Perayaan Kecil

Source: gagacenter.com

Terlihat seorang laki-laki muda memasuki toko kue. Dia nampak gugup sewaktu melangkah membuka pintu toko membunyikan gemerincing lonceng diatasnya, sepertinya ini kali pertama lelaki bertubuh tambun itu masuk bakery. Begitu beberapa langkah masuk semakin ke dalam, mulai terasa hawa pendingin ruangan serta semerbak bau aneka roti yang baru saja keluar panggangan. Agak lama dia menikmati suasana yang berkebalikan dengan jalanan di luar kemudian mengarahkan pandang ke depan dan didapatinya gadis pramusaji berseragam rapi. Gadis itu mengulum senyum padanya, semakin didekati semakin lebar senyumnya. Sesampainya si pelanggan yang terlihat kebingungan itu berada di depan meja kasir disapalah dia dan si gadis menawarkan bantuan yang bisa dia lakukan sebagai karyawan toko. Pemuda itu menanyakan cupcake, si pelayan berambut sebahu itu pun mengarahkannya ke bagian sudut toko dimana etalase penuh dengan roti cangkir berhias beraneka macam topping dan krim. Membiarkan pembelinya memilih roti kesukaannya gadis itu memandang tetap dengan senyum sembari menjelaskan seperlunya jika lelaki yang lebih tinggi darinya bertanya, dengan sedikit menaikkan muka tentunya. Nasib, toko sedang sepi jadi dia bisa melayani pelanggan yang satu ini sepenuhnya. Butuh seperenam jam akhirnya lelaki yang berpeluh meski di ruangan dingin itu memutuskan mengambil satu yang berkrim hijau dan sprinkle penuh warna berwadah merah jambu. Krim apel, jawab si gadis pelayan saat ditanyai. Di dengar dari nada jawabannya agaknya dia merasa kesal mungkin karena si pembeli terlalu lama memilih dan hanya membeli sebuah. Dia pun dengan cekatan membungkus roti itu di dalam kubus plastik sementara si lelaki melihat ke sekeliling. Pikirnya, terlalu lengkap untuk toko yang tak begitu besar selain menjual cupcake juga aneka kue spons, tart, bolu, brownies, blackforest bahkan kue kering dan biskuit toplesan juga ada. Panggilan gadis kira-kira tak jauh dari usianya itu menyadarkan kekaguman si lelaki, dia lantas mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang dari sana. Pramusaji yang diketahui bernama Cynthia lewat co-cardnya itu memberikan kembalian beserta paperbag berisi secangkir cupcake kepada pemuda yang kemudian mengucap terima kasih. Cynthia membalasnya, melakukan prosedur operasional standar yang dilakukan saat melepas kepergian pelanggan. Sekali lagi lonceng toko berbunyi bersamaan dengan tertutupnya pintu toko oleh si lelaki berambut hitam lebat itu.
Dengan senyam-senyum dan hati lebih ringan lelaki itu berjalan sedikit tergesa menenteng paperbag menuju tempat motornya diparkir. Karena sedang senang dengan apa yang akhirnya didapatnya dia sengaja memberi upah lebih pada di petugas parkir. Dia pun mendapat balasan senyum akrab dari si mas penjaga parkir itu. Begitu Varionya menyala dia langsung menarik gas dengan hati-hati lalu mengemudikannya menuju apartemen. Di perjalanan dia menyenandungkan lagu-lagu favoritnya tak peduli dengan tatapan terusik orang sekitar saat berhenti di lampu merah. Setengah jam kemudian dia sampai dan memakirkan si Vario di garasi. Menyapa beberapa rekan seapartemen yang ditemui saat terburu menuju kamarnya di lantai tiga dia langsung mengunci pintu rapat-rapat begitu sampai. Setelah dirasa aman, dengan hati-hati dia mengeluarkan kotak plastik dari paperbag dan memasukannya ke dalam kulkas mini agar tetap dalam bentuk aslinya. Sembari menunggu saat yang tepat, dia berpikir untuk membersihkan diri dan berdandan rapi-rapi serta mempersiapkan apa yang memang diperlukan sebelum “dia” datang. Begitu malam telah habis memakan semburat cahaya siang, waktu yang tepat akhirnya datang. Segala penantian dan persiapan akan terbayar. Kelimabelas kali dia mematut diri di cermin dan berkali-kali menyisir rambut yang menurutnya kurang rapi. Dia lalu mengeluarkan kotak plastik dari singgasana bekunya ke meja tengah, membukanya dengan kelembutan ekstra, memindahkan ke atas cawan terbaik yang dimilikinya. Setelah mematikan lampu kamar dia kemudian setengah berlari menuju laci meja belajar mengambil sesuatu. Dia menatap benda itu dengan sorak dalam hati lalu membawanya kembali ke meja dimana cupcake itu berada. Dengan agak takut dia menancapkan lilin itu di atas cupcake kemudian dengan korek yang dia beli bersamaan dengan lilin di supermarket kemarin dia menyulutkan sepercik api. Tidak butuh waktu lama api itu langsung membakar sumbu lilin dan melenggak lembut menciptakan bayangan pada benda di sekitarnya. Masih menunggu “dia” datang lelaki itu khawatir bila si lilin terlalu cepat terbakar dan mengotori krim apel dengan lelehan parafin. Sejenak dia menuju lemari akhirnya yang ditunggu pun datang, juga dengan membawa sesuatu yang bersinar dalam kegelapan kamar. Lelaki itu tak begitu terkejut kalau “dia” juga memiliki cupcake yang sama. Sambil tersenyum bahagia dia pun mengucap terima kasih akan kedatangan”nya” lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun, “dia” juga mengikuti. Begitu lagu selesai lelaki itu menyuruh”nya” untuk membuat permohonan dan segera meniup lilinnya sebelum sempurna melelehi cupcake. Begitu lilin tertiup dan menyisakan kegelapan kamar apartemen, lelaki itu bersorak bahagia dan mengucapkan “Happy 22nd Birthday. Wish You All the Best, Dude!”
Lelaki yang mirip dengannya dalam cermin di lemari kamar itu pun mengucapkan terima kasih karena telah ingat akan hari bahagia”nya” dengan sedikit isak serta lilin cupcake yang telah padam di tangannya. END.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s