Bukan Milikku

Momok yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Segala bentuk persiapan yang telah dilakukan akan diuji dan doa-doa yang telah dipanjatkan akan terbukti. Selama empat hari ini siswa dan siswi disibukkan dengan pembuktian diri seberapa bisa mereka menyerap ilmu yang telah diberikan tiga tahun belakangan.

Seusai huru-hara ujian nasional, Nia dan kawan-kawannya belum bisa bernapas lega. Mereka masih harus belajar untuk seleksi masuk perguruan tinggi yang akan datang tujuh minggu lagi. Bagi mereka yang tidak berencana melanjutkan kuliah mungkin sudah puas dengan hasil ujian nasional, namun bagi yang dituntut oleh keadaan sosial untuk melanjutkan pendidikan agar mendapatkan penghidupan yang lebih baik masih harus berusaha lebih ekstra lagi, Nia salah satunya.

Sebulan sebelum seleksi, diumumkanlah calon mahasiswa yang lolos tanpa tes atau lewat jalur undangan. Nama Nia tidak tercantum di fakultas kedokteran yang dipilihnya. Tak sedikit teman-teman yang tidak lolos hanya karena salah memilih jurusan, termasuk Mono. Berbeda dengan Rama yang walaupun terlempar dari komputer, peternakan masih mau menerimanya. Tak ingin melewatkan keberuntungan ini, dia memilih untuk merelakan jurusan idamannya itu. Mungkin lebih karena tak ingin lagi capek-capek belajar untuk seleksi masuk perguruan tinggi ataupun ujian mandiri. Anak-anak lain memberinya selamat.

Nia pun menyalaminya, “Selamat. Anda menjadi calon peternak.”

Merasakan nada ejekan, Rama membalas, “Nggak buruk juga. Toh peternak di Indonesia masih sedikit. Lihat saja aku akan jadi peternak yang sukses. Yang harusnya kamu pikirin tuh kesempatanmu yang tinggal dua kali lagi buat jadi dokter UDM. Jangan minta ajarin aku, ya. Udah males mikir aku.”

“Cih. Emang manusia di muka bumi ini tinggal kamu apa?” Nia kembali ke mejanya.

Persetan dengan ocehan Rama, sekarang yang Nia harus lakukan hanyalah fokus belajar untuk seleksi masuk perguruan tinggi negeri.


Empat belas hari kemudian pengumuman kelulusan. Sepertinya Tuhan Yang Maha Mengabulkan melihat kesungguhan ibadah Nia. Dia lulus dengan nilai rata-rata sembilan, jauh di atas Rama. Nia menang telak di pelajaran bahasa. Modal yang belum bisa dibilang cukup untuk menjadi mahasiswa kedokteran. Meskipun Nia mengejeknya, Rama dapat berkelit dengan statusnya yang sudah fix sebagai mahasiswa UDM dan menunjukkan KTM barunya.

Terlalu fokus belajar membuat Nia lupa dengan hari yang begitu cepat silih berganti. Tibalah dua hari penting dalam hidupnya. Nia mendapat tempat seleksi di gedung Biologi Sel dan Molekuler Fakultas Kedokteran UDM. Mungkinkah ini suatu pertanda?

Hanya tinggal sekali lagi kesempatan Nia, ujian mandiri. Meski yakin dan puas dengan jawabannya kemarin, Nia tetap ingin mengikuti ujian mandiri untuk berjaga-jaga. Anehnya, tahun ini ujian mandiri diadakan sebelum pengumuman seleksi masuk, yaitu dua minggu setelah seleksi masuk perguruan tinggi. Seolah para pembuat kebijakan kampus tak memberikan waktu bagi otak Nia untuk beristirahat.

Karena sudah resmi lulus dari SMA dan tidak sekolah lagi, Nia mengambil jadwal bimbel dari pagi hingga siang seperti jam sekolah. Sorenya masih ditambah les privat yang kebetulan tutornya adalah tetangganya sendiri yang sedang berkuliah di Fakultas MIPA UDM. Malamnya, belajar mandiri mengulang apa yang telah dipelajarinya seharian ini. Di sela-sela tidurnya, Nia masih menyempatkan waktu untuk berduaan dengan Sang Penguasa Takdir di atas sajadah di bawah temaram lampu tidur kamarnya. Nia berharap bahwa Tuhan akan mengabulkan doanya sama seperti saat DIA melakukannya pada hasil ujian nasionalnya. Bimbel, privat dan belajar. Selama dua minggu ini setiap hari Nia mengulangi tiga hal tersebut tanpa bosannya.

Hari yang ditunggu pun akhirnya tiba. Kali ini Nia harus bersungguh-sungguh karena ujian mandiri adalah kesempatan terakhirnya untuk dapat berkuliah di universitas negeri. Jika yang ini gagal dan seleksi masuk tidak dapat memberikan hasil yang diharapkan, mau tidak mau Nia harus kuliah di universitas swasta yang biaya masuknya saja melejit selangit sampai menyentuh ubun-ubun. Atau lebih buruk lagi, dia harus menunggu setahun lagi dan menjadi pengangguran. Ujian mandiri berlangsung dengan lancar. Sekarang yang Nia tinggal lakukan hanyalah menunggu, berdoa dan menyerahkan hasil usahanya kepada Tuhan.


Dua minggu kemudian pengumuman seleksi masuk. Jantung berdebar-debar, keringat dingin mengucur dengan derasnya dan tangan pun ikut tremor hanya untuk membuka situs web dan mengecek hasilnya. Dengan hati-hati dan memeriksanya berkali-kali, Nia memasukkan nomor ujian beserta password-nya. Memilih menu hasil seleksi dan memeriksa monitor dengan serius dan tetap berdoa dalam hati.

Nia melihat hasilnya.

Masih tidak percaya, sampai sepuluh kali Nia me-refresh browsernya dengan mata yang berkaca-kaca.

Bukan Milikku – part 9 – END

Wait for next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s