menyembunyikan rasa malunya.

“Kamu nggak kasih tahu orang-orang?” tanya Mort lagi.

Keisha menggeleng. “Baik aku akan kesana.”

“Tidak perlu, Kei. Tidak usah,” cegah Mort tepat sebelum Keisha berjalan.


Ditampar dan dipompa perutnya betapa kasihan Nathalie. Sedari tadi detak jantung maupun nadinya masih lemah tapi menunjukkan kemungkinan selamat. Teman-teman mereka hanya dapat berdiri melihat pemandangan menyedihkan ini tanpa dapat melakukan apa pun. Wajah Mort tampak memendam kekesalan dann menahan amarah. Tinggal satu-satunya cara, yaitu memberikan napas buatan. Akan tetapi sebelum itu.

“Nathalie, adik kembarku. Bangunlah, Nath. Aku tak akan memaafkan diriku kalau kamu tidak bangun sekarang. Kau tau kan masih banyak hal-hal yang telah kita rencanakan, apa cuma akan kau jadikan wacana?…”

Bukankah selalu begitu?, batin Keisha. (-_-“)

” … Kumohon Nathalie dengarkan kakakmu ini. Siapa lagi yang akan kumarahi kalau kau tak bangun? …”

Woy! Kakak macam apa kau ini!, batin Rifky. (-_-“)

 “… Siapa lagi yang akan kujewer kalau kau tak bangun? …”

Beneran kau ingin dia bangun cuma buat dijewer?, batin Omi. (-_-“)

 “… Siapa lagi yang akan menghiburku saat aku membutuhkannya? … “

Jadi, adiknya hanya dijadikan sebagai wanita penghibur?, batin Ninda. (-_-“)

” … Kumohon Nathalie, apakah aku harus  menciummu?”

Serius, woy! Udah mau mati itu!, keempat temannya satu suara hati. (-_-“)

Mort kembali teringat cerita Keisha tentang kehidupan dan kematian, dia tak ingin sang kematian mengambil hadiah dari sahabatnya sekarang, karena jika memang terjadi Mort tak akan dapat mengambil hadiah itu lagi, kematian akan merenggut kehidupan adiknya. Mort mulai menangis, lebih karena harus mencium adiknya sendiri di depan teman-temannya daripada mengingat cerita itu. Padahal dia ingin ciuman pertamanya untuk orang yang disukainya bukan adiknya yang tiap hari hanya membuatnya naik pitam. Kali ini dia memberanikan diri dan mempertaruhkan semua kemaluannya. Saat bibir itu hendak bersentuhan, tiba-tiba Nathalie terbatuk-batuk dan memuntahkan air yang masuk ke paru-parunya tepat mengenai seluruh wajah Mort.

Aku Suka Bulan Desember – part 4 – END

Wait for the next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s