Korban ke Sekian

PicsArt_11-12-07.36.46

Sean Nasution. Cowok tinggi, putih dan berbadan atletis. Kalau dia tersenyum kau bisa melihat dua lesung pipi menghiasi wajahnya. Dia adalah bintang basket sekampus. Tak heran banyak cewek bahkan beberapa cowok yang mengidolakannya, termasuk aku. Aku Jamie Alfa Hermanto yang merupakan adik tingkat jurusannya. Kami sama-sama jurusan Manajemen UDM. Mas Sean, begitu aku memanggilnya, telah membuatku kagum saat menjadi komisi disiplin terramah sewaktu osjur beberapa bulan silam. Wajahnya yang tampan dan imut sama sekali tidak cocok memarahi mahasiswa baru yang melanggar peraturan. Aku merasa beruntung satu jurusan dan kamar mandi sama mas Sean, tidak seperti cewek-cewek ganjen itu. Aku bisa leluasa nonton bagaimana dia pipis, apa warna kancutnya dan yang paling penting aku bisa nonton dia bertelanjang dada saat akan latihan basket tiap sore. Kupikir dia juga latihan fitness setiap minggu. Lihat saja badannya kotak-kotak gitu. Sumpah, aku pengen peluk mas Sean saat nggak pakai baju kayak gitu. Mas Sean, aku sayang kamu.


“Kenapa kamu bengong, Sayang?” tanya Mas Sean padaku.

Aku hanya membalasnya dengan senyum dan gelengan.

Kaget? Sama, aku juga kaget awalnya. Waktu itu ketika menyatakan perasaanku yang sebenarnya, setelah menimbang-nimbang timing yang tepat bukannya perasaan jijik darinya yang kudapat seperti yang sebelumnya aku sangka melainkan pelukan hangat yang sama sekali tidak terduga. Dia melingkarkan tangannya ke pinggangku lumayan erat dan meletakkan kepalanya di pundakku sembari memberikan bisikan lega di telingaku.

Maafkan atas kepengecutanku, sebenarnya aku juga ingin mengatakannya tapi aku takut kau akan menjauh pada akhirnya seperti yang lain.

Beberapa detik aku mematung masih berusaha mencerna kejadian di luar perkiraanku, akhirnya aku mengusap lembut kepalanya yang berambut cepak serta punggungnya yang kekar dengan tangan satunya dan tetap was-was mengawasi sekitar. Untungnya malam itu suasana taman benar-benar sepi, sama sekali tidak ada orang yang lewat. Maklum, gerimis tengah mendera.


Ceritanya, setelah seminggu masa ospek bersamanya membuat nafsuku meluap-luap. Bagaimana tidak? Aku memang sulit mengendalikan diri melihat tatapan polos di balik kacamata dan bibir yang seksi itu. Tak henti-hentinya aku curi-curi pandang padanya, dalam hati aku tak sabar ingin memeluk dan mengajaknya bercumbu. Tak ingin kehilangan kesempatan untuk membersamainya, aku pun mengikuti UKM yang sama dengannya, basket. Lewat itulah aku jadi bisa leluasa berlatih bersama, diajari teknik bermain yang aku pun tidak peduli dan yang paling penting adalah ruang ganti. Sangat sulit mencari kesempatan untuk sekadar mengerling karena di ruang itu tidak hanya aku dan dia saja, ada belasan cowok-cowok berbadan bau yang juga berganti baju. Salah-salah aku bisa ketahuan dan ditendang dari UKM.

Tidak sampai situ saja aku membuntutinya, entah dia sadar atau tidak aku juga mendaftar ke fitness center yang sama dengannya walaupun aku tidak terlalu tertarik dengan olahraga angkat beban. Dia berlatih setiap sabtu malam dan minggu sore selama hampir tiga jam, aku sendiri cuma main-main treadmill untuk mengusir kebosanan menunggunya -padahal dia tidak memintanya- selain itu aku bisa cuci mata dengan segala jenis bentuk otot yang ada di ruangan itu, ini benar-benar surga dunia. Aku sampai tidak sanggup untuk menahan rona merah di pipi dan hidungku yang mulai mimisan. Saat Mas Sean selesai dan beranjak menuju kamar mandi aku pun membuntuti tanpa ketahuan dan inilah saat yang selalu kunanti. Tidak seperti anggota lain yang dengan percaya diri menunjukkan bentuk tubuhnya saat berlatih, dia sepertinya malu-malu dan hanya memakai kaos hitam longgar dengan bawahan training pendek. Dimana lagi aku bisa memuaskan hasrat kalau bukan disini, tempat dia membersihkan peluh-peluh hasil latihannya membentuk badan. Sayangnya, kamar mandi di sini tidak terbuka jadi aku mungkin hanya bisa melihat saat dia sudah selesai berbalutkan handuk di pinggang. Sayangnya lagi dia kurang keren tanpa kacamata, tak apalah yang penting penantian selama tiga jam itu terbayar.

Hanya butuh sebulan kebersamaan di kampus, UKM Basket dan tempat fitness hingga dia menyadari keberadaanku. Dia mulai sering mengobrol ringan denganku dan sebulan lagi kami sudah seperti sahabat karib yang lama tidak bertemu. Dari sini aku tahu, Mas Sean  bukan tipe cowok yang suka nge-geng karena dia hanya dekat dengan beberapa teman SMA-nya yang sekampus dan anak-anak UKM Basket tetapi yang terpenting dia berstatus single. Dia sangat tertutup dengan orang baru, sangat sulit bagiku yang pandai mengular ini untuk mengorek informasi darinya. Bahkan butuh sebulan bagiku untuk membangun kedekatan dengannya. Saling curhat sudah menjadi kegiatan sehari-hari bagi kami, dia dengan senang hati mendengarkan pengalamanku dan aku bisa mengutip info penting dari curahannya. Bila sedang tidak ada latihan basket atau fitness kami biasa main atau makan bersama seperti sepasang kekasih walaupun tidak selalu hanya berdua, terkadang ada beberapa temannya dan aku juga membawa gengku sebagai kamuflase.

Semakin lama berjalannya waktu semakin membara pula nafsuku padanya dan terus ingin menghabiskan waktu berdua saja. Aku pun merasa telah menemukan kecocokan dengannya berdasarkan pengalaman yang saling kami bagi, entah di sisi dia. Akhirnya setelah aku menimbang berbagai macam keputusan dan mempersiapkan mental bila reaksi yang kudapatkan tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan, ungkapan perasaan itu pun terucapkan dan seperti yang telah kusebutkan tadi, aku benar-benar kaget dengan reaksinya. Kalau boleh aku tambahkan, setelah dia memberiku pelukan hangat di tengah gerimis itu kami benar-benar melakukannya. Kami berdua bercumbu. Kali ini mas Sean yang memiliki keberanian untuk memulainya, ternyata dia agak kikuk saat melakukannya dan dia pun mengaku bila bibirku adalah yang pertama. Aku lalu menuntunnya. Bibir saling bersentuhan dan lidah saling beradu diantara air liur. Begitu hangat di antara derasnya beribu rintik air yang jatuh. Ah, bulan November itu.


Sekarang kami masih sama seperti biasanya, ngampus bareng, basket bareng, fitness bareng dan lainnya seperti sebelumnya hanya dengan perasaan yang sudah berbeda. Perasaan saling memiliki. Tentunya kami berusaha menahan diri sepayah apa pun demi terjaganya rahasia hubungan kami. Salah-salah durian yang kami sembunyikan itu tercium aromanya oleh kepoers dan stalker yang merajalela. Seperti saat ini setelah latihan basket di ruang ganti yang menyisakan kami berdua dan bau keringat yang menyeruak di ruangan, mas Sean mendapati aku termenung dan menyadarkan lamunan nostalgia bagaimana aku bertemu dengan bidadara surga yang satu ini.

“Sayang? Kamu mau nginep lagi, kan? Kita maem di apartemen aja ya. Ntar aku masakin yang enak buat kamu tapi temenin ke supermarket dulu buat beli beberapa bahan yang udah mau abis. Sayang, dari tadi kok kamu diem aja sih?” tanya mas Sean berbisik seolah takut masih ada anak basket di dalam.

Sekalipun berbisik suaranya tetap cool and manly.

“Iya mas gantengku,” jawabku menjepit hidung mancungnya lalu menggoyangkannya.

Dia mengaduh kesakitan mengusap-usap hidungnya.

Beberapa minggu hubungan kami berjalan, di semester baru ini lebih banyak hal terkuak baik dariku maupun mas Sean yang sebelumnya tidak kami ketahui. Belakangan aku juga lebih sering menginap di apartemennya ketimbang tidur di kamar asrama yang sempit. Sebab itulah semakin banyak cerita dan curahan hati yang saling dikisahkan. Aku yang sejak kecil salah pergaulan dan main sama cewek-cewek. Dia yang ternyata hasil brokenhome selama sepuluh tahun dan mamanya malah menikah dengan pria lain. Aku yang mulai menyukai teman sekelas waktu SMP gara-gara nggak sengaja liat telanjang dada waktu ganti baju. Dia yang butuh sosok ibu dan telah memacari beberapa perempuan untuk pelampiasan. Aku yang matanya jelalatan lihat cowok bening di jalan. Dia yang sering ditinggalin pacar karena tahu cuma dianggap sebagai pengganti ibunya. Aku yang suka searching dan koleksi gambar-gambar bromance. Dia yang suka dibully dan diremehin karena lemah terus bikin dia mulai fitness. Aku yang suka dijadiin tempat curhat cewek-cewek. Dia yang hampir dijadikan simpenan tante-tante begitu pula aku yang diincar om-om mesum. Banyak cerita dari masing-masing yang membuat salah satu dari kami terpingkal atau terbawa perasaan.

Mas Sean sudah biasa memasak dan memang hasilnya tidak diragukan lagi, baginya agar masakan enak kita harus memiliki good mood dulu dan masalahnya moodnya untuk masak sangat jarang, alhasil kami lebih sering makan di luar. Pikirku mungkin dia lagi seneng habis cetak three point waktu sparing sama anak FISIP tadi. Di supermarket benar-benar tantangan–terlebih bagiku–untuk tidak terlalu lengket dengannya dan menjalankan skenario dua sahabat karib berbelanja untuk pesta nonton bola bersama gengnya nanti malam. Takutnya ada anak kampus yang memergoki kami berdua.

Kalau dia sedang masak biasanya aku membantu atau lebih bisa dibilang merecoki, termasuk malam ini sewaktu aku tengah mengiris sayuran dan tepat di belakang dia mengambil bumbu dapur di rak sebelah atasku lalu tiba-tiba mengecup tengkuk. Aku kegelian dibuatnya dan berakhir pada teririsnya telunjukku. Yang kuherankan malah dia lebih panik sambil mencari kotak P3K padahal akunya biasa saja. Jantungku berdesir dan mataku tak berkedip beberapa saat melihat wajah peduli dan merasa bersalahnya sewaktu menatapku lekat-lekat dan menanyakan keadaanku. Dan drama opera sabun murahan itu diakhiri dengan dia yang hanya memperbolehkanku menontonnya membuat Panzanella dan Cordon Bleu untuk dinner.

Selepas makan malam dia mempersilakanku untuk mandi sementara sendirinya memberesi piring dan gelas. Bak badan sebau kerbau aku pun masuk ke dalam kamar mandi lalu melucuti kaos santai berbalutkan kemeja dan jeans yang kukenakan, sejenak aku memperhatikan bayanganku di depan cermin sebadan. Gara-gara latihan basket dan fitness tiap weekend badanku jadi tampak lebih berbentuk, semenjak bersama mas Sean gaya hidup dan kesehatanku lebih terjaga. Dia mengajak jogging tiap minggu pagi, menjadi personal trainer di tempat fitness dan sering membawakan bekal berisi sayuran yang terkadang aku tidak suka. Bergaya sebentar aku lalu melanjutkan ritual mandiku. Sehabis mandi aku memilih menikmati suasana malam di balkon. Di ketinggian lantai enam apartemen ini aku bisa melihat langit hitam tak berbintang akibat polusi cahaya di atas serta kesibukan jalanan kota malam hari di bawah. Sejenak aku merasakan baju mas Sean yang kukenakan–sudah biasa aku meminjamnya–, rasanya pas dengan ukuranku, aku jadi membayangkan jika dipakainya, ketat dan membentuk. Aku tersenyum penuh nafsu.


Pukul sembilan, kendaraan masih saling berebut jalanan pun terdengar suara klakson bersahutan hingga tempatku berada. Langit begitu cepat berubah mendung, angin malam bertiup sembribit menjilati kulit yang tak terbungkus baju. Aku pun memejamkan mata sembari mengusap kedua lenganku yang telah tertusuk hawa dingin berharap ada kehangatan yang segera mengusirnya.

Pikiranku pun melayang. Empat bulan sudah aku bersama mas Sean, di empat bulan itu pula aku bisa mendapat perhatian plus senyum manisnya tiap hari. Betapa banyak cerita yang telah saling kami bagi, betapa dekat hubungan yang telah kami jalin. Entah kenapa aku merasa mas Sean masih menjaga jarak padaku, begitu pun diriku sendiri. Seperti halnya tadi, aku begitu pengecut untuk setidaknya guyon mengajaknya mandi bareng padahal ini kan kesempatan emas yang aku tunggu-tunggu. Membayangkan kami berdua saling melepas pakaian satu sama lain, bertelanjang bulat di bawah guyuran shower, menyabun punggung yang tak tercapai tangan dan diakhiri dengan berendam dalam satu bathtub. Ah, tak lupa pelukan dan ciumannya. Kulit bertemu kulit. Bibir bertemu bibir. Nafsuku langsung menjalar meliputi seluruh badan. Semakin menjadi ketika aku membayangkan menggosok dan mengeringkan tonjolan-tonjolan ototnya hasil latihan fitness.

Jangan cuma berfantasi doang! Lakukan dong! Dasar pengecut, seru setan di telinga.

Makin malam makin dingin, rintik kecil mulai tempias di wajah. Aku pun tersadar. Udara malam mulai buas bertiup membawa tetesan air hujan hingga membuatku merinding kedinginan. Badai akan datang. Di saat itulah tanpa diduga-duga aura kehangatan mulai menjalar melingkupi seluruh badan.  Hawa dingin mulai sirna bersamaan denganku yang mulai tak bebas bergerak. Tangan kekar melingkari perut, dada bidang menyandar punggung dan napas berat sarat akan kehangatan berhembus di sisi telinga. Hormon-hormon penghasil nafsu mulai aktif kembali. Aku sudah tidak tahan. Badanku benar-benar terkulai dengan situasi semacam ini dan rela bila dia mau melakukan apapun padaku yang mudah ringkih begini. Mas Sean memelukku. Dia sudah selesai mandi.

“Masuk yuk, nggak kedinginan?” tanyanya.

“Nggak lagi,” jawabku sembari mengusap lembut tangannya yang memeluk kokoh di depanku.

Dia pun mengecup pipiku. Ah, perasaan ini. Akankah aku merasa bosan dengannya? Agak lama kami menikmati gerimis yang kian menderas, sesekali dihiasi kilat membuat langit terang sejenak. Kalau sudah begitu aku langsung buru-buru menutupkan tangan ke telinga. Dia pun melarang dan menjelaskan sesuatu yang sudah sering aku dengar. Aku sangat takut dengan bunyi petir.


Tengah malam, hujan sudah sempurna deras. Badai benar-benar menyambang kota. Kami bersiap-siap untu terlelap. Aku tidur di kamar sedangkan dia memilih berbaring di sofa depan TV ruang tengah. Memang biasanya seperti itu jika aku menginap di apartemen mas Sean, sejak awal sudah seperti ini terkecuali jika ada temannya atau anak basket lain. Aku sadar diri untuk berlakon sebagai adik angkatan dan teman se-UKMnya atau lebih baik berlalu pergi.

Lagi-lagi aku tidak punya keberanian untuk sekadar bercanda mengajaknya tidur seranjang. Padahal aku membutuhkannya. Itu yang selama ini aku incar. Banyak malam berujung pada insomnia, aku tak bisa langsung terlelap sebab otak penuh pikiran, hati mencaci diri dan badan diliputi fantasi. Dianya mungkin sudah ngorok ke alam mimpi karena kelelahan setelah pertandingan sore tadi. Dan sekali lagi di malam ini kuhabiskan dengan nafsu yang mengungkungku, membayangkan kami berdua hanya berselimutkan selembar kain saling berkelonan, begitu hangat badan kami yang saling bertaut. Aku merasakan otot-otot keringnya yang keras, gumpalan daging seksi dan penuh nafsu ini hanya milikku. Dia mengecupi leherku, aku pun mendesah pasrah dibuatnya. Akhirnya bayangan erotis itu selesai dengan aku yang menyadari ternyata hanya kedapatan mimpi basah sewaktu bangun di pagi harinya. Setidaknya begitulah bagaimana aku menjalani malam-malam menginap di apartemen.

Sejam dua jam mata masih tak mau terpejam dan badai di luar pun semakin mengamuk dengan petir dan halilintar menyertainya. Meski sudah dilarang aku tetap saja menutup telingaku seketika melihat berkas cahaya kilat yang lewat. Sepertinya badai semakin menjadi, suara guntur yang bergemuruh semakin cepat menyertai kilat. Tiba-tiba cahaya kilat yang begitu terang hingga menembus tirai berkelap. Klap. Langsung sepersekian detik suara halilintar berbunyi. Duarrrrrrr …. setara ratusan desibel.

Sontak aku langsung bangkit dari ranjang dan berlari menuju mas Sean di ruang tengah dan menyelinap selimutnya. Aku memeluknya di bawah selimut, posisi kami saling tumpang tindih. Aku begitu ketakutan, tanganku tak lagi mampu menahan suara petir yang begitu tinggi dan datang tanpa diduga. Wajahku tepat di dada bidangnya, sekalipun berbatas baju aku masih bisa merasakan kehangatannya. Aku merasa aman tidur tepat di atasnya, yang aku heran sepertinya kerbau tampan satu ini sama sekali tidak terusik dengan suara yang memekakkan tadi. Dia bangun mungkin merasa tiba-tiba ada beban di atas badan yang membuatnya sulit bernapas.

“Jamie? Sayang? Kamu kenapa kok tiba-tiba disini?” tanyanya kebingungan.

“Tadi ada geledek gede banget mas. Aku takut,” jawabku semakin erat memeluknya.

Dia pun mengelus lembut kepalaku, “Yaudah yuk. Aku temenin kamu di kamar,”

Kami pun berjalan menuju ranjang. Inilah yang aku tunggu sekian lama. Benar kata pepatah ada berkah di sela musibah.

Korban ke Sekian – Part 1 – END

Wait for the next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s