Bukan Milikku

Dengan hati-hati dan memeriksa berkali-kali, Nia memasukkan nomor ujian beserta password-nya, memilih menu hasil seleksi, memeriksa monitor dengan serius dan tetap berdoa dalam hati.

Nia melihat hasilnya. Dia berhasil. Dia telah lolos seleksi dan menjadi calon mahasiswa Fakultas Kedokteran UDM.

Masih tidak percaya, sampai sepuluh kali Nia me-refresh browser-nya dengan mata yang berkaca-kaca.

Setelah memastikan bahwa tidak mungkin salah lihat, Nia pun bersujud dan banyak-banyak mengucap syukur. Usaha yang keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Dia pun memberitahukan kabar gembira ini kepada keluarganya dan mereka menyambut dengan baik serta memberikan harapan-harapan indah untuk masa depannya. Banyak temannya yang mengunggah status di media sosial baik ucapan syukur ataupun penyemangat diri agar berusaha lebih baik lagi. Nia memilih untuk merahasiakannya dari orang luar dan bilang akan berusaha lebih baik lagi besok jika ada yang bertanya padanya. Maksudnya berusaha lebih baik lagi sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran.

Namun, ibarat menyimpan durian semua orang pasti akan mencium baunya, hanya butuh beberapa hari bagi teman-teman untuk berhasil mengendus kabar baik itu. Saat di sekolah ketika acara cap tiga jari pun banyak yang memberinya ucapan selamat tak terkecuali Rama. Anak itu juga berkelakar bahwa jika bukan karena dia, Nia tidak akan bisa seperti saat ini.

Beberapa hari sebelumnya Nia telah mempersiapkan ucapan terima kasih untuk Rama. Di samping sifatnya yang menjengkelkan, dia tahu bahwa Rama juga dapat memberikan semangat baginya untuk terus berusaha. Dia sengaja mampir ke toko kue untuk membeli beberapa cupcake dan berencana untuk memberikannya pada anak itu. Awalnya dia berpikir bahwa cupcake ini hanyalah ucapan terima kasih dan tidak perlu diberi ucapan tetapi ujung-ujungnya tetap ditulis kata-kata mutiara pada kartu berwarna hijau itu.

Kalau dipikir-pikir begitu banyak hal yang telah terjadi selama dua tahun belakangan. Sejak Rama hadir dalam kesehariannya dan menjadi penghambat sekaligus pemberi motivasi untuk terus mengejar mimpinya. Pernah dirinya sempat down dan sampai meliburkan diri gara-gara mulut pedas anak itu, tetapi kemudian membuatnya berpikir.

Apa yang akan dikatakan olehnya kalau memang aku dapat membuktikan cita-citaku untuk menjadi dokter?

Sejak saat itulah Nia memutuskan untuk mengenyahkan apapun yang keluar dari mulut Rama dan menjadikannya sebagai penyemangat untuk tetap berusaha. Selama dua tahun ini beberapa bulan yang lalu adalah bagian klimaksnya dimana dia merasakan cemburu terhadap anak itu untuk pertama kalinya. Dia merasa sangat bodoh dan selalu tertawa kecil saat mengingatnya.

Acara cap tiga jari untuk ijazah telah usai. Anak-anak yang tidak mempunyai urusan lagi lebih memilih untuk pulang atau jalan-jalan menikmati liburan. Nia sengaja menunggu hingga hanya ada satu dua orang di kelas tapi masih ada beberapa anak yang tengah asyik bercengkrama ketika Rama memutuskan untuk pulang.

“Aku duluan ya, Ren. Sampai jumpa,” pamitnya ke Reni yang sedang mengobrol padanya.

Rama masih bisa terkejar akan tetapi alih-alih belok kiri menuju tempat parkir dia malah lurus. Di tangan kanannya terpegang dua buku. Nia berpikir bahwa anak itu akan mengembalikan buku ke perpustakaan. Dia berusaha mengekori dalam jarak aman agar tidak ketahuan dan tidak terlalu ketinggalan.

Begitu memasuki perpustakaan anak itu menghilang padahal sudah dipastikan dia belum keluar. Nia menoleh dari kanan ke kiri dengan mata menyisir ke seluruh ruangan hingga ke sudut-sudutnya. Dia juga memeriksa diantara meja baca dan rak buku. Tiba di meja paling ujung yang agak tersembunyi, dia mendengar suara Rama yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang. Tidak mungkin anak itu membaca buku dengan suara yang cukup keras seperti itu. Nia pun memutuskan untuk menunggu sembari memilah-milah buku fiksi dan memikirkan kata apa yang cocok untuk diucapkan ketika memberi “hadiah” pada Rama nanti. Nia berpikir mungkin ini sedikit jahat karena dalam kesunyian perpustakaan dia dapat dengan cukup jelas mendengar suara Rama dan lawan bicaranya yang suaranya sudah sangat dikenal, Nuri.

Bukan Milikku – part 10 – END

Wait for next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s