Aku Pun Sadar

Aku pun sadar

Lagi. Lagi. Dan lagi. Hari yang seperti kemarin dan akan seperti besok. Hari yang sama. Berputar-putar. Itu-itu saja, bangun, sekolah, main game, tidur dan bangun lagi. Hari yang akan terulang terus menerus. Entah sejak kapan dimulai dan entah pula sampai kapan akan berakhir. Itulah hari-hari yang dilalui oleh seorang siswa kelas X SMA angkatan 2013. Adnan namanya.

Adnan, anak yang sangat pintar bahkan dapat dibilang genius. Setiap pertanyaan dapat langsung dijawabnya. Teman-temannya atau sebut saja orang-orang yang sekelas dengannya pun menjadikan dia sebagai indikator kesulitan soal. Jika dia tidak dapat menjawab suatu soal maka orang-orang di kelasnya itu juga tidak dapat menjawabnya. Dia cepat menangkap pelajaran, cepat belajar tapi sayang …

Iya, sayang. Adnan pintar tetapi dia terlalu pendiam, terlalu menutup diri. Makanya dia menyebut orang-orang di kelas bukan sebagai teman karena dia merasa tidak atau  belum punya teman di situ. Entah mereka yang tidak mau berteman dengannya atau dia sendiri yang tidak mau membuka kesempatan kepada mereka untuk menjadi temannya.

Setiap ada salah satu dari mereka yang mengajaknya bicara, “Hai. Perkenalkan. Aku Ruki. Salam kenal.”

Adnan hanya akan menyalaminya dan selesai. Sudah, begitu saja. Baginya tidak ada yang perlu dibicarakan. Dia kemudian melanjutkan pekerjaannya, mendengarkan musik atau membaca komik. Dia akan berbicara jika dan hanya jika ditanya saja, sisanya menutup mulut sambil mendengarkan lagu di kuping atau rangkaian gambar manga dalam komik. Mungkin hal itulah yang membuat orang-orang di kelasnya menutup atau setidaknya mengeblok hubungan dengannya.

Makanya tak heran, satu dua orang menyamakan Adnan dengan alat musik. Iya, slat musik. Instrumen yang tidak akan berbunyi bila tidak dimainkan, seperti halnya dia yang tidak akan bicara kalau tidak ada yang mengajaknya. Meskipun begitu, orang-orang di kelas yang mengaku sebagai temannya percaya kalau dia pasti punya teman karena alat musik itu akan berbunyi indah jika dimainkan oleh orang yang tepat.

Dugaan orang-orang itu memang benar. Walaupun pendiam dan tertutup, Adnan tetap punya dan mengerti apa arti seorang teman. Temannya itu bukanlah orang-orang yang setiap hari ditemuinya dan bukan juga teman imajinasi yang cuma ada di otaknya yang encer itu melainkan teman-temannya di dunia maya.

Diam-diam begitu Adnan adalah seorang pecandu game. Dia suka sekali bermain game, terutama game online. Dalam sehari saja seperempat waktunya dihabiskan di depan monitor. Lihai mengetik di keyboard dan sibuk mengeklik di kepala mouse. Itu kalau weekdays kalau weekend mungkin bisa lebih lama.

Adnan rela menabung untuk mengisi pulsa modemnya daripada membeli pulsa untuk handphonenya dan membiarkan kartu di dalamnya hangus. Lagipula siapa yang harus ditelepon? Siapa yang harus dikirimi SMS? Dan siapa pula yang akan menelepon dan mengiriminya SMS? Jawabannya adalah jarang atau bahkan tidak ada sama sekali. Mungkin hanya Ruki, teman semejanya yang setiap pagi protes karena SMS tentang tugas dan pekerjaan rumah yang tidak pernah dibalas satu pun. Kalau sudah begitu Adnan hanya tersenyum tanda meminta maaf dan menjelaskan seperlunya. Tak peduli yang dijelaskan paham atau makin tidak jelas.

Kembali lagi ke dunia maya. Di game online itulah Adnan punya teman yang sebenarnya—menurutnya. Teman yang tidak tahu cowok atau cewek yang bahkan dia tidak tahu nama aslinya dan bisa berasal dari mana saja. Bisa hanya rumah sebelah, kampung sebelah, kota sebelah bahkan pulau sebelah. Banyak sekali, bahkan lebih banyak daripada jumlah orang-orang yang ada di kelasnya.

Teman-temannya di dunia maya memanggil Adnan dengan sebutan GM—Game Master—karena dia itu salah satu pemain game yang telah mencapai level tertinggi. Dia juga baik kepada pemain game yang lain seperti membantu menaikkan level, menawarkan jasa atau menjual item-item yang dibutuhkan. Dia pun suka berkata bijak di chat world yang membuatnya cukup terkenal dalam game online itu.

Asal tahu saja, Adnan di dunia maya berbeda 180 derajat dengan dia saat di kelas. Setiap hari chat world penuh akan pesan darinya. Dia ternyata cerewet dan mudah berteman dengan siapa pun. Setiap pemain game terutama pemula yang bertanya pasti selalu dijawabnya. Sebaliknya pula ketika dia berkata sesuatu pasti teman-temannya itu menanggapi. Hingga suatu hari …

Adnn66 [GM]: hari ini ada event apa all?

Adnan memulai chatting.

BlueWhale13: kk belum tahu ya?

newComeerz: wah ,, belom liat berita kali di web

Adnn66 [GM]: emang ada apa?

newComeerz: ntar ada pertemuan gamers sekota kk, tp lupa tanggal berapa hehehe

Rangirl: minggu depan kk 4 mei @Gedung Kartika

Apa? Pertemuan? Berarti Adnan akan melihat secara nyata teman-teman dunia mayanya. Apakah dia harus datang? Padahal dia tidak terlalu suka dengan percakapan dunia nyata. Bagaimana kalau teman-temannya itu kecewa melihatnya secara langsung di dunia nyata? Game Master yang cerewet itu ternyata tak lebih dari seorang pendiam dan tidak pandai bergaul. Banyak sekali pikiran melintas di kepalanya. Bimbang memutuskan antara datang atau tidak hingga seseorang di chat menyadarkannya.

BlueWhale13: kk GM dateng kan?

mncRTdrh: kk kok nggak dijawab, dateng nggak?

Adnan cepat-cepat membalasnya.

Adnn66 [GM]: entahlah

mncRTdrh: kk GM ikutlah pasti seru XD

Rangirl: ntar ada pesta, permainan sama doorprize kk

Adnan sok bijak.

Adnn66 [GM]: aku pikir2 dulu deh

newComeerz: pokoknya harus dateng XP

Apa yang harus dilakukan Adnan? Datang ke pertemuan itu dan mengejutkan teman-temannya kalau ternyata GM itu … Tidak, ini tidak boleh terjadi. Dia memutar otak berkali-kali dan akhirnya menemukan kesimpulan. Kesimpulan yang konyol yang bahkan akan membuat teman-temannya benar-benar kecewa kepadanya.

09bcfd3f4effc795546c99faf701b80d

Source: Google keyword gamer’s room

Pukul delapan pagi kelas sedang jam kosong. Adnan membuat kejutan bagi orang-orang di kelasnya. Dia menyentuh pundak Ruki.

“Boleh aku bertanya sesuatu, Ki?”

Ruki yang mendengarnya langsung melirik ke arah sumber suara. Tidak hanya Ruki, semua orang yang ada di kelas itu memandangnya.

Salah seorang di antaranya pun berteriak, “Akhirnya Adnan bicara!”

Semua orang bertepuk tangan. Bersorak-sorai. Semuanya lantas menyalami Adnan dan memberikan ucapan selamat. Beberapa ada yang memeluknya, yang cipika-cipiki pun ada dan mereka memberinya hadiah.

Aku pun Sadar

PART 1

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s