Korban ke Sekian – (cont.)

Hasil gambar untuk fallen tart cake

assets.epicurious.com/photos/54ad474519925f464b3b3523/master/pass/51198010_dropped-lemon-tart_1x1.jpg

Kami pun berjalan menuju ranjang. Inilah yang aku tunggu sekian lama. Benar kata pepatah ada berkah di sela musibah. Namun, tanpa disangka kami memang tidur seranjang tapi bagai timur dan barat, dia tidur di paling tepinya dan yang aku terheran-heran dia langsung jatuh tertidur pulas. Benar-benar kerbau tapi tampan. Benar menemani tidur satu ranjang tetapi bukan ini yang aku inginkan. Mungkin ini sudah saatnya untukku mengungkapkan keinginanku yang sesungguhnya terhadap dia, tetapi apa ini saat yang tepat melihat dia mulai mendengkur dengan imutnya. Aku pun memutuskan untuk mendekat dan merajuk padanya menuntut keinginanku untuk menyalurkan nafsu birahi.

“Apalagi sayang? Aku kan dah nemenin kamu. Masih minta peluk? Yang tadi belum cukup?” jawabnya antara sadar dan tidak.

Dia pun bergeser ke tengah dan mengeloniku. Wajahku tepat di bawah lehernya. Walau terlapis baju aku masih bisa mendapatkan kehangatan tubuh kekarnya dan dengkuran lembut yang keluar dari hidungnya ditambah bau alami tubuhnya. Ini masih belum cukup dan aku pun meminta lebih. Berharap kami bisa melakukannya malam ini di tengah badai yang mengamuk. Hal yang selama ini aku impikan sejak bertemu dengan cowok idaman. Tapi apa yang kudapat?

“Apa sih, Jamie? Aku capek banget nih mau istirahat. Jangan mengada-ada. Tidur sajalah,” balasnya.

Well, aku sudah mendengar jawaban langsung dari mulutnya entah dia menyadarinya atau tidak. Tidak ada lagi kata “sayang” yang menandakan tidurnya tak ingin diusik. Mendengar itu entah kenapa hawa dingin merasuki tubuhku, semakin dingin, dari telinga lalu ke dada lalu ke mata dan seluruh tubuh sekalipun aku dalam dekapan cowok berbadan besar di balik selimut. Seketika mengalahkan dingin bila saat ini juga aku berhujan-hujanan di luar sana.  Aku menggigil dalam kelonannya. Aku menangis dalam pelukannya.

Keesokan harinya seperti tadi malam tidak pernah terjadi apa-apa dan memang baginya tidak terjadi apa-apa, seperti biasa dia mengucap selamat pagi, memeluk dan mencumbuku. Tololnya aku setolol-tolol makhluk tertolol bersikap biasa saja seolah tidak ada kejadian malam tadi dan menyembunyikan segala kesedihan yang mendera. Aku rela dia melakukannya tapi kujamin dengan kesimpulan yang kudapat semalam dia tidak berani melakukan lebih dari ini. Hanya peluk cium peluk cium. Itu saja. Setelahnya hari-hari terkesan berjalan lambat hanya berisi pelukan dan ciuman di dalam apartemen. Apakah aku mulai …… bosan?


Sejak malam berbadai itu yang kemudian memunculkan badai di hatiku hingga sekarang, kepalaku diliputi pikiran apa benar dia memang hanya berani sampai situ? Pikiran itu terus terngiang-ngiang hingga aku tak merasa apa-apa dipeluk dan dicium. Pelukan dan ciumannya tidak senikmat dulu, terasa hambar. Aku merasa hanya dijadikan objek pelukan dan ciuman. Aku begitu penasaran kemudian mencari-cari waktu yang tepat untuk menanyakannya sembari mempersiapkan mental.

Pertengahan bulan Maret, hujan masih enggan bumi dikuasai kemarau nan kering, awan-awan hitam menggelayut di kelambaja menyemburatkan warna merah di ufuk barat. Di taman yang sama, di bangku yang sama, di posisi yang sama seperti waktu itu aku dan mas Sean duduk selepas latihan basket. Aku mengungkit masa lalu dia masih ingat. Aku mengulang cerita dari awal agaknya dia mulai curiga. Begitu wajahnya sarat akan kebingungan aku pun mulai memberanikan diri untuk mencari kebenaran.

“Mas, sudah lama juga ya kita deket. Sejak November itu, di sini. Aku yakin selama lima bulan ini mengerti semua tentang mas Sean dan selama ini pula yang paling aku yakini semakin hari kita semakin intim. Yang ingin aku tanyakan adalah apakah mas Sean juga meyakini atau bahkan merasakan hal yang sama?”

“Tentu saja, Sayangku. Aku makin tahu kamu, aku makin deket sama kamu dan yang terpenting aku makin saaaaaaaaaayang kamu,” dia menatapku lekat-lekat.

“Kalau memang benar begitu, apa mas Sean mau melakukan hal-hal yang intim denganku?” tanyaku dengan tetap menjaga emosi.

“Hah? Maksudnya apa sayang? Hal-hal intim kayak gimana?”

“Ya misal … mohon maaf sebelumnya ya mas, dulu aku mulai suka sama mas Sean jujur saja karena nafsu belaka. Aku ingin terus bersama mas Sean, dipeluk bahkan dicium. Oke itu sudah sering kita lakukan tetapi semakin hari rasa nafsu itu semakin besar. Tidak hanya dipeluk di balkon aku juga ingin dipeluk waktu kita mandi berdua. Tidak cuma mencium di bibir aku juga ingin mencium bagian mas yang lain waktu kita tidur seranjang di kamar, bahkan kalau aku boleh bilang I wanna lickin all your muscular body even having sex and give you a blowjob. Jadi apa mas mau? Karena menurutku kita berdua, aku dan mas Sean sudah sangat intim sekali,” jelasku siap mendapat jawaban apa pun.

“Jamie Alfa Hermanto! Oh My Godness,” nadanya terkejut mengucapkan nama lengkapku.

Dia melanjutkan, “Jadi selama lima bulan ini, itukah yang kamu rasakan? Oh God, please. Aku ini cowok tulen, Jamie. Aku masih suka cewek, aku bahkan sama sekali nggak ada nafsu waktu kita pelukan, kita ciuman, kelonan dan yang lainnya. Kenapa kamu bisa  ….” dia membuang muka penuh penyesalan, “aku udah bilang kan dari awal, I just need a role model to replace my suck Mom. Aku cuma butuh rasa kasih sayang yang nggak aku dapat dari apa yang mereka sebut ibu. Aku cari orang yang bisa memberikan itu dan waktu kamu bilang kalau suka aku, kuanggap kamu mau memberikan rasa sayang itu sebagai cowok sama cowok.”

Dia mengusap muka lalu melanjutkan, “Aku kira kau tahu perasaanku kayak gimana dan berusaha mengobati lukaku akibat ulah wanita jahanam itu. Ciuman itu pelukan itu yang aku rasakan ya hanya kasih sayang yang tulus yang kau berikan karena masa laluku yang kelam,” dia memegang kedua pundakku, “Makanya aku memanggilmu, Sayang. Aku sayang sama kamu sebagai adik angkatan yang mengerti masalahku dan aku menerima rasa sayang yang kau berikan. Sama sekali tidak ada nafsu di sana. Apalagi untuk melakukan hubungan yang lebih intim.”

Hening sejenak. Bau hujan mulai tercium bersamaan dengan angin yang menyepoi. Butuh beberapa saat bagiku untuk memproses semua ini. Aku menundukkan kepala tak sanggup menatapnya. Berkali-kali aku tarik-hembus napas dengan teratur agar terlihat biasa saja dan tak terguncang tetapi sepertinya sia-sia. Ada sembilu menancap di dada yang barusan keluar dari mulutnya. Aku memang harus siap menerima jawaban apapun yang dia berikan dan menerima kenyataan bahwa apa yang selama ini kami rasakan sangat jauh berbeda. Hembusan terakhir yang panjang aku mulai berbicara.

“Kalau memang seperti itu. Aku ingin minta maaf sama mas Sean. Aku minta maaf kalau apa yang aku rasakan selama ini tidak seperti yang mas Sean ibayangkan. Maaf kalau aku malah nglunjak dan minta hal yang tidak bisa mas Sean lakukan dan kumohon segera lupakan saja apa yang tadi aku ricuhkan.  Mas Sean, dengan tidak mengurangi ikatan pertemanan di antara kita aku harap sama mas untuk tetap membiarkan hal ini seperti apa adanya bahkan melupakan bila perlu dan kuharap tidak ada orang lain yang tahu sedekat apapun dia dengan mas. Dan terakhir mulai hari ini panggil namaku saja karena tidak seperti yang mas Sean harapkan, yang aku rasakan hanyalah nafsu, nafsu dan nafsu tidak ada yang lain,” aku sudah tak tahan dan suaraku mulai bergetar.

Sudah kremun. Tanpa diduga dia langsung memeluk dan mengulum bibirku tak peduli dengan sekitar. Sudah biasa, nafsu yang selama ini membara sempurna sirna bersamaan dengan pengakuannya tadi. Tidak ada rasa sama sekali meski dia pandai memainkan lidahnya dengan lidahku. Setetes air jatuh dari mataku yang terpejam. Kali ini, di cumbuan terakhir kami, aku berusaha memberikan rasa sayang yang diinginkan cowok polos berbadan atletis satu ini. Aku berusaha mengerti apa yang dia rasakan tetapi tetap saja tak bisa, rasanya sudah hambar. Aku membuka mata dan melihat dia terpejam penuh rasa sayang di balik kacamatanya yang berembun. Brukkk … Terdengar sesuatu jatuh dari pegangan.

“Sean benarkah itu kau?” tanya suara perempuan bersamaan dengan selesainya ciuman kami.

Terlihat sesosok perempuan mengenakan jaket tebal, rok pendek dan ber-stocking hingga paha. Syal panjang melingkari lehernya. Rambut hitam sepundak dibiarkan tertiup angin. Di depan kakinya entah boks itu berisi apa sudah rusak berbenturan dengan konblok. Wajahnya mengisyaratkan ketidakpercayaan dan keterkejutan. Sama dengan mimik mas Sean.

“Kau Sean Nasution, kan? Sean yang kukenal itu,”

Mas Sean pun bangkit berdiri dan mendekatinya, “Irfiana, apa yang kamu lakukan di sini? Kapan kamu datang?”

Seolah tak mendengar ada yang berbicara di depannya, cewek itu membisu dan menatapku tajam, “Siapa itu?”

“Dia temen jurusanku, Jamie. Duduklah dulu, mari kita obrolkan bersama.”

“Kalau hanya teman lantas kenapa aku tadi menyaksikan adegan menjijikkan kalian bedua,” tatapannya beralih ke mas Sean.

“Dengarkan aku dulu, Irfi sayang,”

Aku kaget dengan apa yang mas Sean ucap barusan.

“Aku nggak percaya dengan apa yang kulihat tadi. Kalian berdua …… menjijikkan. Aku tak habis pikir, di sela kepergianku kuliah jauh di UNTIB kau malah mengingkari hubungan kita dan asyik-asyikan dengan laki-laki itu? Apakah aku wanita serendah itu sehingga kau menyandingkanku dengan laki-laki hina ini? Percuma janji yang kita ikrarkan selama ini, percuma aku jauh di sana menahan diri diliputi rasa rindu yang bertumpuk-tumpuk, percuma aku tak melirik seorang lelaki pun dan hanya tertuju pada bayanganmu di kota ini. Kau sendiri? Malah bersayang-sayangan dengan orang lain, laki-laki lagi, apa telepon dan chit-chatku tiap hari itu kurang? Rasa kasih sayang yang kuberikan tidak cukup? Bahkan aku rela kau menganggapku ibu. Kalian berdua benar-benar membuatku ingin muntah.”

Aku tak berani melihat wajah perempuan itu, lebih fokus ke boks rusak yang ternyata bertuliskan nama salah satu bakery. Dari suaranya terdengar dia tengah menahan diri untuk tidak menangis melihat semua kenyataan memuakkan di depannya. Mas Sean berusaha menenangkan tapi dia menyergah, tak ingin disentuh.

“Sudahlah, kau jangan minta rasa sayang dariku lagi. Tidak usah mengontakku lagi. Aku membatalkan semua perjanjian yang telah kita buat. Bersayang-sayanglah dengan laki-laki tak tahu diri itu. Sudah cukup sampai sini, aku merasa dikhianati. Dan kau,” dia menatapku kembali, “kau laki-laki perusak hubungan. Yang kau lakukan dengan Sean itu sungguh kotor, menjijikkan. Sadarlah! Kau ini laki-laki beneran bukan sih? Kenapa kau malah menghinakan diri dengan …”

“Sudahlah, Irfiana. Dia tak tahu apa-apa,”

“Oh, jadi kau juga merahasiakan hubungan kita? AH, aku sudah tidak tahan disini,”

Perempuan bernama Irfiana itu pergi menjauh, belum sampai sepuluh meter dia kembali kukira hendak mengambil kuenya tapi dia malah melemparkan tamparan telak ke pipi mas Sean. Kulirik sepertinya dia yang malah kesakitan lalu berjalan cepat kembali menuju kegelapan malam mungkin dengan urai air mata. Seperti menjadi tokoh utama dalam drama FTV mas Sean mengejarnya, yang kusimpulkan dia adalah kekasih jarak jauhnya. Aku sekarang ditinggal sendirian bersama rintik hujan yang kian menderas. Memperhatikan sebentar aku lalu mengambil boks yang ternyata berisi kue tar. Di dalamnya terdapat kue tar berukuran sedang yang berlapis krim putih, di atasnya terdapat hiasan buah stroberi di bagian tepi dan ukiran selainya bertuliskan AKU SAYANG SEAN-KU yang kini sudah tak berupa kue tar lagi. Aku sudah kuyup sempurna dan mas Sean yang tak kunjung kembali membuatku berpikir bahwa lelaki yang dulu kukejar-kejar itu sudah benar-benar melupakanku. Masih terngiang perkataan perempuan tadi air mataku keluar bersama tetesan hujan dari rambutku.


Semenjak hari kelam itu, aku memutuskan untuk memutuskan hubungan dengannya. Dia memang sehebat-hebat penyimpan rahasia, kukira aku sudah mengetahui semuanya ternyata ada hal yang belum kuketahui dan itulah yang paling penting. Dia membohongiku dan mengaku berstatus single nyatanya dia menyembunyikan gundiknya dalam long distance relationship. Dasar kerbau sialan! Buaya penipu! Bahkan cewek kampus terlambe turah sekalipun tidak percaya kalau mas Sean-yang notabene idolanya-punya pacar di luar sana setelah kutanya dia. Aku pun juga terperangkap dalam permainan ibu-ibuannya yang entah menjadi korban ke berapa. Sekarang aku telah menarik status keanggotaanku dari fitness center tempat dia berlatih dan susah payah berpura-pura cedera di lengan untuk membujuk ketua UKM agar aku diizinkan cuti latihan selama beberapa bulan. Semoga saja mas Sean tidak menghancurkan rencanaku yang tengah menghindarinya. Apartemen? Jangan tanya lagi, tempat itu sudah masuk ke dalam nomor paling atas daftar tempat yang tak ingin kukunjungi.

Aku jadi jijik sendiri membayangkan kenangan busuk bersamanya. Masih mengingat perkataan kekasihnya yang menghinaku aku pun berusaha untuk memperbaiki diri, aku lebih menahan diri untuk tidak terlalu liar dan mencari apa hakikat dari rasa sayang yang sebenarnya memperhatikan gadis-gadis yang sering hangout bersamaku bukan sebagai saingan tapi sebagai perempuan yang membuatku bernafsu sekaligus memberinya rasa kasih sayang. Meski susah sekali mengendalikan mataku yang masih jelalatan jika melihat cowok bening di jalan tapi ini hanya nafsu kan? Bukan rasa sayang yang tulus. Dan akhirnya di semester baru pun aku sempurna bisa bersikap biasa kepada mas Sean , benar-benar biasa seolah aku belum pernah mengenal dan dekat dengannya.

Korban ke Sekian – Part 2 of 2 – END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s