Kurang Empat Soal

Di Rabu pagi yang diselimuti gerimis Mono berangkat dengan Honda Varionya ke sekolah dengan berbalutkan jas hujan berwarna kuning. Tak seperti pagi biasanya, yang satu ini dia agak terburu-buru karena adiknya yang mendahuluinya ke kamar mandi dan membuatnya menunggu selama lebih dari 30 menit. Yang biasanya pukul setengah tujuh tepat sudah stand by di  depan ruang ujian bersama teman-temannya kali ini pukul tujuh dia masih di jalan menunggu si lampu lalu lintas mengedipkan mata terbawahnya. Cepatlah, katanya dalam hati sambil melihat penghitung detik yang menempel di tiang lampu itu dan menunjukkan angka 59.

Tak berapa lama dia sudah sampai 30 meter dari gerbang sekolahnya. Karena rintik hujan agak berkurang, dia berpikir untuk melepaskan jas hujan yang unyu-unyu itu. Dia takut jika di sekolah nanti banyak pasang mata tertuju padanya layaknya Miss Indonesia. Mono sangat benci apabila orang-orang melihatnya. Dia bukanlah tontonan. Dengan tergesa-gesa dia lalu melipat jas hujannya dan menaruhnya di pijakan motor. Kiranya jas hujan itu marah akibat tak dilipat dengan rapi. Biar sajalah. Keburu telat, pikir Mono. Dia pun menyalakan motornya dan menuju ke parkir sekolah sebelah timur.

Selesai memarkirkan motor Mono berjalan menuju ke depan ruang ujiannya. Hari ini ujian mata pelajaran Biologi. Di sana sudah banyak teman sekelasnya yang membuka buku, membahas soal tahun lalu atau sekedar membaca-baca SKL yang telah diberikan oleh Ibu Iswa, guru Biologinya. Mono lalu memilih duduk di bangku di dekat Sam yang sedang membaca SKL.

Tiba-tiba Sam nyolot, “Heh. Bendahara. Kok SKL punyaku cuma ada 46? Gimana sih, fotokopinya?”

Selaku bendahara yang tidak ingin pamornya turun Mono membela diri, “Semuanya kayak gitu kali. Coba liat punya yang laen. Orang fotokopinya aja nggak apa-apa kok!”

Sam lalu mencari-cari dan dia menemukan SKL Biologi milik Alifia, melihat bagian belakangnya dan menemukan angka 46 di bagian bawah.

“Tuh, kan! Berarti nanti soalnya cuma 46.” gertak Mono. Sam hanya menjeb. Mono menang.

Bel masuk ujian pun berbunyi. Akhirnya. Anak-anak yang sedang belajar langsung heboh.

Dengan sikap tenang Mono mengeluarkan perkakasnya dan masuk ruang ujian dengan penuh percaya diri. Maklumlah dia yang mantan anggota Klub Biologi kelas dua dulu dan asisten Bu Iswa yang selalu menggantikan beliau saat berhalangan, baginya Biology is like a piece of cake. Soal Biologi apapun dari SD sampai Perguruan Tinggi dari ecek-ecek sampai soal olimpiade semua bisa. Bisa dibaca maksudnya kalau dijawab dengan tepat belum tentu ya.

Soal dan lembar jawab sudah diatas meja, pensil sudah diraut dan bel mulai ujian sudah dibunyikan. Seperti biasa pengawas yang kali ini adalah guru agama Katholik mengingatkan untuk mengecek soalnya terlebih dahulu dan seperti biasa pula Mono menghiraukan perintah itu dan langsung mencoret-coret soal berkode B itu.

Tiga puluh menit berlalu dan Mono telah mencapai soal tentang sistem saraf yang berarti dia sudah mencapai separuh soal meskipun tak tahu apakah soal itu sama dengan SKL atau tidak. Setiap kali ada soal yang tidak ada jawabannya di pilihan dia selalu menyalahkan soalnya bukan mengoreksi pekerjaannya. Pukul 8.30 Mono telah mencapai lembar akhir dan berhenti di nomor 46.

Hanya 46 soal? Sama seperti di SKL. Bu Iswa mepet banget sih kenapa nggak 45 aja? Ooh mungkin sebenarnya soalnya 45 tapi yang satu buat gantiin soal yang di depan, kan ada yang salah. Ada-ada saja Bu Iswa, pikir Mono.

Menunggu satu jam itu membosankan. Itulah yang dirasakan Mono. Yang dilakukannya hanyalah menggambari soalnya dengan gambar-gambar binatang invertebrata kemudian menamainya menggunakan bahasa Inggris. Mollusks, Arthropods, Echinoderm, Annelids, sungguh gabutnya mas Mono ini. Selain itu memperhatikan dua pengawas yang sedang berbincang menceritakan keluarganya–mungkin–atau memperhatikan Rama dan Dina yang setiap kali ujian pasti ijin kebelakang. Sepertinya tubuh mereka sudah dikontrol oleh otak agar saat berada dalam tekanan seperti ini harus segera membuang hasil metabolismenya. Namun, teori Mono langsung dibantahkan karena mereka tidak ke kamar mandi kalau berada dalam tekanan yang lebih tinggi seperti fisika atau matematika.

Pukul sembilan, saatnya bagi Mono untuk menghitamkan lembar jawab komputernya. Lima belas menit kemudian dia mencapai nomor terakhir yaitu 46 dan dia menghitamkan untuk terakhir kalinya pula dan sengaja mengosongkan 4 nomor terakhir di lembar jawabnya karena dia pikir memang soalnya hanya 46 butir. Tak lama kemudian bel dibunyikan tanda selesai ujian. Mono dengan percaya dirinya meninggalkan ruangan ujian padahal teman-temannya yang lain masih gelagapan setelah mendengar bunyi bel.

Di depan ruang ujiannya Mono duduk dan segera belajar untuk ujian berikutnya. Kali ini adalah Pendidikan Kewarganegaraan. Pelajaran yang tidak begitu harus dikhawatirkan bagi Mono. Dia hanya mengerjakan soal tahun lalu yang rumornya isinya akan beda dengan soal tahun sekarang. Tiba-tiba Iffa memanggilnya dan memperlihatkan gambar sel yang sedang mengeluarkan isinya. Soal latihan Bu Iswa.

“Menurutmu ini apa? Endositosis atau eksositosis? Ekso, kan?”

“Endo mungkin,” jawab Mono ragu-ragu. Sebenarnya dia hanya melihat pilihan D yang telah diberi warna merah oleh Bu Iswa.

“Yakin? Ini kan arahnya keluar liat baik-baik! Ini dalemnya yang ini,” Iffa tidak terima.

“Oh. Iya-iya. Itu ekso. Dia keluar kok, ya,”

Tak hanya Iffa saja yang masih membahas soal biologi. Teman-teman yang lain juga ada yang menyesal salah melingkari atau merasa senang jawabannya sama dengan anak yang pintar. Tapi juga tidak sedikit yang bisa move on dan langsung belajar PKN, termasuk Mono.

Siangnya seusai ujian Kewarganegaraan tidak ada apa-apa. Tidak ada komentar, protes, penyesalan atau apalah yang selalu dilakukan anak-anak seusai ujian matematika atau fisika. Mungkin ada satu dua anak yang membahas soal PKN. Mono duduk di bangku memasukkan peralatannya ke tas. Setelah itu tidak ada. Membosankan. Tapi akan lebih membosankan jika pulang ke rumah. Entah mengapa. Tiba-tiba Sam mengejutkan Mono, “Ngapain nih?”

Mono menaikkan bahunya, “Aku mau ke kantin mau beli bakwan kawi,” tiba-tiba saja kadar glukosa dalam darahnya berkurang.

“Ke perpus dulu, yuk. Ini kan hari Kamis, nggak liat Naruto?”

“Oh, iya. Ayo.”

Mereka berdua pun melangkah. Sesampainya di perpus suasananya sepi. Hanya ada beberapa anak yang belajar atau sibuk dengan urusannya di depan laptop atau komputer perpustakaan. Mono dan Sam langsung menuju ke komputer kosong. Mono membuka situs yang biasanya ia buka untuk membaca komik daring tetapi terjadi kesalahan. Dia tak dapat membuka situs langganannya itu. Di layar monitor bertuliskan “Blogger telah dihapus.” Sayang, situs manga langganannya tak bisa dibuka, lantas dia mencari situs lain yang juga ada manga. Setelah agak berapa lama Mono membaca manga, dia merasa bahwa dia pernah membaca bagian itu dan dia lihat bagian akhir bertuliskan “MINGGU DEPAN LIBUR”. Bodoh. Itu kan manga minggu lalu yang telah dibacanya yang mengindikasikan bahwa manga minggu ini tidak terbit. Sam memberi harapan palsu.

Di perpustakaan mereka juga sedikit membahas tentang ujian biologi tadi. Setelah dicocokkan ternyata jawaban Mono lebih banyak yang benar daripada punya Sam. Sam kecewa dan akan terus mencari kesalahan Mono.

“Udahan, yuk!” ajak Sam.

“Ke kantin dulu, ya. Pengen jajan,” ajak Mono.

Di kantin yang lumayan ramai mereka berdua melihat Ikha dan Iffa makan sambil membahas soal-soal ujian tadi. Mono dan Sam mendekati mereka dan ikut bergabung.

“No, tadi kamu yang sel jawabnya apa? Endositosis atau eksositosis?” tanya Ikha.

“Itu soal yang mana? Perasaan aku nggak ngerjain yang kayak begituan.”

“Halah tadi yang soal terakhir. Kamu B, kan?”

Mono hanya menggeleng.

“Wah pasti kamu lupa tapi kayaknya pasti kamu dapet 100 deh,” harap Ikha.

“Amin,” ucap Mono.

Kemudian Mono berdiri dan berjalan menuju abang batagor dan kembali dengan sebungkus batagor dua ribuan. Di sana sudah ada Rama yang bergabung. Dan sekali lagi mereka membahas soal tentang sel yang Mono pun tak tahu apakah soal itu benar-benar ada dan dia melewatkannya? Ah, tidak mungkin, pikirnya, karena dia tadi telah mengerjakan semua tanpa melewatkan satu pun, semuanya, sebanyak 46 soal.

“Heh, kalian ini buat apa sih bahas-bahas? Lagian juga nggak bakalan ngrubah nilai kita, kan?” Rama pasrah.

“Biarin. Emang kenapa?” seru Iffa.

“Membahas soal ini biar kita nanti tahu letak kesalahan kita dan kita tidak salah lagi ke depannya,” jelas Ikha.

“Bener tuh. Bener. Emang situ jawab bener atau salah pasrah,” tambah Sam.

“Weh. Nggak yo. Kalau tadi aku yakin bisa,” Rama membela diri.

Mono lebih memilih berdiam diri. Listening and understanding. Karena dia masih ragu-ragu dengan jumlah soal yang tidak biasa tadi, Mono memutuskan untuk bertanya pada Ikha, “Tadi soalnya empat puluh enam, kan?”

“Heh, lima puluh, ya!” Ikha membenarkan. “Temen-temen tadi soalnya lima puluh, kan?” semua anak di meja itu mengangguk.

“Yah, berarti aku kurang empat, dong,” sesal Mono.

“Tadi kamu nggak cek soalnya?” tanya Iffa.

“Sudah, cuma empat puluh enam di lembar soalku,” jawab Mono.

“Kalau empat puluh lima kan wajar, lhah ini empat enam apa nggak ganjel?”  kata Ikha.

“Lhah aku tadi liat SKL punya Sam juga cuma empat enam di sana?”

“Jadi, kamu LJK nggak buletin empat?” tanya Rama.

Mono menggeleng.

“Cerdas,” ejek Rama.

Mendengar temannya tertimpa musibah Rama dan Sam malah tertawa keras dan bebas. Iffa cengengesan

“Padahal aku tadi udah do’ain biar dapet sepuluh,” sesal Ikha prihatin.

“Berarti kamu udah salah empat, kan? Akhirnya. Pantesan kok kamu belum salah-salah. Eh malah udah salah empat,” ucap Sam. Mono tidak tahu harus berekspresi seperti apa.

Anehnya. Tadi pagi Mono melihat SKL hanya 46 soal. Soal yang asli juga hanya 46 dan tepat nomor 46 berakhir di bagian paling bawah. Berarti empat soal terakhir berada di lembar soal terakhir yang tercecer. Inilah yang membuatnya berpikir bahwa soalnya hanya 46 buah.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s