Kamu Memang Miliknya

KMM part 1

“Rhonda! Kau bersama Tom mengurusi dana dan usaha,”

Ketua OSIS menyadarkan lamunan Rhonda. Dia adalah seorang siswi SMA kelas XI yang merelakan kesibukannya sebagai siswa untuk mengikuti kepanitiaan kegiatan pentas seni alias pensi. Dan tanpa diduga-duga keinginannya agar bisa satu sie dengan Tom terkabulkan. Anak itu adalah teman SD-nya yang dulu masih imut-imut, ingusan dan cupu abis tapi sekarang telah bermetamorfosis menjadi cowok yang tinggi, pintar, jago karate dan suka menghiasi suasana sekolah dengan permainan keyboardnya setelah ditempa di SMP Dasa Nusantara. Oh, dan tak lupa ketampanannya yang mendekati sempurna, benar-benar pahatan Yang Maha Kuasa.

Rhonda beruntung bisa se-SD dengan Tom dan sempat dekat  dengannya. Tapi Manda lebih beruntung, statusnya adalah kekasih Tom. Ucapan janji yang dilontarkan mereka berdua sejak tiga tahun lalu, sejak Tom kelas VIII. Sejak Rhonda tidak dapat melihat Tom setiap hari di sekolah seperti sekarang ini. Tak jarang bahkan sering Rhonda memergoki mereka berduaan. Dua sejoli itu terlihat begitu senang dan romantis. Air muka Tom pun tak pernah terlihat sesenang itu sebelumnya saat bersama Rhonda.

Sebenarnya banyak cewek yang ngefans sama Tom termasuk Rhonda tetapi, ada satu penghalang. Manda itu tipe cewek yang jealousnya minta ampun. Siapa pun cewek yang terlihat dekat dengan Tom, pasti berurusan dengan Manda. Entah secara eksplisit maupun implisit. Kalau secara terang-terangan ya langsung deh kena labrak, itu berlaku untuk cewek-cewek yang seangkatan dengannya. Kalau secara diam-diam biasanya korbannya adalah kakak kelasnya seperti Rhonda mereka akan mendapatkan “kejutan” seperti ban gembos, terkunci di toilet atau diobrak-abrik tasnya. Pokoknya dijahilin habis-habisan.

“Rhonda,” suara hangat Tom memanggil sambil mengibaskan tangan di depan muka Rhonda.

Rhonda tersadar dari lamunannya dan tergagap, “I … Iya?”

“Kamu cari anggota yang lain ya buat sie dana usaha,”

“Okay, makasete,” kata-kata itu begitu saja keluar.

Rhonda. Apapun yang dikatakan Tom pasti dilakukan walau harus nyemplung sumur pun kalau cowok itu yang menyuruh, dia bakalan … nggak mau lah. Tom tidak sejahat itu.

Rhonda tidak asal-asalan dalam memilih anggota sie dana dan usaha. Terbukti saat rapat perdana disana sudah ada Nanda yang pandai merayu dan menjilat, sekalipun gombal tetapi berhasil, sudah banyak orang-orang yang menjadi korban cewek itu termasuk Rhonda. Lalu ada Ron yang katanya bisa tahu seberapa kekayaan suatu perusahaan hanya dengan melihat dari luarnya, entah bagaimana caranya. Terakhir adalah Thor, cowok jenaka sebagai pelengkap agar tim mereka sedikit rame tapi kalau anak itu sudah serius, susah banget untuk ngajak bercanda. Kelima panitia sie danus, begitu biasanya anak-anak kepanitiaan menyebutnya, sudah berkumpul di depan kelas Tom si koordinator membahas gosip terpanas baru-baru ini. Bukan ya jeng, ini bukan arisan anak-anak lambe turah. Mereka tengah membahas, merencanakan dan membuat strategi. Siapa yang akan dimintai uang? Berapa uang yang harus dikumpul? Berapa tenggat waktu yang dibutuhkan dan yang ditargetkan?

“Oke, Ron? Mana aja perusahaan yang mau kita palak?” Thor membuka diskusi.

Ron membenarkan kacamata dan mulai bercerita, “Gue baru tahu setelah mencari beberapa informasi, ternyata cukup banyak anak sini yang orang tuanya pengusaha, kita bisa pakai anaknya buat senjata. Terus kita pakai donatur-donatur yang berhubungan dengan sekolah ini, kakak-kakak alumni misalnya. Terus donatur deket-deket sekolah. Sisanya tinggal minta ke perusahaan yang berhubungan sama pensinya kayak toko alat musik, kostum menari dan yang lainnya. Begitu. Rhonda, kalau boleh tahu target kita berapa dan sampai kapan?”

“Jumlahnya minimal tujuh juta kalau lebih banyak lebih bagus. Targetnya sebulan sebelum acara, so kira-kira tiga bulanan lah dari sekarang,” jawab Rhonda dengan sigap.

“Ini sistemnya mau bareng-bareng apa mencar?” Nanda pun bersuara.

“Mencar aja biar cepet. Aku nanti minta sekretaris bikin surat permohonan untuk calon donatur anak-anak sini. Kalian dipecah jadi dua kelompok, satu buat minta donasi sama alumni terus yang lain ke perusahaan langganan sekolah ini kayak kapur, kertas atau apalah. Waktunya sebulan ya untuk nyebar surat dan proposal setelah dicetak sama sekretaris,” saran Tom.

“Nda, loe sama gue ya?” Thor merayu.

“Jangan. Jangan. Nanda sama Thor kan sama-sama pandai menjilat jadi pisah aja. Thor sama aku, Nanda sama Ron,” usul Rhonda.

Thor hanya bisa menghembus napas pasrah. Nanda cuma nyengir.

“Gue nanti minta nomor kontak alumni ke abang gue biar ada tambah-tambah pemasukan. Loe semua ada kontak, kan?” tanya Ron.

Semua mengangguk dan rapat kecil-kecilan itu pun selesai.

Setelah ketiga anak lainnya berpamitan tinggal Rhonda dan Tom disana. Hening sebentar. Mereka berdua tidak sengaja bertatapan. Rhonda refleks menunduk.

“Mau bareng ke parkiran? Naik motor juga, kan?” tawar Tom.

“Entahlah. Kamu nggak mojok? Aku nggak mau dikunci di kamar mandi lagi,” muka Rhonda memerah.

“Kayaknya Manda udah pulang. Udah jam segini juga. Aku tadi bilang mau rapat kan sama dia, jadi nggak bisa pulang bareng. Mukanya langsung ditekuk kayak anak kecil. Manisnya,” Tom terkekeh.

Ini kesempatan yang langka. Berjalan bersama idola meski hanya beberapa meter meski hanya beberapa menit. Rhonda merasa harus memanfaatkan waktu ini dengan baik. Dia pun akhirnya mengangguk. Mereka berdua kemudian beranjak menuju parkiran sembari berbincang tentang masa-masa SD. Benar-benar menyenangkan. Dia berharap seandainya bisa menggandeng tangan cowok disampingnya atau meminta merangkul pundaknya. Tapi itu malah akan membuatnya dalam bahaya.

Dan itu benar terjadi. Salah seorang teman Manda yang secara sengaja memata-matai Tom melihatnya. Kekasih temannya itu jelas-jelas terlihat tengah berjalan dengan seorang cewek berambut panjang yang dikucir pita di belakangnya. Sudah pasti itu Rhonda. Dia selalu mengubah-ubah gaya rambut yang malah membuatnya terlihat mencolok. Dari kejauhan cewek itu lalu mengambil handphone dari saku roknya dan menelpon seseorang.

“Halo Manda! Ini Pearl. Correl benar-benar sudah tidak bermutu!”

“… ? Mia-chan?”

“Ah, gomen. Tom, parkiran, junior, pita besar, rambut panjang.”

Arigatou Mia-chan. Itu pasti Rhonda-senpai.”

Manda memang suka sekali dengan yang namanya anime. Gara-gara pengaruh kartun Jepang itu dia memanggil orang dengan sebutan –san, -chan, -kun, dan lainnya. Bahkan dia memanggil Tom Onii-chan. Menurutnya itu lucu.

“Rhonda-senpai! Sudah berkali-kali senpai terlihat bareng watashi no Onii-chan. Tidak termaafkan!” geram Manda.

Dia lalu mengirimkan pesan ke teman-teman yang mau-maunya bersekongkol dengannya.

Pulang sekolah. Kantin. Bully. Rhonda-senpai.

Keesokan harinya. Bel pulang sekolah berbunyi. Kegiatan belajar mengajar telah usai. Waktunya bagi para siswa untuk pulang tetapi masih ada saja yang tetap tinggal untuk menyambangi perpustakaan, makan di kantin atau sekadar mengobrol ringan di depan kelas.

Kantin cukup ramai oleh murid-murid freshman, junior dan senior. Istilah untuk menyebut murid. Freshman kelas 1, Junior kelas 2 dan Senior kelas 3. Cukup pula membuat kamuflase untuk murid-murid yang sedang merencanakan kejahatan. Padahal dari kejauhan mungkin Manda dan teman-temannya terlihat ketawa-ketiwi membicarakan kekasih masing-masing sambil menyuap bento atau makanan yang sudah dipesan.

“Kenapa kau mengundang kami, Manda?” tanya Ami.

“Aku ingin kalian membantuku memberi pelajaran Rhonda-senpai agar tidak gatel sama Onii-chan,” jawab Manda.

“Bantuan? Bantuan seperti apa?” Ima bingung.

“Nanti kita labrak dia di parkiran. Kita tunggu kabar dari Mia-chan,” Manda tersenyum.

“Dia tidak di sini. Dia pergi. Tapi tidak dengan Tom,” kata Mai datar.

“Hah? Hontouni? Yaudah, kalau begitu besok saja,” Manda langsung cemberut. Handphone di sakunya bergetar.

Moshi-moshi. Bagaimana Mia-chan?”

“Tom mencarimu! Dia ke kantin.”

Arigatou gozaimasou, Mia-chan. Besok ikut juga ya.”

Manda lalu menutup diskusi, “Yosh. Aku duluan ya. Arigatou, Ami-chan, Ima-chan, Mai-chan. Ja-ne.

Dari kejauhan mata Tom menangkap gadis cantik yang membawa tasnya dengan dua tangan di depan seperti gadis Jepang. Dia melambaikan tangan. Tom membalas dengan mengangkat tangan dan mendekat.

“Aku mencari-carimu Manda-chan.”

“Kenapa? Onii-chan kangen?” tanya Manda genit.

Tom pun mengelus rambutnya yang dibiarkan terurai ditiup angin.

“Ayo kita pulang,” ajak Tom.

Yang diajak mengangguk.

Sumber: citraredprincess.blogspot.com

Dua puluh tiga jam kemudian.

Rhonda merasa begitu lelah setelah kemarin berkeliling mencari donasi bersama Thor. Hari ini dia akan menitipkan uangnya pada Nanda agar tidak perlu bertemu dengan Tom. Dia ingin langsung pulang dan beristirahat karena besok ada jadwal latihan klub atletik. Lomba estafet beberapa minggu lagi akan dimulai.

“Apa aku skip latihan aja ya?” gumamnya.

“Rhonda!” panggil suara yang tak asing.

Dia pun menoleh dan mendapati Nanda, “Eh, Nand! Kebetulan, aku mau menit …”

“Ini aku kasih kamu hasil kemarin sama Ron,” potong Nanda.

“Lhah? Tadinya punyaku mau aku titipkan ke kamu.”

“Kamu aja lah yang setor ke Tom. Aku mau latihan senam lantai. Buru-buru nih, udah mulai soalnya.”

Mau bagaimana lagi untuk menolak. Nanda keburu memberikan bungkusan dan kertas kemudian lari menjauh. Rhonda hanya menghela napas. Dia pun mulai melangkah menuju kelas Tom yang sialnya sekarang dia terlihat sedang bersama Manda-chan, Maruko-chan, Dako-chan atau apalah dia memanggilnya. Melihat mereka Rhonda bingung harus merasa apa. Cemburu? Dia tidak berhak merasa begitu. Siapa dia? Manda-lah yang memiliki Tom saat ini. Tidak sepatutnya Rhonda sakit hati melihatnya. Atau malah merasa takut? Takut bila nanti akan berurusan dengan Manda dan antek-anteknya. Tidak. Dia harus memberanikan diri. Ini demi statusnya sebagai panitia sie dana dan usaha. Akhirnya kedua kaki Rhonda melangkah setelah sekian lama berdiri memperhatikan kedua sejoli sedang bermesraan, sekitar 15 meter, sekitar 150 detik.

“Permisi, Manda. Boleh pinjem Tomnya sebentar?” sela Rhonda sesampainya di depan mereka dengan keramahan maksimal.

Mendengar itu Manda langsung melirik ke arahnya kemudian berpaling dan menunduk dengan cemberut, “Dozo.”

Tom membelai rambut Manda mengingatkan agar tidak cemburu kemudian berdiri.

“Ada apa ibu danus? Sepertinya kau kewalahan,” tanya Tom sambil memeriksa Rhonda.

“Ini hasil kemarin kami berempat. Yang ini dari aku dengan Thor dan yang ini dari Nanda sama Ron. Dan laporannnya … Eh? Dimana? Kok nggak ada? Tadi kayaknya kubawa,” Rhonda panik sambil memeriksa semua saku di bajunya.

Tom memperhatikan sekitar.

“Itu dia di bawahmu!” seru Tom.

Keduanya berusaha mengambil. Tangan mereka sempurna bersentuhan. Manda sedikit melirik. Mereka berdua berdiri lagi. Kali ini muka Rhonda menjadi merah.

“Aduh, maaf. Hari ini aku agak kikuk,” kata Rhonda berusaha menenangkan suasana.

“Tak apa. Kau sudah bekerja keras kemarin untukku. Thanks ya,” balas Tom malah menambah suasana semakin parah.

Melihat adegan di depannya Manda pun memutuskan untuk berdiri, mengambil tas dan berkata, “Aku duluan ya Onii-chan, Rhonda-senpai. Sayonara.”

Cewek itu pun pergi ke parkiran sambil merogoh sakunya untuk mengambil handphone dan terlihat akan menelpon seseorang.

“Maafkan aku, Tom,” pinta Rhonda sembari memberikan secarik kertas yang mereka perebutkan tadi.

“Santai aja kali. Dia biasanya juga begitu kalau sama yang lain.”

“Kau tak mengejarnya? Dia pasti berharap kamu menghentikannya dan meminta maaf seperti di FTV atau novel.”

“Rhonda, Rhonda. Ini bukanlah FTV apalagi novel. Ini cuma cerpen yang telah mencapai klimaksnya. Kenapa kau mempercepat bagian peleraiannya?” Tom jadi ngelantur.

“Aku hanya ingin cerpen ini lebih romantis. Itu saja.”

“Besok pasti dia juga lupa,” ujar Tom menenangkan.

Itu karena penyebabnya sudah dia singkirkan, batin Rhonda.

“Oke kalau tidak ada keperluan lagi aku akan setor dulu ke bendahara. Kau tak apa kan aku tinggal? Atau mau ikut?”

Rhonda menggeleng. Tom pun berjalan menjauh. Rhonda memutuskan untuk duduk dan merenung sembari menatap cowok itu menghilang di belokan. Tom. Ibarat sebuah permata yang dilindungi begitu ketat. Siapa saja yang ingin mengambil atau hanya sedikit memperhatikannya pasti akan berada dalam bahaya. Manda. Satu orang yang bisa diibaratkan berbagai macam. Alarm, ranjau, laser, perangkap mematikan, apa saja yang melindungi permata itu. Dan Rhonda pernah bahkan sering terkena jebakannya karena dia begitu menginginkan permata itu setelah sekian lama membuangnya yang dikiranya hanyalah batu tak berguna sebab tak tahu cara memolesnya.

Ah, apa sih yang aku pikirkan? Sebaiknya aku pulang karena besok harus latihan. Sampai rumah mandi lalu tidur. Ah, nikmatnya. Satu lagi hari yang melelahkan akan berakhir. Semangat Rhonda!

Rhonda lalu bangkit berjalan menuju parkiran.

Tempat parkir begitu sepi. Hanya ada empat cewek freshman yang tak dikenal Rhonda. Mereka melirik sinis saat Rhonda lewat lalu kembali berbincang. Rhonda tidak begitu peduli. Cepat-cepat dia menuju tempat dimana dia memarkirkan motornya. Terdengar mesin motor dinyalakan di belakang, kemudian berjalan mendekatinya. Tiba-tiba tendangan keras mengenai punggungnya.

Brukk.

Kamu Memang Miliknya

Part 1

END

Kamu Memang Miliknya

Part 2

Wait for the Next Post

makasete = serahkan padaku [bhs. Jepang]

gomen = maaf [bhs. Jepang]

arigatou = terima kasih [bhs. Jepang]

-san, -chan, -kun = gelar kehormatan untuk memanggil orang di Jepang

onii-chan = kakak laki-laki [bhs. Jepang]

-senpai = gelar untuk memanggil kakak kelas di Jepang

watashi no onii-chan = kakakku [bhs. Jepang]

bento = bekal makan siang

hontoni = beneran? [bhs. Jepang]

moshimoshi = halo untuk menelpon [bhs. Jepang]

arigatou gozaimasou = terima kasih banyak [bhs. Jepang]

ja-ne = sampai jumpa [bhs. Jepang]

dozo = silakan [bhs. Jepang]

sayonara = sampai jumpa [bhs. Jepang]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s