Aku Suka Bulan Desember

debbowen.com/wp-content/uploads/2014/02/cockle-shells-for-posts.jpg

“Yee, aku nomer satu!” seru Omi ketika menyentuh tangga pos penjaga pantai.

Disusul olehku, “Tidak buruk juga, kudengar kau ikut klub atletik ya sewaktu SMA?”

Rifky dan Ninda sampai bersamaan.

“Kalian ini! Malah pacaran,” seruku.

“Udah … lama tau … aku gak lari … lari kayak gini,” jawab Ninda patah-patah.

Rifky memilih untuk ngos-ngosan ketimbang meladeniku.

“Berarti nanti kamu gendong aku balik ya, Nin!” pintaku menagih janji dan Ninda pun mau tak mau harus mengangguk.

Omi terlihat memungut sesuatu di atas pasir.

“Apaan tuh, Om?” tanyaku.

“Kerang,” jawabnya singkat.

“Dulu kita juga sering cari kerang ya,” Ninda kembali menarik memori lima belas tahun silam ke benak kami.

“Heem,” Rifky mengiyakan, “aku jadi ingat dulu kamu sering dibikinin kalung kerang sama Mort, Nin. Biar nggak nangis. Dulu kami dapet banyak kerang terus punyamu cuma dikit dan nggak bisa dibuat kalung,” lelaki itu tertawa.

“Apaan sih?” muka Ninda langsung memerah.

“Kita cari kerang yuk,” usulku kemudian.

“Jangan Nath,” cegah Omi, “airnya lagi pasang nih,”

“Eleh. Sejak kapan kamu jadi penakut gini sih, Om?” aku meledeknya, “lagian dulu siapa sih anak sekampung yang terkenal cari bahaya kalau bukan kamu?”

“Omi benar mending kita balik aja deh, Nath,” pinta Rifky.

“Dasar kalian ini cowok-cowok. Cuma sama air pasang aja takut. Ayo Nin, kita berdua aja yang cari,” seruku.

“Tapi, Nath …”

Sebelum dia mengelak, “Kamu belum kasih hadiah apa-apa kan ke kak Mort? Aku yakin dia pasti senang kalau kamu balik bawa kerang,”

Terlihat secercah harapan di mata Ninda, “Ayo Nath,”

“Kalian cowok-cowok penakut tunggu di sini aja ya, atau pulang aja meringkuk di kamar sana,” aku tertawa.

“Aku ikut. Bahaya kalau cuma kalian berdua di sana. Airnya cukup gede juga.” kata Omi akhirnya, “ayo, Rif!”

“Aku disini aja. Aku nggak begitu tertarik nyari kerang sekarang.”

Aku menyorakinya.

Cangkang kerang biasanya banyak terdampar di bibir pantai. Apalagi saat air pasang seperti ini. Ninda sibuk mencari kerang terbaik untuk kak Mort dibantu oleh Omi. Aku juga tak mau kalah. Aku ingin mencari kerang warna-warni untuk hiasan akuarium di rumah. Mungkin lebih banyak kalau semakin dekat dengan laut. Dan benar, cangkang kerang berbagai warna dan ukuran terdampar ditinggalkan oleh penghuninya. Omi memperingatkanku untuk tidak jauh-jauh darinya dan Ninda tapi kubiarkan saja.

Saat itulah terjadi sesuatu. Saat kebebalanku mengalahkan semuanya. Ombak pasang yang cukup besar datang, sebenarnya aku tidak terlalu panik karena dari tadi juga sudah berkali-kali aku terkena deburan ombak hingga bajuku basah. Tapi yang ini sepertinya lebih besar dari biasanya, aku tak bisa melawan arusnya yang kuat hingga kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam air. Begitu pula Ninda dan Omi, tapi mereka berdua bisa berenang ke tepian karena Omi dengan cepat dapat mengetahui keadaan dan segera menyelamatkan diri. Aku yang masih belum bisa menguasai keadaan malah terseok-seok mengambang di air dan tanpa sadar sudah teseret cukup jauh ke laut hingga hilang kesadaranku.

Ya ampun. Inikah balasan atas sifatku yang keras kepala. Teman-temanku sebenarnya telah mencegahku tapi tidak aku hiraukan. Akankah aku berakhir disini sebagai gadis yang meninggal tepat di hari ulang tahunnya? Aku terus berusaha mencari udara disela-sela keterombangambingan air laut. Aku belum melakukan apa pun, untuk teman-temanku, keluargaku, orang tuaku terlebih kak Mort.

Selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku egois. Menomorsatukan keinginanku sendiri tanpa memikirkan yang lain. Meski aku sering bertengkar dengan kakak, selalu berbeda pendapat dan tak jarang berujung emosi namun untuk saat ini entah kenapa aku ingin sekali diselamatkannya. Aku ingin sekali dia menyelamatkanku daripada membicarakan hal yang tidak jelas bersama orang-orang dewasa di sana. Aku ingin sekali memeluknya saat ini, aku ingin meminta maaf padanya, selama ini aku telah membuatnya repot. Aku tak ingin mengucapkan selamat tinggal padanya dengan keadaan seperti ini. Kak Mort selamatkanlah aku, wahai kakak kembarku. Dan mendadak dunia menjadi gelap.

Aku Suka Bulan Desember – part 3 – END

Wait for the next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s