Aku Suka Bulan Desember

 

Rocks Seashore Sea Amazing Landscapes Cliffs Beach Cavern Wallpaper Surf

renatures.com/wp-content/uploads/2016/11/beaches-beach-sea-cavern-amazing-landscapes-cliffs-rocks-seashore-wallpaper-style.jpg

Di saat yang sama di tempat lain.

“Mort, dimana Nathalie?” tanya Simba, teman SMP kami.

“Peduli amat. Dia paling ke gazebo tebing. Belum puas aku jewer dia, setelah kagetin Roy sampe nangis tadi. Aku jadi nggak enak sama paman Andre.”

“Mort. Mort. Gitu-gitu juga adikmu lho. Kalian keluar dari lubang yang sama,” goda Deddy.

“Iya, dan kalian mirip banget. Ingat nggak kalian waktu lomba raja ratu SMP. Mereka bertukar posisi dan nggak ada yang menyadari,” cerita Shelly.

“Heehh. jangan ingatkan aku kejadian menggelikan itu,” pintaku dengan muka merah.

Mereka semua tertawa.

“Woi, beneran tuh?” tanya Cindy teman sekelasku SMA penasaran.

“Jangan-jangan kalian juga melakukannya di SMA?” tanya Landy teman sekelas Nathalie curiga.

“Mana mungkin aku mau melakukan itu!” seruku tidak terima.

“Tapi kau melakukannya di ekskul Budaya Jepang, kan? Soalnya kamu lebih kalem daripada Nathalie,” ujar Sam.

“Hentikaaaannnn!” aku berlari menjauhi suara tawa yang lebih tekesan merundung itu.

Entah apa yang membawaku. Aku berlari menuju kursi-kursi kosong dan mendekati kedua teman seperjuanganku di kampus. Rino dan Desva.

“Kau tampak kelelahan kawan,” ujar Rino.

“Ya iyalah. Dia bersenang-senang di hari ulang tahunnya,” ucap Desva.

“Apanya yang senang. Yang ada aku malah kecapean ngemong adikku tersayang itu. Eh, ngomong-ngomong Keisha dimana?”

“Oh, tadi ijin mau maen air dibawah tebing,” jawab Desva.

“Ayo kawan dapetin hatinya, ini waktu yang tepat buat jadian. Hahaha,” ledek Rino.

“Apaan sih kalian?” seruku seraya berjalan menjauh menuju tebing.

Sesampainya disana aku melihat sesosok gadis bertelanjang kaki membiarkan riak air menjilatinya. Gadis itu tersenyum damai. Aku ikut menyunggingkan senyum sembari mendekati Keisha. Gadis berambut panjang yang suka diubah-ubah cara mengikatnya. Kali ini dia membiarkan rambutnya terurai ditiup angin pesisir. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiranku karena sibuk mengecipakkan ombak kecil yang tengah bermain dengannya.

“Tumben menyendiri?” tanyaku.

Gadis itu setengah kaget dengan keberadaanku yang tiba-tiba muncul, kemudian tersenyum, “Sudah cukup lama aku tidak ke pantai. Kata pepatah belum ke pantai namanya kalau belum mencicip air.”

“Sok, cicip airnya. Yakin pasti asin,” godaku.

“Ih, maksudnya kakinya yang menyentuh air gitu.”

Hening sejenak. Kami berdua memandangi langit.

“Bulan mati ya?”

“Heh? Siapa yang mati?” dia tidak begitu jelas mendengarku.

“Bukan. Fase bulan mati. Airnya pasang. Kalo lagi surut bisa main agak jauhan sambil cari kepiting.”

“Pantesan kok ombaknya agak gedean ditepi pantai.” dia tersenyum.

Kami tidak sengaja bertatapan. Wajahku merah. Disusul olehnya kemudian kami saling memalingkan muka.

“Oh ya. Ngomong-ngomong. Selamat ulang tahun, Mort,” aku yang diselamati mengangguk, “Nathalie dan Morthalie. Makna yang saling bertentangan, bukan? Dan orangnya memang sering tidak menemui kecocokan ya. Tapi kalian bisa saling mengisi satu sama lain. Enak ya, punya saudara, terlebih saudara kembar seperti kalian. Sebentar, jangan katakan apapun. Aku tahu kau mau menyangkalnya, kan? Dengan berbagai sisi buruk jika mempunyai saudara. Berbagilah, penganggulah, apalah. Semua orang sudah sering, Mort. Menghiburku begitu, aku sudah kebal. Bagiku yang hanya ditemani Nekosan, terasa sedikit sepi di rumah, bagaimana dia bisa aku ajak curhat. Well, bisa tapi aku tak pernah bisa memahami bila dia mengeong padaku. Apakah dia memberikan solusi atas masalahku atau malah justru mengejekku dengan segala kelemahanku ini. Nekosan hanya menjadi Nekosan kan. Dia diciptakan seperti itu, dan dia telah memerankannya dengan baik. Kembali ke masa—“

Aku memotong, “Sorry Keisha, kalau aku nggak sopan. Aku tahu mungkin sudah begitu banyak orang yang mencoba mengalihkanmu dari masalahmu. Tapi memang benar, antara punya saudara atau tidak keduanya memang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Yah, mungkin bagimu lebih banyak enaknya punya kakak atau adik tapi bagi satu dua orang pernah terbersit pikiran apabila kakak atau adiknya sebaiknya tidak ada. Aku tidak akan bilang apa saja enaknya menjadi anak tunggal. Kau punya teman Keisha, bahkan ada yang kau anggap lebih erat dari itu. Walapun kita memang tidak memiliki susunan DNA yang sama tapi setidaknya kita bisa mengerti satu sama lain ketika salah satunya dirundung masalah serta dapat saling mendukung ketika yang lain tengah memperjuangkan sesuatu. Jujur saja, aku lebih sering melakukannya bersama sahabatku ku ketimbang Nath. Mungkin aku terlalu egois tapi untuk sekarang ini kau dapat menjadikan aku, Nath, Rino dan Desva sebagai saudaramu. Saudara kembarmu.”

“Baik, Pak Guru! Memang nggak salah, kamu udah 20 tahun, Mort. Atau aku panggil Pak Mort?”

“Apaan sih. Yah, mungkin agak sedikit terlambat untuk Nath. Dia belum menyadari akan usianya.” Kami berdua memandangi Nathalie yang saat ini tengah bermain air dengan teman-teman TK-nya di kejauhan.

“Nathalie dan Morthalie. Natalitas dan Mortalitas.  Kalau dalam konteks kependudukan berarti kelahiran dan kematian,” Keisha masih menatap langit kemudian melanjutkan, “Aku jadi mengingat sebuah cerita tentang kehidupan dan kematian. Mereka berdua memang saling berlawanan tapi sebenarnya mereka adalah dua sahabat yang sangat karib. Kehidupan selalu memberikan hadiah kepada sahabatnya kematian dengan menebarkan kehidupan ke seluruh dunia dan suatu saat kematian akan mengambil hadiahnya, setelah dia menerima hadiah itu, kehidupan tidak akan pernah mendapatkannya lagi karena tugasnya hanyalah memberi dan terus memberi kepada sahabatnya, pun juga kematian yang hanya menerima dan terus menerima. Dan hadiah itu tidak lain adalah kita Mort, kita semua, makhluk yang hidup di dunia ini. Terkadang jika memikirkan cerita ini aku jadi khawatir. Sudah pantaskah aku menjadi hadiah yang terbaik dari kehidupan untuk kematian jika suatu saat dia memilihku.”

Seperti biasa aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat Keisha tiba-tiba jadi sok filosofis seperti ini. Kini kulihat gadis disebelah menunduk mengamati deburan ombak di sela-sela kakinya. Hanya saja aku berharap dapat menikmati saat-saat seperti ini dalam sisa hidupku yang entah sampai kapan. Saat dimana sang kematian ingin mengambil hadiah dari sahabatnya.

Kami berdua tidak melihat Rifki berlari tergesa-gesa mendekat dan baru menyadarinya saat dia beteriak memanggil namaku. Butuh sekitar satu menit baginya untuk sampai di bawah tebing tempat kami memperhatikannya dengan ekspresi bingung. Dan butuh beberapa detik pula baginya untuk mengatur napas yang tersengal agar bisa berbicara dengan baik.

“Mort, Mort,” masih tersengal.

“Kenapa  Rif? Kamu dijailin Nathalie buat lari kesini? Mau-mau aja.”

“Bukan, Mort. Ini … ini …Nathalie … Nathalie … “

Aku dan Keisha hanya saling tatap tidak mengerti.

“Nathalie, Mort. Jadi tadi kami …”

Aku Suka Bulan Desember – part 2 – END

Wait for the next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s