Bukan Milikku

Akhirnya Nia memutuskan sore ini untuk mengerjakan tugas biologi. Sembari menyalakan laptop dan mepersiapkan bahan-bahan tugas, Nia mengerling jam dinding di ruang tengah, pukul empat lebih tiga puluh menit. Padahal perjanjian awal seharusnya mereka sudah mulai bekerja satu jam yang lalu. Di meja sudah tersaji toples-toples penuh camilan. Nia teringat sesuatu, dia pun beranjak ke dapur membuat satu teko penuh es limun. Di tengah keasyikannya memeras limun, terdengar salam dan ketukan pintu. Nia bergegas lari menuju pintu depan dan menjawab salam.

“Lama banget sih bukanya. Tidur ya?” ucap Rama setelah Nia membukakan pintu.

“Maaf. Aku lagi – “

“Nia. Aku lagi pilek jadi tidak minum es,” sela Mono.

Seperti biasa, Mono si cowok misterius pasti tahu apa saja yang sedang disembunyikan atau yang akan terjadi.

“Kau membuat es limun, kan?” tambahnya memastikan.

Nia mengangguk.

“Waaaaahhhhh,” Rama langsung nyelonong masuk.

Muka Nia cemberut lalu mempersilakan Mono masuk, “Ayo Mon!”

“Permisi. Maaf mengganggu,” bisik Mono datar.

“Eh, ada keluargamu, ya?” tanya Rama setengah membuka toples kue kacang.

“Nggak ada. Semua lagi pada jaga toko. Aku sendirian di rumah,” jawab Nia agak lantang.

Di dapur dia melanjutkan membuat es limun.

“Keluarganya yang lain. Yang sudah lama menetap disini,” jelas Mono mengeluarkan buku-buku biologinya.

“Sok indigo,” gumam Rama melahap beberapa camilan.

Mono meliriknya kemudian berkata, “Beberapa hari lagi wajahmu akan tumbuh jerawat.”

“Eleh, nggak usah sok ngeramal. Kali ini siapa yang ngasih tahu? Temen astralmu? Penunggu rumah ini?” Rama mulai sebal.

“Kau terlalu banyak makan kue kacang,” jawab Mono singkat.

“Hus! Jangan ngomong kayak gitu dong. Aku sendirian nih di rumah,” ujar Nia datang dengan membawa seteko es limun segar, gelas dan sebotol air putih.

Rama langsung menyerbu begitu nampan diletakkan. Melihatnya, Mono menggelengkan kepala lalu kembali berkerja.

Tepat saat langit berubah jingga Reni datang, meminta maaf atas keterlambatannya karena urusan di OSIS, duduk, meneguk segelas penuh es limun, mengambil koran di bawah meja untuk kipasan dan akhirnya sibuk dengan handphone-nya.

“Sok Tuan Putri,” ledek Rama.

Reni tak menghiraukannya lantas berbicara pada Nia, “Nia, ntar aku izin jam tujuh ya. Soalnya dikampungku ada rapat pemuda.”

“Heem,” Nia mengangguk.

“Berarti kamu harus kerjain soal-soal yang awal, kan pulangnya duluan,” suruh Rama.

“Ya nggak bisa gitu dong. Ini kan tugas kelompok, harus dikerjain bareng-bareng lah,” Reni tidak terima.

“Kalau begitu enak dong kamu. Datang terakhir minta pulang duluan. Kesini cuma ngapain? Mau kerja kelompok apa mau ngadem? Mending nggak usah dateng sekalian. Atau kamu nggak bener-bener lagi ada acara?” komentar Rama pedas.

“Mana mungkin aku bohong! Kurang kerjaan banget,” ucap Reni agak membentak.

“Atau jangan-jangan kamu nggak bisa ngerjain soal mudah itu?”

Reni terdiam, meletakkan handphone layar sentuhnya dan mempersiapkan alat tulis dan buku.

“Kalian bertiga, kerjain separuh awal saja. Aku yang separuh akhir, yang agak susah. Kalau tidak bagi tugas tidak cepat selesai,” pinta Mono.

“Kenapa nggak kamu kerjain semuanya sekalian? Bukankah bisanya begitu?” usul Reni.

“Ketahuan kan kalau memang nggak bisa,” ejek Rama.

“KAMU YA! Sejak presensiku di bawahmu dan sejak kita selalu sekelompok, aku selalu tidak niat untuk kerja kelompok denganmu. Kurasa aku adalah murid yang paling sial sekelas karena apa? Itu karena kau! KAU! Yang selalu mencibir, meledek dan meremehkan. Kau pikir kau ini yang paling bisa apa? Kau pikir – “

“CUKUP!” teriak Nia.

“Guys, please. Kali ini aja. Kerja kelompok kita yang terakhir. Kita kerjain bareng-bareng. Sebisa kita dulu, sisanya kita serahkan Mono, dia kan yang paling ahli di bidang ini. Toh ini juga untuk kebaikan kita, kan? Kita jadi tahu materi yang diajarkan Bu Iswa.”

“Kurasa Dewi Yustisia akan marah dengan keputusanmu, Nia,” bisik Mono lirih.

Nia memelototi Mono. Akhirnya mereka mengerjakan tugas bersama-sama. Empat puluh menit kemudian Reni ditelfon dan minta izin untuk pulang duluan. Matanya yang tak menatap Rama sama sekali mengisyaratkan bahwa pertengkaran tadi belum berakhir. Sepuluh menit berlalu Mono meminta izin untuk buang air besar meninggalkan Nia dan Rama hanya berdua saja. Pekerjaan sudah hampir separuh selesai.

“Mono kok lama ya?” Nia keheranan.

“Diare kali,” Rama tertawa kecil.

Sepuluh menit lagi lewat dan dua sejoli itu pun masih berkutat pada nomor yang itu-itu saja. Soal tentang persilangan yang membuat kepala mereka berdua panas dan konslet. Mono si juru kunci juga tak kunjung beranjak dari singgasananya.

“Susah banget sih!” geram Rama.

Nia hanya terdiam, sibuk mengerjakan.

“Heh. Nia. Kamu kan calon dokter, masa kayak gini nggak bisa?” lanjut Rama.

“Ini kan soal tentang tumbuhan. Mana ada hubungannya sama dokter,” balas Nia.

“Apa bedanya? Yaudah, kamu kerjain soal tentang manusia yang nomer tujuh tuh. Aku mau tidur. Ngantuk tahu soal susah banget, nggak selesai-selesai,” Rama pun merebahkan diri di sofa warna krem dan berbantalan dengan bantal duduk.

Nia memutuskan untuk melihat keadaan Mono di toilet. Ternyata belum selesai dengan urusannya. Kembali ke ruang tamu, Nia pun meneguk es limun yang sudah tidak dingin lagi dan kembali mencoba mengerjakan soal-soal biologi yang sedari tadi tak kunjung bertambah jumlah soal yang terjawab. Saking nikmatnya atau saking sulitnya Nia pun tanpa sadar tenggelam ke alam mimpi dengan menjatuhkan kepalanya di atas meja.

Bukan Milikku – part 2 – END

Wait for next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s