Kamu Memang Miliknya

KMM part 3

Hari itu Manda sangat senang. Saat kembali ke ruang ekskul bahasa Jepang wajahnya berseri-seri. Bagaimana tidak? Kau habis mendapat donat kesukaanmu dari orang yang kau cintai dan mencintaimu. Kau habis bersandar dan menangis di bahu orang yang kau sayangi dan menyayangimu. Serta mendapat pelukan hangat dari orang yang kau sukai dan menyukaimu. Saat mengingat pelukan itu, dada Tom yang bidang pas dengan kepala Manda untuk bersandar. Dia sangat menyukai Onii-chan bahkan sampai keringatnya. Namun, kebahagiaan itu hanya akan bertahan hingga ekskul berakhir karena …

Matte kudasai, Manda-chan,” teriak Mia.

“Mia-chan? Nani?

“Mungkin kamu nggak akan percaya, tapi ini beneran. Lihatlah,” tanpa basa-basi Mia langsung memperlihatkan foto di handphonenya.

“Itu terjadi kemarin, karena kau menyuruhku memata-matai Kak Tom jadi aku dokumentasikan,” tambahnya.

Manda terkejut. Seketika donat, bahu dan pelukan yang dia dapatkan dari Tom tadi tidak menyenangkan lagi. Manda jadi benci melihat Onii-channya begitu menikmati menggendong Rhonda. Manda mengepalkan tangan lalu menghela napas.

Mungkin ini sebabnya kenapa Onii-chan tadi minta maaf.

Arigatou, Mia-chan. Aku ambil ini buat barang bukti.”

“Heee?”

“Nanti akan ku kembalikan. Ja ne.”

Manda kemudian berlari menuju auditorium tempat Onii-channya ekskul karate dengan perasaan yang berkecamuk setelah melihat foto di handphone tadi. Namun sesampainya di sana hanya ada anak-anak yang sedang berlatih pemandu sorak tim basket.

Manda melihat seseorang  memakai seragam karate kemudian menanyainya.

“Oh, tadi Tom izin selesai lebih awal soalnya ada urusan kepanitiaan pensi,” jawabnya.

Tidak akan menyenangkan bila membahas masalah ini melalui telepon. Harus langsung empat mata.

Source: www.judachi-martialarts.co.uk

Keesokan harinya sepulang sekolah Manda sudah duduk di depan kelas XI-A-C tetapi seseorang yang sedang ditungguinya tak kunjung keluar hingga salah seorang temannya yang kebetulan melihatnya memanggilkan. Tom pun keluar.

“Onii-chan, lagi ada urusan? Aku ada perlu sebentar.”

“Tidak ada kok,” jawab Tom menggeleng.

Manda pun mengajak Tom ke taman sekolah dan duduk di tempat kemarin mereka makan donat. Kali ini suasana taman agak lebih ramai. Manda lalu mengeluarkan handphone yang Tom tahu kalau itu bukan milik pacarnya.

“Aku pengen Onii-chan jelasin semua ini sejelas-jelasnya,” pinta Manda setelah menunjukkan foto Tom yang menggendong Rhonda.

Tom terkejut dan bertanya-tanya kemudian menjelaskan kepada pacarnya kronologi kejadian itu dari awal hingga akhir.

“Apa Manda-chan akan membiarkan begitu saja jika berada di posisi Onii-chan?” tanya Tom menutup penjelasannya.

“Tapi kenapa harus Rhonda-senpai?” apa Onii-chan akan melakukan hal yang sama jika itu Dona-san, Rama-senpai, Nora-sensei, atau aku?” suara Manda mulai serak.

“Kalau Dona kan gemuk jadi Onii-chan panggil petugas piket UKS untuk membawanya pakai tandu, kalau Rama dia kan cowok masa Onii-chan gendong-gendong cowok jadi dipapah aja juga bisa kan, kalau Bu Nora karena terlalu menghormati jadi mungkin Onii-chan akan minta bantuan petugas piket juga, kalau Manda-chan nggak mungkin lah. Onii-chan akan selalu melindungi pacar Onii-chan dan nggak akan mengizinkan apapun atau siapapun menyakiti orang yang Onii-chan sayang.”

Uso tsuki!” seru Manda mulai menangis.

“Onii-chan nggak ingin lihat Manda-chan dalam kesedihan dan kesakitan. Udah, jelek tahu kalau nangis. Nggak malu itu dilihatin banyak orang. Bukannya Manda-chan udah janji nggak akan jealous lagi?”

“Tapi Onii-chan udah kelewatan,” ujar Manda sesenggukan sambil menghapus air mata menggunakan punggung tangannya.

“Ya udah. Onii-chan minta maaf. Gomenasai. Gomenasai. Buat permintaan maaf, Onii-chan beliin donat kacang lagi ya?”

“Aku nggak lapar!”

“Gimana kalo nanti malam kita nonton. Ini kan weekend,” usul Tom.

“Nggak ada film yang lagi aku suka sekarang. Yaudah Onii-chan aku mau pulang.”

“Lhoh kok masih marah? Mau pulang bareng?”

Manda menggeleng, “Aku bisa pulang sendiri, Itekimasou!

“Nanti Onii-chan maen ke rumah ya?”

“Aku lagi pengen sendiri, Onii-chan,” ucap Manda tanpa membalik badan.

Akhirnya Manda meninggalkan Tom dengan penyesalan tingkat dewa. Menolak traktiran makanan dari orang yang kau sukai dan menyukaimu, menolak ajakan nonton dari orang yang kau sayang dan menyayangimu, menolak pulang bareng dari orang yang kau cintai dan mencintaimu serta menolak apelan dari orang yang selalu kau rindukan dan pastinya juga merindukanmu. Padahal Tom biasanya main ke rumahnya setiap malam minggu untuk menonton anime bersamanya. Ya walaupun dia tahu kalau Onii-channya  tidak begitu suka dengan kartun asal Jepang itu tetapi Tom selalu berusaha membuatnya senang. Cowok itu selalu tertawa saat dia tertawa meski sebab yang berbeda dan selalu menyiapkan tisu dan bahunya saat adegan sedih. Malam ini mau tidak mau dia harus menonton sendirian. Dia juga telah memutuskan kalau malam ini akan menonton tear jerker anime. Dia ingin memuntahkan semua emosinya di depan layar monitor komputernya. Di malam minggu, sendirian, padahal dia tidak jomblo.

Source: www.dakwatuna.com

“Astaga, Manda-chan, kamarmu kayak kapal pecah!” teriak Ami melihat kamar temannya penuh dengan tisu yang berserakan.

“Ada apa denganmu semalam?” tanya Ima sembari melihat sekitar.

“Tadi malam dia nonton Clannad dua season sekaligus tanpa Tom dan menyesal sudah menolaknya untuk datang ke rumah,” jelas Mai datar tepat sebelum Manda menjawab.

“Benar begitu Manda-chan?” tanya Mia sambil membersihkan tisu yang berserakan.

Manda mengangguk, “Arigatou minna, udah mau dateng.”

Manda memang sengaja mengundang teman-teman gengnya ke rumah untuk apalagi kalau bukan curhat. Mereka berlima sebenarnya sahabat yang baik. Setiap salah satunya sedang ada masalah  yang lain pasti akan membantu dan yang paling sering mempunyai masalah adalah Manda dengan kecemburuannya.

“Ini handphonemu Mia-chan. Arigatou! Menyebalkan bukan? Kenapa harus Onii-chan yang menemukannya? Sebel deh!”

Gomen, Manda-chan. Harusnya aku dan Mai nendangnya waktu di pintu keluar aja, kalau disana pasti ada banyak orang yang bakalan lihat. Iya kan Mai?” ujar Ami.

“Hmm.”

“Aku dan Mia harusnya menahan Kak Tom lebih lama lagi agar dia ditemukan orang lain lebih dulu,” kata Ima.

“Kita harus bikin Rhonda-senpai menderita. Ini tetep salahnya. Jangan-jangan dia memang sengaja. Mai-chan, sekuat apa kemarin Mai-chan menendangnya?” tanya Manda serius.

“Aku hanya mendorongnya dengan kaki. Itu saja,” jawab Mai tetap datar.

“Dan … dan … aku lumayan lambat kok nyetir motornya waktu itu,” tambah Ami.

“Hmm … Sepertinya aku tahu apa yang harus kita lakukan pada senpai tersayang kita. Hahahaha!” ucap Manda sembari memasang muka jahat dan mengusap-usap punggung tangannya.

Source: community.kinaxis.com

Sepuluh hari sudah  sejak peristiwa di parkiran itu. Dan gendongan itu. Ya. Gendongan. Kini kehidupan Rhonda sudah kembali normal. Setidaknya. Sekarang Rhonda lebih suka menjaga jarak dengan Tom karena intimidasi Manda. Rhonda juga sengaja tidak melaporkan perbuatan jahat adik kelasnya itu karena hanya akan berakhir sama dan tidak membuat anak itu dan gengnya jera. Guru-guru juga pasti hanya berkata, ‘jadi ini hanya masalah cinta?’ jika ada korban Manda yang melaporkannya. Tom sendiri pun juga tidak pernah tahu kalau ada kejadian seperti itu atau dia memang mengetahuinya tapi tidak terlalu mempedulikan hal sepele ini. Lagipula kalau dipikir-pikir ini memang salah Rhonda sendiri. Sudah tahu Tom itu milik orang lain masih saja didekati. Apalagi orang lain itu sifatnya kayak macan.

Eh, memang dia macan, kan? Apa panggilannya itu? Manda-chan? Tapi apa salahnya sih deket-deket? Kayaknya cowok-cowok di sekolah ini juga boleh deket-deket sama cewek meski udah punya pacar.  Apa Tom tidak merasa risih dengan keposesifan pacarnya itu?, batin Rhonda.

Dan sepertinya dia sekarang harus mengibarkan bendera putih. Dia sudah menyerah walau cuma ditendang punggungnya. Dia takut mendapat kesialan lagi jika dia melanjutkan usahanya untuk mengejar cowok pujaannya itu.

Tapi, kalau aku melanjutkan, mungkinkah aku akan berhasil mendapatkan Tom? Tapi apa aku bisa menikmati keberhasilan atas usahaku? Bagaimana dengan si Manda itu? Pacarnya dideketiin cewek lain aja dia cemburu sampai segitu apalagi kalau benar-benar direbut darinya?, batinnya lagi.

Melihat sikap Rhonda padanya yang sekarang, Tom jadi merasa telah membuat kesalahan pada cewek itu. Hingga suatu hari selepas rapat dia memutuskan untuk menanyakannya.

“Rhonda. Aku ada perlu sebentar,” pinta Tom.

Akhirnya hal yang paling tidak diinginkan Rhonda pun terjadi, berbicara dengan Tom, empat mata.

“Buruan ya! Aku mau ada latihan,” ucap Rhonda memberi toleransi.

“Hari ini kamu cantik, apalagi gaya mengikat rambutmu,” puji Tom pada rambutnya yang dikucir ekor kuda menggunakan pita.

“Aku permisi,” Rhonda mulai mengambil langkah meninggalkan Tom karena merasa pembicaraan ini tidak terlalu penting.

“Eh, tunggu-tunggu. Apa aku sudah membuatmu marah? Belakangan ini kau jarang bertegur sapa denganku,” tiba-tiba Tom menanyakan hal itu.

Rhonda hanya menggeleng dan siap melangkah lagi tetapi sebelum itu terlakukan olehnya, Tom menggenggam tangan Rhonda seolah tidak puas dengan jawaban yang diberikannya. Jantung Rhonda berdetak lebih cepat. Sepertinya dia tidak perlu pemanasan untuk latihan.

“Apa salahku Rhonda? Sebesar apa salahku yang membuatmu menghindariku?”

“Mmm … maaf, Tom! A … a … aku tak dapat memberitahukan padamu!” Rhonda mulai salah tingkah. Detak jantungnya bertambah cepat.

Rupanya Tom masih belum menemukan jawaban yang diinginkannya dan Rhonda bersikap aneh, tidak seperti biasanya. Dia berusaha melepas tangannya tapi pegangan Tom semakin kuat. Tanpa pikir panjang secara refleks Tom membalikkannya membuat mereka berhadapan dan mata mereka bertatapan. Wajah Tom serius dan mata Rhonda berkaca-kaca.

“Apa yang membuatmu merubah sikap padaku?” tanya Tom sambil memegang kedua pundaknya.

Tatapan Tom yang serius itu pun mampu melelehkan hati Rhonda. Air mata tumpah membanjiri pipinya lalu menjatuhkan kepalanya tepat ke dada Tom yang bidang. Dia menumpahkan semua apa yang dirasakannya selama ini.

“Tom! Aku takut dibully lagi. Aku tidak mau. Tidak mau. Aku takut kalau ada orang yang tidak suka aku dekat denganmu. Kalau aku terus bersamamu, aku akan dibully lagi makanya aku menjauhimu. Kupikir itu cara terbaik tapi …” Rhonda berhenti sejenak.

Tapi hati ini terus menolaknya. Hati ini ingin tetap berada di dekatmu Tom. Aku lebih tak kuasa jika hati ini harus manjauh. Aku lebih baik disiksa oleh Manda daripada hati ini harus sakit, batinnya.

“Tapi apa, Rhonda?” ucap Tom menyadarkannya.

Sudah waktunya Rhonda menyatakan kebenaran. Perasaan yang selama ini terpendam di dalam hatinya. Tom harus mengetahuinya karena dia telah bertanya.

“Tom … sebenarnya … sebenarnya aku … aku …”

Tom kebingungan.

“Tom. Aku suka … padamu,” ucap Rhonda terbata lalu memeluk cowok di depannya dan merasakan lingkar tubuhnya.

“Rhonda? Apa itu benar?”

“Ya, Tomoya Saginata. Aku menyukaimu. Aku ikut kepanitiaan pensi ini karena ada kamu.”

“Rhonda!” Tom memeluknya lebih erat.

“Kenapa kau tidak bilang sejak dulu kalau kau menyukaiku? Aku juga suka padamu. Aku ingin kau menjadi pacarku!”

Apa?

Kamu Memang Miliknya

Part 3

END

Kamu Memang Miliknya

Part 4

Wait for the next post.

uso tsuki = pembohong [bhs Jepang]

itekimasou = aku duluan [bhs Jepang]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s