Aku Pun Sadar

Aku pun sadar 2

Tidak biasanya Adnan memulai percakapan, tiba-tiba saja dia memanggil Ruki tapi setelah ditoleh dianya malah melamun, seperti membayangkan sesuatu.

“Ada apa,  Adnan?” tanya Ruki sambil sambil mengibaskan tangan di depan mata Adnan dan menyadarkan lamunannya.

Kondisi kelas terlalu ramai jadi tak ada yang menyadari Adnan. Ruki mungkin sedikit terkejut karena biasanya dialah yang memulai pembicaraan dengan rekan semejanya itu. Adnan pun menceritakan semua masalahnya. Ruki mengangguk-angguk entah paham atau tidak. Pada penghujung cerita dia membicarakan ide konyolnya.

“Jadi, maukah kau pergi ke sana bersamaku tetapi kau menjadi aku. Nanti aku akan memberikan username dan password-ku ke kamu dan aku akan membuat character baru lagi untukku. Mau kan?”

“Adnan. Adnan. Kau ini pintar tapi kalau soal mencari ide mesti konyol. Kenapa nggak dateng sekalian aja? Tapi yaudah lah, lagian juga kamu selalu bantuin bikin PR-ku. Aku bantu deh.”

Dalam waktu seminggu yang cukup singkat itu pun Adnan mengajari Ruki seluk beluk bermain game online yang dia mainkan. Takutnya kalau Ruki ditanya macam-macam dia tidak bisa menjawabnya. Tidak menunjukkan seorang Game Master yang pengetahuan tentang game-nya sudah di luar kepala. Namun seperti biasa, Ruki termasuk anak yang susah memasukkan hal-hal baru ke dalam kepalanya. Jadi menurut perkiraannya Ruki hanya menyerap sepertiga materi yang diajarkan olehnya.

Ruki pun sok menenangkan, “Tak usah khawatir, Nan. Ntar sisanya aku bisa improvisasi kok.”

“Ini bukan masalah improvisasi, kalau kamu menjawab asal maka sudah ketahuan kalau kau bukan pemilik asli akunnya dan malah dikira hacker,” jelas Adnan mengingatkan.

Carnival-Party-7

http://www.cleverkidsparty.com

Hari H di depan Gedung Kartika.

Gedung pertemuan itu ramai oleh pemain game. Banyak dinding ditempeli poster-poster game online itu. Adnan dan Ruki berjalan bersebelahan menuju pintu masuk. Di sana sudah ada komputer untuk login yang menunjukkan bahwa orang yang datang adalah pemain game online itu.

Begitu si penjaga pintu masuk melihat Ruki login, dia langsung berteriak, “Wah, ini dia Game Master kita! Silakan kak bergabung dengan Game Master yang lain di dekat panggung.”

Ruki pun berlalu sambil nyengir dan mengedipkan sebelah mata pada Adnan.

Adnan menyusul masuk, mengambil makanan ringan lalu duduk di kursi yang kebetulan di ujungnya ada cewek manis yang tengah asyik melihat hiburan di panggung. Adnan mengudap makanan khas yang mirip dengan yang ada di game online. Dia memperhatikan sekitar. Semuanya ada di sini. Mulai dari makanan, pakaian hingga kostum monster-monster yang ada di game online itu. Dia pun mencuci mata melihat satu per satu dari tempat dia duduk.

“Semua lengkap ya?” cewek itu mengagetkan Adnan.

Adnan hanya tersenyum sambil mengangguk.

“Perkenalkan. Nanta. Rangirl. Guild Awesome,” cewek itu mengulurkan tangan kanannya.

Adnan segera menyalaminya dan membalas, “Adnan. Newbie. S … sa … salam kenal juga.”

“Hei, menurutmu yang lagi ada di panggung itu beneran GM nggak?” tanya Nanta seraya menunjuk Ruki.

“Maksudmu?” Adnan terheran.

“Temenku tadi yang jadi istrinya di game online itu berkenalan dengannya. Tapi entah memang tidak tahu atau hanya pura-pura dia kayaknya nggak mengenal istrinya sendiri.”

Dasar Ruki! Kenapa pula dia bisa lupa? Bukankah seminggu ini sudah kuberitahu tentang istrinya? Lebih baik aku mengalihkan topik pembicaraan, batin Adnan.

Sebelum maksudnya terlaksanakan Adnan pun kembali berpikir. Mengalihkan pembicaraan? Untuk apa bicara? Tidak ada hal penting yang perlu dia bicarakan. Lagipula Nanta sepertinya lebih tertarik dengan pertunjukkan cosplay di ujung sana. Akhirnya dia pun hanya melanjutkan memakan kudapan.

“Kau tahu, Adnan? Hal yang paling menjengkelkan saat bermain adalah ketika kamu fusion pet terus gagal. Aku sering mengalaminya,” ujar Nanta.

Mendengar hal itu, Adnan yang sudah kawakan dengan game online itu menjelaskan secara panjang lebar menjadi luas kali tinggi menjadi volume. Dia menjelaskan sampai sedetil-detilnya tanpa ada sisa. Bahkan yang di luar topik tetapi masih ada hubungannya pun ikut dijelaskan dengan gamblang.

“Kau seperti bukan newbie saja. Kau seperti sudah lama bermain game itu,” Nanta mulai curiga.

Oops. Terbongkar sudah penyamarannya. Tidak. Tidak boleh. Harus cari akal.

“Engg. Aku cuma baca buku panduan aja kok.”

“Di buku panduan nggak selengkap itu, ya. Aku cari di google saja tidak ada. Ayo jujur sajalah.”

Rencana B. Adnan mengalihkan pembicaraan.

“Nanta, aku jarang melihatmu di chat world.”

Merasa tidak mendapat jawaban yang diinginkan, Nanta menjawab dengan datar, “Bagiku chat di world tidak begitu penting. Untuk apa chat? Tidak ada yang perlu dibicarakan. Sudah banyak chat orang lain. Lagi pula juga ngabis-ngabisin uang walau cuma sepuluh silver,” Nanta tertawa, “Aku agak tidak suka dengan orang yang chat di chat world. Terutama kalau omong kotor dan mesum. Bagiku orang-orang kayak gitu cuman pengecut. Dia nggak berani ngomong langsung ke orangnya. Menghadapi langsung gitu. Yang dia bisa cuma ngoceh nggak jelas dan menuh-menuhin chat world.”

Mendengar hal itu Adnan yang merasa sering dan suka chat di world merasa kecewa. Secara tidak langsung Nanta telah menghinanya, menurutnya. Juga menyebutnya pengecut.

Adnan pun tak mau kalah.

“Yah, mungkin mereka ingin mengeluarkan pendapat mereka karena di dunia nyata tidak ada yang mendengar kata-katanya makanya dia chat. Mereka tidak punya seseorang untuk dijadikan tempat mengadu. Mereka mungkin hanya punya teman di dunia maya. Di dunia nyata mereka kesepian makanya mereka menumpahkan seluruh isinya di dunia maya. Jangan-jangan kau sendiri iri karena kau pernah nge-chat di world tapi nggak ada seorang pun yang merespon. Jadi kau tidak berani mengungkapkannya.”

“Tapi …”

Sebelum Nanta melanjutkan Adnan pun meminta maaf dan meninggalkannya sendirian.

Adnan mendatangi Ruki yang tengah asyik bercengkrama dengan para Game Master. Begitu melihat Adnan dia langsung menariknya.

Ruki pun berkata, “Ini GM kalian yang sesungguhnya. Adnan namanya. Kalau mau tanya-tanya dia yang lebih tahu dan pasti dijawab selengkap mungkin.”

Adnan menunduk. Ruki tetap di sampingnya. Mereka bercengkrama sebentar. Dia hanya berbicara kalau ada yang bertanya dan pasti dijawab sejelas mungkin.

Tiba-tiba pembawa acara mempersilakan para Game Master untuk maju ke depan mengambil doorprize.

“Aku tunggu di bangku dekat makanan,” bisik Ruki dan menepuk bahu Adnan.

Belum pernah Adnan berada di atas panggung dan dilihat oleh berpasang-pasang mata seperti sekarang ini. Sekejap Adnan melihat Nanta kemudian menunduk. Dia berpikir kalau cewek itu marah dengannya. Setelah menerima hadiah dia buru-buru turun panggung dan menuju ke tempat dimana Ruki dan Nanta bercakap. Dia menepuk bahu Ruki sambil menunduk.

“Ayo Ki! Kita pulang!” ajak Adnan.

“Cepat sekali? Kau tak ingin menikmatinya sampai selesai?” Ruki keheranan.

Nanta pun mulai berbicara, “Aku sudah menduganya. Orang yang sedetail itu tidak mungkin newbie. Dan kupikir idemu untuk menyamar itu konyol.”

Ruki dan Nanta tertawa.

“Terus kenapa? Sekarang kau membenciku di sini dan akan membenciku di sana nanti?”

“Benci? Tidak. Tentu saja tidak. Aku suka kalau kau yang chat di world. Adnn66 ya kalau nggak salah? Kata-katamu terkadang puitis dan begitu bermakna. Dan waktu kulihat tadi wajah Ruki sama sekali nggak ada puitis-puitisnya,” Nanta tertawa, “Adnan, kalau aku jadi kau lebih baik aku menjadi diriku sendiri. Apa adanya. Kupikir pemain game lain tidak langsung begitu nggak suka kalau GM-nya kayak kamu. Kamu di sana kan sudah dikenal sebagai GM terramah. Untuk apa mereka semua membencimu? Termasuk aku. Beberapa GM di sini selain kamu juga tidak sehebat yang aku bayangin sih.”

“Dan aku kalau jadi kau, aku akan langsung chat di chat world kalau status GM puitis.”

“Dengar, Adnan. Kau begitu mudah mendapatkan teman di game online ini. Dan kau pasti tahu caranya, kan? Kenapa kau tidak coba pakai caramu itu untuk mendapatkan teman di dunia nyata? Bersikap ramah dan bijak seperti di game online. Aku yakin reaksi mereka juga akan sama seperti kalau kau berkenalan dengan pemain baru di dunia maya. Dengan begitu temanmu di dunia nyata bisa sebanyak di  game online.”

Adnan melirik Ruki, yang dilirik hanya nyengir.

“Mudah sekali mengatakannya. Dunia nyata begitu berbeda dengan game online. Banyak sekali topik yang dibicarakan orang-orang. Di dunia game online semua sama, topik yang dibicarakan tentang sesuatu yang aku sudah hafal di luar kepala. Di dunia nyata aku tidak tahu klub sepakbola, otomotif, gosip, konser, pacar dan hal lainnya yang begitu asing untukku. Jika mereka membicarakan itu aku cuma bisa mendengarkan tidak tahu harus menanggapi apa dan cuma tersenyum tanda tidak mengerti.”

“Itu  dia. Mendengarkan. Bicarakan saja apa pun yang kau tahu. Kenalkan pada mereka game online yang sering kau mainkan. Bukankah kau bisa menceritakan hal-hal lucu yang setiap hari terjadi di chat world? Sebagai teman mungkin mereka mau mendengarkan karena kau selalu mendengarkan saat mereka bicara. Tidak ada salahnya kan mencoba?” terang Nanta begitu bijak.

“Kau juga bisa minta tolong kepadaku, Adnan. Aku pasti juga akan membantumu. Jangan diam terus di kelas. Teman-teman sekelas belum pernah mendengarmu bicara, maksudku kalau tidak di suruh ke depan sama guru. Aku yakin mereka mau mengambil kesempatan kalau kau mau membuka kesempatan kepada mereka untuk menjadi temanmu,” tawar Ruki.

“Terima kasih, teman-teman,” wajah Adnan dan matanya memerah.

Nanta  pun memberikan sapu tangan dan meminta Adnan untuk menyimpannya karena cowok itu lebih membutuhkannya. Lagipula dia punya banyak di rumah.

Aku pun Sadar

PART 2 OF 2

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s