Bukan Milikku

PicsArt_08-31-12.55.11

Source: danfinnen.com/wp-content/uploads/2013/10/tabletop-3453.jpg

Tenggat waktu yang diberikan Pak Hasyim selama tiga minggu membuat selama itu pula sepulang sekolah Nia harus berkunjung ke rumah Rama. Selama itu pula kedua remaja itu dapat saling mengerti satu sama lain. Yang tadinya kerja kelompok dihiasi saling ejek jurusan sekarang mereka berdua lebih bisa saling menghargai pilihan masing-masing dan dapat saling memotivasi satu sama lain. Mono menyelesaikan maket pada hari kesepuluh dan tidak lagi berkunjung ke rumah Rama. Tugasnya yang tersisa hanya tinggal menyempurnakan desain yang dapat dilakukan di rumah tetapi Mono tetap meninggalkan maketnya di rumah Rama dengan alasan dekat dengan sekolah.

Hari terus berlalu dan hanya mereka berdualah yang masih sibuk menyelesaikan maket padahal desainnya telah jadi lebih dulu. Sepuluh hari tersisa sepertinya cukup untuk membuat kedekatan mereka bertambah. Sekarang tidak hanya finishing dan dekorasi maket saja yang dikerjakan tetapi juga menyelesaikan PR, menggarap tugas lain dan belajar untuk kelas jam ke nol esok harinya. Nia agak lemah di bidang menghafal terutama pelajaran biologi tetapi untuk pelajaran bahasa tidak ada satu pun jawaban di soal-soal bahasa yang tak diketahuinya. Beda dengan Rama yang masih bingung dengan pelajaran bahasa yang jawabannya tidak pasti namun jangan tanya tingkat hafalannya, baca dua tiga kali langsung nempel di kepala. Yah, walaupun hanya bertahan semingguan. Mereka berdua saling bahu membahu untuk belajar agar dapat menaklukan ujian nasional dan seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri.

Karena seringnya, acara pergi ke rumah Rama menjadi suatu kebiasaan bagi Nia. Setiap hari sepulang sekolah bukannya mengarah pulang ke rumah melainkan ke arah yang berlawanan menuju rumah Rama dengan alasan belajar bersama. Kadang bawa bekal kadang numpang makan sampai Nia akrab dengan keluarga Rama. Hingga suatu hari ketika mereka berdua tengah bergelut dengan integral tak tentu, bel pintu Rama berbunyi. Nia membiarkan Rama membukakan pintu dan mempersilakan tamunya masuk.

Terlihat seorang gadis bertubuh mungil bermata setengah sipit dengan senyum yang manis. Nuri, sahabat Rama kelas IPS B. Setelah masuk ke ruang tamu dia pun duduk di kursi seberang seolah tak mempedulikan keberadaan Nia.

“Jangan bilang kamu lupa, kita kan mau ambil foto buat kartu ujian,” katanya dengan santai sembari mengeluarkan kamera.

Rama hanya menggaruk kepala yang kebetulan gatal dan tersenyum kecut.

“Bentar ya, Ni,” pesan Rama dan mereka berdua menuju halaman depan untuk jeprat-jepret ria.

Saat itu pikiran yang melintas di benak Nia adalah sempat-sempatnya jalan dari sekolah hanya untuk minta difotoin padahal di sana jauh lebih banyak teman yang bisa dimintain tolong. Yah, mungkin Nuri punya alasan tersendiri. Tapi tunggu, kenapa Nia seperti merasa cemburu? Tidak, tidak, tidak. Buru-buru dia menggelengkan kepalanya.

“Nak Nia? Ramanya kemana?” tanya ibu Rama menyadarkan lamunannya.

“Oh, lagi di depan Bu. Tadi ada temennya dateng.”

Beberapa detik setelah si ibu sampai di depan terdengar perbincangan yang seru. Rupanya Nuri selangkah lebih maju dalam hal keakraban. Tunggu, kenapa tiba-tiba dia membandingkan dirinya dengan Nuri? Rama pun menghampiri ketika Nia memutuskan untuk menyudahi les privat ini.

“Loh, kok diberesin? Kan tadi belom selesai soal nomer enamnya,” tanya Rama.

“Udah sore, Ram. Aku mau balik dulu,” jawab Nia.

“Eleh. Biasanya juga habis Maghrib baru balik. Ibu masak banyak hari ini, ikutlah makan malam. Kenapa sih kamu kok tiba-tiba begini? Nggak biasanya,” Rama mulai curiga.

“Toko lagi rame juga, tadi di-sms suruh balik,” Nia berbohong.

“Lagian juga kamu didatengin sama Nuri,” tambahnya.

“Ntar dia juga balik, orang cuman minta difotoin doang. Soalnya tadi waktu istirahat dia yang minta dan aku lupa malah langsung pulang. Udahlah, bantuin selesein ini dulu dong. Ya?” pinta Rama sembari menunjuk coretannya yang belum selesai.

Nia pun mengalah. Beberapa menit tenggelam dalam materi kalkulus, ibu Rama memanggil. Memintanya untuk mengantar Nuri. Yang dipanggil langsung menekuk muka.

“Aku tinggal dulu, oke kan?”

Nia mengangguk, “Ini juga tinggal dikit kok. Silakan.”

Sepeninggalan suara motor Rama di ujung jalan, Nia kembali terpaku pada soal, tetapi benaknya melayang-layang entah dimana memberikan gambaran Nuri dan Rama yang sedang berboncengan. Kenapa ini? Nia sama sekali tidak ada sesuatu yang spesial dengan cowok yang suka meledeknya itu. Tapi kenapa di sudut terkecil di hatinya ada rasa iri dengan Nuri dan harapan untuk menggantikan posisinya dibonceng oleh Rama. Terbayang obrolan dan guyonan oleh Rama di tengah jalan jika itu Nia yang dibonceng. Benci. Tak sadar tangannya meremas kertas hasil kerjaan Rama. Konsentrasinya buyar ketika berusaha menerjemahkan susunan angka menjadi frame samar kebahagiaan kecil Rama dan Nuri. Tuhan. Ini tak mungkin dapat dilanjutkan lagi. Akhirnya Nia benar-benar memutuskan untuk mengemasi peralatan dan menyudahi kegiatan belajar bersama sebelum UNAS ini. Berpamitan dengan alasan ditelpon mama dan meninggalkan secarik catatan di meja. Nia kemudian membawa motornya perlahan menjauhi rumah yang kecil nan hangat itu. Di jalanan pun Nia tak kunjung mampu mengalihkan pikirannya meski telah berusaha.

Entah kenapa kebiasaan belajar bersama selama ini membuatnya lupa bahwa Rama tidak hanya menghabiskan waktu untuk dirinya saja. Rama tidak cuma menjadi teman sekelasnya tetapi juga siswa SMA, alumni SMP, penduduk kampung dan masih banyak lagi. Waktu sepulang sekolah yang dimiliki Rama tidak cuma diperuntukkan baginya saja dan kedatangan Nuri tadi membuktikannya. Sekarang Nia sadar akan keserakahannya dan tahu apa yang akan terjadi jika hal ini terus berlanjut. Kemungkinan dia akan merasa semakin nyaman dan malah kehilangan ketika Rama didatangi sahabat lamanya, menghadiri acara kampung ataupun bermain dengan temannya yang lain. Satu-satunya jalan agar Nia bisa kembali seperti keadaan sebelum mengerjakan maket adalah dengan mengurangi intensitasnya bersama Rama. Toh nggak cuma Rama saja temannya. Masih ada teman sekelas yang lain, teman tempat dia ikut bimbel juga keluarganya. Sudah cukup lama Nia tak berbincang santai dengan papa, mama dan kakak-kakaknya yang sangat dia cintai. Mulai besok kalau tidak diajak, dia tidak akan main ke rumah Rama. Sudah waktunya membiarkan cowok itu belajar dengan temannya yang lain.

Bukan Milikku – part 7 – END

Wait for next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s