The Most Beautiful Word

thekidwhisperer.wordpress.com

“Ayo Bony, Sayang. Salaman sama Om,” suruh ibunya.

Dia agak-agak takut menyambut tanganku yang sedari tadi mengarah padanya. Tak lupa kusunggingkan senyum lebar-lebar.

“Maaf lahir batin, Om. Bilang gitu, mana mulutnya? Hmmm, dasar anak ibu pemalu,” ucap kakakku saat dia menyalami tanganku dan malu-malu menatapku.

Dia kembali lagi bersembunyi di belakang ibunya. Aku dan kakak dibuat tersenyum dengan tingkahnya. Anak itu bernama Bony baru mau masuk SD Agustus depan. Anaknya memang jarang bicara terlebih dengan orang yang baru baginya. Sebenarnya aku tidak begitu baru sih, hanya karena aku tinggal jauh dan bisa ketemu keluarga tiap momen seperti ini. Karena jarang ketemu mungkin Bony jadi malu denganku.

Keponakanku yang satu ini memang beda, tak seperti saudara sepupunya yang langsung berebut salaman, lari kesana kemari bikin ramai seisi rumah. Bony lebih sering nempel sama kakakku dan kalau menginginkan sesuatu hanya berbisik pelan pada ibunya. Namun, disitulah yang membuatku tertarik, anak itu memang jarang bicara tapi sekali ngomong orang-orang akan bingung bagaimana menanggapinya. Yah, walaupun yang sering mendengarnya cuma kakak dan suaminya.

Seperti kali ini, dia rewel sebab ibunya mau sholat dan bapaknya tak tahu pergi kemana nggak mau ditinggal sendiri disuruh ikut sholat juga enggan. Aku pun berinisiatif untuk membujuknya sebelum dia malah mewek dan bikin riweuh.

“Bony, lihat om punya apa buat Bony?” panggilku seraya melambaikan selembar uang.

“Tuh si om mau kasih apa tuh?” ucap kakak yang masih digendolinya.

“Kalau Bony nggak mau om kasihin ke Ucok lho,”

Anak itu mendongak menatap ibunya.

“Sana jajan sama om. Ibu mau sholat dulu, Sayang,”

Bony pun melangkah mendekatiku, begitu dia mengambil uang langsung kugendong anak itu. Kuajak menjauh mumpung perhatiannya teralihkan. Aku mengacungkan jempol ke kakak.

“Nah, sekarang Bony mau beli apa?” tanyaku sesampainya di teras.

Dia menggeleng, “Kata ayah kalau tanggal merah toko-toko tutup terus kata ibu kalau dapet uang suruh di tabung biar bisa beli buat besok-besok.”

Aku tersenyum mengacak rambutnya, “Ya sudah, uangnya disimpen dulu di saku. Nanti masukin celengan di rumah.”

Sepertinya kami sudah mulai akrab hingga dia celingukan ke dalam rumah. Sebelum dia rewel mencari ibunya kualihkan perhatiannya.

“Hari ini Bony sudah dapet uang dari siapa aja?”

“Banyak …. ” dia menyebutkan nama-nama sambil menghitung dengan jari.

“Wuih, tabungan Bony nanti jadi cepet penuh dong,”

Wajahnya merautkan kebahagiaan.

“Om, kenapa lebaran hanya sekali kalau tiap hari kan aku bisa dapet banyak uang?” ini yang kumaksudkan.

“Kalau setiap hari lebaran habis dong uang Om buat dikasih ke Bony,” aku tertawa.

Dia ber-oh tanda paham. “Kalau lebaran harus salam-salaman ya Om biar dapet uang?”

“Bukan Sayang, salaman itu buat minta maaf bukan biar dapet uang,”

“Kenapa minta maaf cuma pas lebaran bukannya tiap hari bisa om?”

Aku mulai kewalahan. Belum sempat aku menjawab dia sudah memberondong lagi.

“Minta maaf itu kan kalau kita punya salah. Memangnya Bony punya salah sama om, ya?”

Aku menarik napas panjang menyantaikan diri. Aku mencubit lembut pipinya sebelum dia bertanya lebih banyak lagi.

“Bony, berpikir kalau Bony tidak punya salah ke seseorang itu saja sudah salah. Jadi, punya salah atau tidak pada seseorang, Bony harus minta maaf dan harus memberi maaf bila ada yang minta maaf. Kita memang bisa minta maaf tiap hari tapi untuk paman yang rumahnya jauh kan tidak bisa tiap hari harus ke rumah nenek buat minta maaf.”

“Kan bisa telpon om?” celetuknya.

“Betul, Bony anak pintar. Tapi kalau Bony mau tahu beberapa orang hanya mau memberi maaf saat kita meminta maaf secara langsung di hadapannya. Begitu. Kalau beruntung bisa dikasih uang kayak Bony.”

“Tapi om kenapa harus minta maaf kalau bikin salah lagi. Kayak Danu, dia minta maaf ke aku terus besoknya dia nakalin aku lagi.”

Aku gemas sendiri. “Gini.Bony pernah dimarahin nggak sama ibu?”

Dia mengangguk.

“Terus Bony minta maaf nggak?”

Dia mengangguk lagi.

“Kalau Bony udah minta maaf apa ibu nggak pernah marah lagi sama Bony?”

Dia menggeleng. “Aku dimarahin lagi kalau nakal.”

“Nah, Bony aja yang udah minta maaf dimarahin lagi. Semua orang itu pasti pernah dan selalu akan bikin salah. Maka dari itu minta maaf tidak hanya sekali. Misal kayak Bony makan, apa setelah makan Bony akan kenyang terus? Pasti lapar lagi, kan? Ya begitulah. Kita harus senantiasa minta maaf, baik merasa bersalah atau tidak. Kalau Bony merasa tidak punya salah itu tandanya Bony anak yang sombong.”

“Bony nggak mau jadi anak sombong. Kata ibu kalau sombong masuk neraka yang panassss banget,” ujarnya sambil geleng-geleng dan ketakutan sendiri.

Begitulah tingkah keponakanku, dia memang jarang bicara tetapi sekalinya bicara kau harus memutar otak untuk menghadapinya. Pun butuh usaha ekstra untuk bisa masuk kedalam dunianya, salah satunya uang.


Satu kata terindah adalah maaf tetapi kenapa hanya kau ucapkan sekali dalam setahun.

Satu kata ajaib adalah maaf tetapi kenapa hanya kau ujarkan saat berbuat salah.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriyah

Mohon maaf lahir dan batin

Tunggu permintaan maafku tahun depan ya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s