Kamu Memang Miliknya

KMM2

Terdengar mesin motor dinyalakan di belakang saat Rhonda sedang mencari motornya di parkiran, kemudian motor berjalan mendekatinya dan dengan tiba-tiba tendangan keras mengenai punggungnya.

Brukk.

Rhonda jatuh tengkurap. Sayup-sayup terdengar tawa dua cewek yang mengendarai motor itu. Manda ingin bangkit tetapi lutut dan sikunya lecet. Tendangan keras itu meninggalkan cap kotor sepatu di seragamnya. Dia ingin menangis tapi untuk apa? Ingin bangkit tapi tidak kuasa. Begitu sepi suasana parkiran saat itu. Sudah pasti ini semua kerjaan anak buah Manda.

Source: fotokeperawatancurup.blogspot.com

Tom melihat tempat dia meninggalkan Rhonda. Sudah sepi. Tak ada siapa pun di sana hanya angin yang berhembus membelai batang-batang tanaman bunga. Tom pun memutuskan untuk pulang dan berjalan menuju parkiran melewati tempat membaca koran. Di sana terlihat dua freshman tengah asyik membaca koran. Kalau diperhatikan mereka sering terlihat bersama Manda. Tom pun mendekat.

“Siang Kak Tom,” sapa salah satu dengan rambut diikat ekor kuda.

Tom hanya tersenyum.

“Lhoh, Mandanya mana, Kak? Biasanya bareng,” tanya yang lain dengan rambut pendek berbando.

“Sepertinya dia pulang duluan. Kalian belum pulang?”

Keduanya saling tatap dan terbata-bata mencari alasan. Mereka di situ karena disuruh mengawasi kekasih temannya.

“Lagi lihat jadwal film, Kak,”

“Nggak salah tuh?” ujar Tom sambil tertawa dan kemudian meninggalkan mereka.

Dua cewek itu lalu memeriksa koran di hadapan mereka dan menemukan kolom Kriminal dengan headline Siswi SMA yang Diperkosa oleh Gurunya Sendiri bukannya jadwal film yang sedang ditayangkan. Mereka pun malu dan saling menyalahkan satu sama lain.

Dua belas menit menuju tepat jam tiga sore. Parkiran benar-benar sepi. Begitu sepi. Saking sepinya sampai-sampai kau bisa melihat ada orang pingsan di kejauhan dan setelah didekati ternyata kau mengenalnya.

“Rhonda!” teriak Tom menggema di tempat parkir indoor itu.

Tom pun membalikkan badan gadis itu dan menggendongnya di depan. Tom melihat wajahnya basah oleh air mata. Sepertinya tadi dia menangis. Belum pernah Tom melihat Rhonda membuang air mata sebanyak itu. Bajunya kotor depan belakang. Rambutnya yang diikat gaya Tenten terurai tak karuan. Acak-acakan. Lutut dan sikunya berdarah.

Tom sudah setengah jalan menuju UKS, jam segini sepertinya masih buka, pikirnya. Sepanjang perjalanan muka Tom memerah entah karena keberatan atau apa. Di waktu seperti ini kemaluan tidaklah penting meski beberapa orang memperhatikanmu dengan wajah penasaran bahkan ada yang memotretmu tanpa kau sadari.

Source: www.keywordsuggests.com

Rhonda terbangun oleh adzan Asar. Lututnya masih terasa sakit dan punggungnya juga tidak mengizinkannya untuk duduk tapi semua luka di tubuhnya sudah diperban. Masih dengan sedikit kesadaran, dia bingung sekarang sedang berada dimana. Dia pun memperhatikan sekitar dan mendapati seseorang tertidur di tepi ranjang dengan menenggelamkan kepala diantara dua tangannya hanya memperlihatkan rambutnya. Rambut itu, dia mengenalinya, gayanya yang tak pernah berubah sejak SD dan perawakan yang selalu diingatnya kalau orang yang tertidur itu adalah Tom.

Tom? Apa yang dilakukannya disini? Apa dia yang membawanya ke tempat yang baru Rhonda sadari adalah UKS? Kalau begitu berarti Tom melihatnya menangis saat dia jatuh di parkiran tadi. Mukanya langsung memerah dan cepat-cepat memalingkan posisi berbaringnya. Dia kini membayangkan digendong oleh Tom ke UKS kemudian mengobati lukanya dan sekarang menunggunya siuman hingga tertidur di sampingnya. Rhonda begitu malu, sebelumnya dia tak pernah memperlihatkan air matanya yang langka itu pada siapa pun terutama Tom. Namun, dari semua itu dia merasa senang, di saat banyak cewek di luar sana yang ingin berbicara dengan Tom si cowok populer dia malah mendapatkan lebih dari itu. Satu sie kepanitiaan, rapat bersama dan ini digendong menuju UKS. Bukankah itu romantis? Rhonda ingin atau memang harus mengucapkan terima kasih. UKS begitu sepi, entah kemana si petugas piket. Dia pun memutuskan untuk membangunkan cowok yang sepertinya sangat menikmati tidurnya itu.

Aku harus berusaha.

Rhonda mulai mengulurkan tangannya, jantungnya berdegup kencang, semakin dekat semakin gugup. Akhirnya jemarinya bisa berhasil mencapai ribuan helai rambut Tom yang lebat. Dengan gemetar dia pun mengusap kepala cowok itu untuk membangunkannya.

Terima kasih, Tuhan. Engkau telah memberiku kesempatan yang langka. Aku sangat senang dan bersyukur bisa membelai cowok yang aku suka. Tuhan. Aku begitu menyukainya. Kenapa dulu Engkau memisahkan kami dan mempertemukan kembali saat dia telah dimiliki orang lain.

Orang lain? Manda! Rhonda pun tersadar dan menarik kembali tangannya. Dia sudah sangat kelewatan. Apa yang akan terjadi bila Manda mengetahui ini? Dia pun memaksakan diri untuk duduk.

“Aduh ….” Rhonda mengaduh merasakan punggungnya yang masih sakit.

Hingga ranjang pun ikut berderit merasakan sakitnya dan membuat Tom terbangun.

“Kau sudah siuman, Rhonda?” tanya Tom hangat.

Rhonda hanya diam kemudian mengambil handphonenya dan mengirim pesan pada seseorang.

“Kau butuh sesuatu? Ada yang bisa aku lakukan?”

Rhonda hanya menggeleng lalu menjawab, “Tidak ada. Terima kasih Tom. Kau baik sekali tapi kenapa kau tak segera pulang saja?”

“Apa kau akan baik-baik saja? Aku perlu mengantarmu pulang?”

“Tidak. Tidak perlu. Tom, kau sudah sangat membantuku. Aku akan baik-baik saja. Pulanglah,” sergah Rhonda.

Sebelum sesuatu yang buruk terjadi.

“Kau mengusirku? Apa kau tidak suka dengan keberadaanku?” tanya Tom sambil menatap Rhonda lekat-lekat.

Rhonda lalu menunduk, “Bukan begitu! Kau sudah terlalu banyak membantuku dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Tak usah kau khawatirkan aku lagi. Aku akan baik-baik saja. Bukankah seharusnya ada seseorang yang lebih kau khawatirkan daripada aku? Pergilah, temui dia dan jelaskan semuanya.”

“Oke kalau begitu, sampai jumpa. Kalau kau mencari tasmu, ada di meja depan. Aku duluan ya. Beneran kamu nggak but…” Rhonda buru-buru menggeleng, cowok itu lalu melambaikan tangan dan menghilang di balik pintu.

Rhonda menatap pintu agak lama. Tanpa sadar pipinya basah.

Bodoh! Aku terlalu cepat menyerah. Aku begitu egois. Maafkan aku, Tom.

Cepat-cepat dia menghapus air matanya dengan lengan bajunya yang kotor.

Sepuluh menit kemudian Nanda datang dengan ekspresi terkejut dan mulai menanyai Rhonda macam-macam. Dia pun menerangkan sejelas-jelasnya kecuali bagian gendong menggendongnya. Biar Nanda tahu sendiri, mungkin tak berapa lama rumor akan segera menyebar. Saat ini dia sedang sangat kalut.

“Lantas siapa yang membawamu ke sini?” Nanda akhirnya sampai pada pertanyaan yang tak ingin dibahas Rhonda.

“Entahlah. Aku tak sadar waktu itu. Mungkin aku berjalan sambil pingsan. Hahaha. Ya udah, antarkan aku pulang ya, Nda. Mau kan? Nanti aku minta ayah atau siapa buat nganter kamu balik.”

Nanda hanya mengangguk.

Sekarang Rhonda terancam tidak bisa ikut lomba bulan depan padahal dia adalah angota inti dan diharapkan oleh banyak orang dalam klubnya. Sebenarnya dia sangat marah pada Manda. Cewek itu telah membuatnya batal ikut lomba, tidak bisa ikut mencari donatur, harus diantar jemput yang menurutnya itu sangat merepotkan. Manda juga membuatnya terpaksa untuk tidak mendekati Tom dan harus membuang jauh-jauh rasa itu. Rasa yang sangat disesalinya, yaitu menyukai Tom. Lengkap sudah, cewek menyebalkan itu tak hanya menyakiti fisik tetapi juga batinnya.

Source: www.pinterest.com

Jumat siang di depan kelas XI-A-C.

“Tom, ntar habis karate loe bisa ikut cari donatur, kan?” tanya Ron.

“Tahu kan kalau Rhonda nggak bisa, soalnya dia masih sakit habis ditendang terus digendong ke UKS. Oops,” tambah Thor mulai menggoda.

Dua cowok itu langsung memasang muka genit.

“Hey, hey. Gimana rasanya Tom, gendong cewek?” Ron memanasi.

“Apa jantung loe deg-degan? Atau anu loe yang dag dig dug?” tanya Thor genit.

“Heh.  Loe berdua apaan sih? Oke nanti gue ikut,” jawab Tom dengan muka semerah tomat.

“Awas lho Tom jangan mendua ntar ada yang cemburu,”

“Udah, Thor!” Tom jadi kesal.

“Udah-udah, loe nggak lihat mukanya udah kayak gitu? Oke ntar loe sama Thor ya muternya,” pesan Ron.

“Lhah, gue kan mau sama Nanda!” Thor tidak terima.

“Kalian berdua kan sama-sama pandai menjilat jadi harus pisah. Terus kalau Tom sama Nanda loe nggak tahu apa nanti jadinya kayak gimana?”

“Tom kena marah istrinya. Hahaha,” ejek Thor terkekeh.

“Iya-iya. Udah godain guenya. Loe berdua nggak ekskul?”

“Oh iya. Ayo Ron, tenis meja keburu mulai,” ajak Thor.

“Jangan lupa nanti sehabis ekskul,” Ron mengejar Thor yang sudah duluan.

Iya, tapi sebelumnya ada yang harus kutemui dulu.

Beberapa saat kemudian Tom tiba di depan ruangkelas X-S-A tempat dimana biasa digunakan untuk ekstrakulikuler bahasa Jepang, ekskulnya Manda, mengingat dia itu penggila anime. Tom meminta salah satu anak untuk memanggilnya. Agak lama Manda pun keluar.

Konichi wa,” sapa Tom.

Nani Onii-chan?” tanya Manda.

“Boleh ikut Onii-chan sebentar?”

Manda mengangguk. Tak berapa lama dia mengikuti Onii-channya itu sampai di taman sekolah lalu duduk di salah satu bangkunya.

“Manda-chan, mau ini? Kesukaanmu, kan?” tanya Tom lembut sambil memberikan donat bertabur kacang.

Manda menerima dan memakannya, “Oishii, arigatou Onii-chan.”

Manda menikmati donatnya sampai belepotan. Tom tersenyum dan mengelap pakai jempolnya. Muka Manda memerah dan langsung merebah ke bahu Tom. Saat ini gadis itu benar-benar lupa akan kemaluannya. Memang hanya ada beberapa orang yang lalu lalang di taman itu.

“Manda nggak mau kehilangan Onii-chan. Onii-chan jangan pergi. Onii-chan begitu baik. Manda pengen tetep sama Onii-chan,” Manda pun menangis di bahu kekasihnya.

Gomen, Manda-chan. Maafin Onii-chan soal yang kemarin, Manda-chan jangan marah lagi ya,” Tom membelai rambut kekasihnya yang lembut.

Manda menganngguk. Tom pun menghapus sisa-sisa kesedihan di pipi Manda.

“Etto, Onii-chan boleh meminta sesuatu sama Manda-chan?”

“Nani?”

“Dikurangin dong jealousnya. Kalau Manda-chan kayak gitu temen-temen Onii-chan jadi takut semua. Kalaupun mereka deket, nggak akan mengurangi rasa sayang Onii-chan ke Manda-chan, kok. Bisa kan memenuhi permintaan Onii-chan? Percaya deh!” Tom menatap Manda dalam-dalam semabil memegang kedua tangannya.

Sebenarnya Manda agak kesal dengan permintaan itu tapi pesona Tom mengalahkan semuanya. Manda pun mengangguk dan mereka berpelukan.

“Ya sudah. Onii-chan mau karate dulu. Manda-chan juga balik ya.”

Ja ne. Onii-chan.”

“Iya. Sampai nanti.”

Hari itu Manda sangat senang. Saat kembali ke ruang ekskul bahasa Jepang wajahnya berseri-seri. Bagaimana tidak? Kau habis mendapat donat kesukaanmu dari orang yang kau cintai dan mencintaimu. Kau habis bersandar dan menangis di bahu orang yang kau sayangi dan menyayangimu. Serta mendapat pelukan hangat dari orang yang kau sukai dan menyukaimu. Saat mengingat pelukan itu, dada Tom yang bidang pas dengan kepala Manda untuk bersandar. Dia sangat menyukai Onii-chan bahkan sampai keringatnya. Namun, kebahagiaan itu hanya akan bertahan hingga ekskul berakhir karena …

Kamu Memang Miliknya

Part 2

END

Kamu Memang Miliknya

Part 3

Wait for next post.

konichi wa: selamat siang [bhs. Jepang]

nani: apa [bhs. Jepang]

oishii: enak [bhs. Jepang]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s