Aku Suka Bulan Desember

Aku suka bulan Desember. Di penghujung tahun aku bisa menikmati semilir sejuknya angin muson yang membawa banyak uap air dari samudera. Rintik hujannya yang membawaku ke dalam kenangan-kenangan kelam masa lalu. Sorenya yang sepanas siang hari membasahkan baju membuatku ingin menceburkan diri ke sungai. Mendungnya yang membatalkan semua rencana untuk keluar rumah seakan menyuruh untuk tetap meringkuk di kamar. Paginya yang beraroma lembut menyapa hidung untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin. Serta malamnya yang tenang dan begitu cepat membawaku ke alam mimpi. Tapi, yang terpenting dari semua itu adalah berakhirnya seluruh kegiatan semester ganjil. Masa-masa sulit ujian akhir yang telah terlewati dan menyisakan panjatan doa untuk hasil yang terbaik.

“Nathalieeeeee,” panggil kakakku.

“Ah, kakak,” aku melempar senyum padanya yang kian mendekat.

“Sudah kakak bilang kan? Jangan suka menghilang sendiri,” dia terlihat cemas.

“Tapi, kakak bisa dengan mudah menemukanku,”

“Siapa lagi yang suka menyendiri di gazebo pinggir tebing kalau bukan adik kembarku yang suka melepas kepergian matahari? Ayo! Para tamu sudah datang, Keisha, Rino, Desva dan yang lain telah menunggu,” perintahnya.

“Aku heran kenapa orang-orang senang merayakan hari dimana setahun hidup kita semakin berkurang,” gumamku.

“Heh, tidak baik bilang begitu. Kau kan sudah kepala dua masih saja bertingkah seperti anak-anak,” ternyata kakak mendengar.

“Daripada kakak, baru dua puluh tahun sudah seperti bapak-bapak yang sok ngatur,” balasku.

Hari ini adalah ulang tahun kami yang ke dua puluh, entah kebetulan atau tidak, bersamaan dengan Hari Natal, yang tentunya tidak kami rayakan.  Orang-orang sering salah kaprah dengan nama dan hari ulang tahun kami. Kami kembar fraternal berbeda kelamin selisih enam menit tetapi tidak seperti kebanyakan, wajah kami semirip kembar identik, aku tidak tahu kenapa. Morthalie dan Nathalie, entah apa yang dipikirkan ayah dan ibu waktu itu memberikan nama seperti ini. Nama yang saling bertolak belakang yang berarti kelahiran dan kematian, padahal nama itu kan harapan, apa mereka ingin kak Mort cepat mati? Gusti.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ayah dan ibu selalu merayakan ulang tahun kami tidak hanya untuk internal keluarga saja tetapi mengundang kedua keluarga besar serta sahabat kami dari TK hingga Kuliah. Memiliki rumah di tepi laut memang luar biasa, acara apa pun akan terlihat meriah jika diadakan di pantai. Begitu juga ulang tahun kami yang dihiasi balon berwarna-warni, meja-meja penuh makanan dan kue serta panggung kecil untuk hiburan.

Begitu sampai disana kursi-kursi sudah ramai terisi oleh saudara dan rekan yang diundang, tidak seperti waktu kutinggalkan tadi. Sejujurnya aku tipe orang yang tidak suka jam molor sekaligus menyambut tamu dengan senyum palsu, tidak seperti kakakku yang selalu bisa tebar pesona. Jadi, aku memutuskan untuk menikmati bulan kesukaanku ini di gazebo di atas tebing yang tepat menghadap ufuk barat sembari menghitung detik-detik bumi memalingkan wajahnya dari sang surya.

Empat kakek-nenek, enam om-tante, lima paman-bibi dan delapan kakak-adik sepupu berkumpul jadi satu. Sungguh keluarga besar. Tidak lupa ditambah tiga teman dekat dari masing-masing jenjang pendidikan. Ayah dan ibu memang tidak tanggung-tanggung sebagai pemilik resor di pantai ini menyenangkan hati putra-putrinya. Betapa ramai dan meriahnya acara kami yang justru aku tak terlalu menikmatinya. Malah menghiasinya dengan fake smile. Sungguh menyedihkan. Padahal banyak wajah gembira menyelamatiku dan kak Mort serta memberikan kado yang entah kenapa aku masih suka meski aku sudah menjadi mahasiswa.

Acara dimulai satu jam sebelum tenggelamnya sang raja siang. Acara resminya berlangsung hingga tertinggal semburat merah di langit dan dipotong dengan dua waktu ibadah. Ketika lembayung senja digantikan kerlap-kerlip gemintang di langit dilanjutkanlah acara non-formal dengan bernyanyi, api unggun dan kembang api. Begitu sepi langit tanpa kehadiran sang rembulan yang tengah berada dalam fase gelapnya. Ayah sibuk memainkan organ tunggal mengiringi Bibi Sani yang tengah menikmati kemerduan suaranya. Ibu mengurusi mertuanya yang sudah sepuh. Kakak dengan pesonanya bercengkrama dengan teman lama dan sepupu kami yang sebaya. Aku sendiri malah mengajak adik-adik sepupu bermain mercon yang mungkin akan membuatku dijewer ibu. Aku memang tidak suka pembicaraan formal dan basa-basi. Lagipula mereka–sepupuku ini–sudah besar-besar semua. Apa yang perlu dikhawatirkan?

“Nathalie memang nggak berubah ya dari SD,” suara yang ku kenal mendekat.

“Ya, begitulah dia,” ada yang menimpalinya.

“Oh, Sean dan Blini. Lama tak jumpa. Mau ikut?” tawarku.

Mereka mulai menyalakan kembang api kecil dan bermain bersama sepupuku yang lain.

“Ayo, kak Nath! Sulut merconnya,” ujar adik sepupuku, Rian.

“Tapi kamu yang pegang ya!” balasku. Langsung berubah mukanya. Aku tertawa.

“Nggak papa ngajak anak kecil maen mercon?” tanya Blini.

“Buat apa beli kalo nggak dinyalain?” balasku.

“Kamu nih, ngajarin yang nggak bener. Mana biar gue yang pegang. Bahaya tau,” ucap Sean.

“Oke siap ya? Kak Dhika, Rian, Susi, Millie, Linda. Sini. Sini,” aku memanggil sepupuku.

Mereka mendekat tertarik. Aku menghitung sampai tiga untuk menyulut mercon. Kami semua berlari menjauhi Sean. Dia takut-takut mengangkat tinggi-tinggi tangannya ke udara.

Duar. Bler. Jler. Pletok-pletok. Bemmm. Mercon meledak dengan indahnya di atas langit membuat semua mata menoleh. Sebelum aku menyarankan untuk menyalakan kembang api kedua kak Mort dan Dennis mendekat menghampiri. Tanpa berkata apapun kak Mort langsung menjewer telingaku dan Sean.

“Kalian ini bisa nggak sih nggak bikin jantungan kakek sama nenek. Tuh dek Roy jadi bangun dari tidurnya karena mercon kalian,” serunya dengan jeweran yang semakin keras. Aku mengaduh Sean minta ampun. Dennis teman SD kami malah mengabadikan momennya.

Malam semakin larut, panggung malah semakin ramai. Kak Dira adik ibu berdangdut, bapak-bapak bahkan kakek pun ikut berjoged. Aku memutuskan untuk berjalan di tepi pantai. Entah darimana Ninda, Rifki dan Omi teman TK sekaligus sahabat kecilku menghampiri.

“Ingat nggak waktu kita berlima tanding lari di pinggir pantai habis balik dari TK?” tanya Ninda.

“Udah lama banget ya?” Omi memastikan.

“Lima belas tahun yang lalu,” ujar Rifki.

“Ayo balapan lari ke pos penjaga pantai terus balik lagi ke api unggun,” saranku.

“Siapa takut!” kata Omi.

“Tapi cuma berempat aja ya?” tanya Ninda.

Kami berempat pun menatap api unggun di kejauhan.

“Yah, kak Mort sibuk dengan urusan dewasanya,” aku pun melengos, “yang terakhir sampai gendong aku ya baliknya,” aku mulai berlari.

“Woi curanggg!” seru Rifki.

Aku Suka Bulan Desember – part 1 – END

Wait for the next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s