Permulaan

cover cerpen

Bau khas etanol menyeruak di ruangan yang serba putih. Ranjang dorong banyak teronggok di sudut ruangan. Rak-rak terpasang di belakang meja jaga penuh dengan berbagai macam obat seperti formaldehida dan rempah-rempah herbal untuk membalsam. Di dalam ruangan itu berbaris rapi laci-laci pengawet bernomor sesuai dengan pemiliknya yang tercatat di buku administrasi. Di samping pintu yang menghubungkan dengan ruangan sebelahnya, berdiri tegak lemari besar yang menyimpan gulungan kain kafan, tumpukan lipatan tuksedo, botol wewangian, toples untuk abu kremasi, dan peralatan perawatan jenazah lainnya. Bila masuk ke ruangan sebelah dapat terlihat tumpukan beberapa peti mati, lima buah keranda, dan sebuah krematorium. Tempat untuk memandikan orang mati, mengafani atau mendandani jenazah, membalsami mumi hingga tempat untuk membakar mayat berada dalam satu ruangan sebelah itu. Ruangan tempat Elina berjaga jarang didatangi orang-orang, begitu sunyi dan dingin. Serasa hanya dia seorang saja yang hidup di situ, Ruang Jenazah Rumah Sakit Pelita Kasih.

Belum hilang di memorinya ketika enam bulan yang lalu dia menyelesaikan kerja profesinya sebagai perawat di rumah sakit ini, satu tahun semenjak wisudanya. Kini dia telah benar-benar bergelar Sarjana Keperawatan, tidak hanya sekedar embel-embel di belakang namanya. Namun, tidak seperti perawat lain yang merawat pasien hidup, Elina ditugaskan untuk bekerja sebagai manajer di bagian perawatan jenazah yang mengharuskannya bekerja di ruang mayat dan menangani pasien yang hanya tinggal jasad saja tentunya. Kalau dipikir-pikir lagi, itu memang pilihannya. Enam orang perawat lain yang diterima bekerja di rumah sakit ini bersamaan dengannya terlihat keberatan dengan pekerjaan yang ditawarkan oleh pihak HRD. Pasalnya, jika mengambil bagian ini maka dia akan terus dan selamanya bekerja di situ, tidak ada rolling dengan perawat lain.

Melihat keenam temannya terlalu lama untuk memutuskan dan sedikit prihatin kepada mereka, Elina dengan segala kehormatannya mengambil posisi manajer itu. Mereka pun hanya mengucapkan terima kasih pada wajahnya yang datar. Sisi positifnya adalah dia mendapat gaji yang lebih banyak dari perawat-perawat yang lain. Lagipula dia lebih suka merawat orang yang sudah mati, mereka lebih banyak diam dan mudah diatur daripada meladeni pasien-pasien yang banyak maunya. Meskipun telah mempelajari etika profesi keperawatan, dia tidak bisa terlalu akrab dengan orang di sekitarnya. Hal itu tidak akan mengubah kepribadiannya yang kurang bisa beradaptasi. Intinya dia lebih suka sesuatu yang mati dan membenci kehidupan orang-orang yang selalu mengatur. Kematian baginya serasa tenang dan damai. Mungkin bagi orang biasa tawaran pekerjaan ini yang paling pertama ditolak, mereka yang tak terbiasa mana mungkin bisa bertahan bersama jasad-jasad tak bernyawa dalam satu ruangan setiap harinya.

Selain karena kepribadiannya yang tak mau diusik orang lain, Elina juga punya alasan tersendiri mengambil jabatannya. Dia mempunyai kemampuan aneh nan langka yang hanya diketahui oleh keluarganya. Beberapa saudaranya menyebutnya indigo akan tetapi, dia lebih senang dibilang mempunyai kemampuan khusus. Dia telah mendapatkan kemampuan ini, kira-kira delapan tahun yang lalu ketika dia kehilangan neneknya. Nenek pada dasarnya penyayang dan amat disayangi cucu-cucunya. Bahkan karena begitu sayangnya, Elina berpikir bahwa dirinyalah yang paling menyayangi Nenek dibandingkan cucu-cucu beliau lainnya. Kejadian luar biasa yang dialaminya pada upacara kematian neneknya menjadi alasan penting hingga dia memutuskan untuk mempelajari ilmu keperawatan di kemudian hari.

Mortuary store

Source: Google keyword Mortuary

Kembali ke usia 15 tahun. Masa-masa SMA.

Elina belajar dan berteman selayaknya gadis SMA pada umumnya. Dia menjadi siswa yang tidak terlalu mencolok, tidak bisa dibilang pintar tapi juga cukup bisa menguasai mata pelajaran, punya banyak relasi tapi juga tidak begitu eksis. Dia tinggal bersama orang tuanya di kota tetapi, setiap akhir pekan selalu berkunjung ke rumah nenek yang hanya butuh 45 menit perjalanan. Dia begitu dekat dengan neneknya. Maklum, selama delapan tahun sejak masuk TK hingga lulus SD Elina lebih banyak menghabiskan waktu bersama nenek ditambah dia tidak punya saudara kandung. Beliau selalu memberi hadiah dan pujian ketika dia berhasil mencapai sesuatu dan selalu menasehati dengan tegas ketika dia melakukan kesalahan. Baginya nenek begitu ramah bahkan dia lebih banyak curhat ke nenek  daripada dengan orangtuanya. Curhat apapun, tentang ayah dan ibu, kehidupan di sekolah, hingga cita-citanya. Dia sangat suka jika nenek mengusap kepalanya ketika beliau memberi wejangan.

Hingga pada suatu hari selepas makan malam, ketika ia sedang sibuk mengerjakan PR, tiba-tiba Mas Anggara-anak pakdhe Hendro-datang berkunjung membawa kabar mengagetkan. Malam itu juga, lewat Mas Anggara Elina tahu bahwa neneknya telah tiada. Ia tahu benar neneknya belakangan sering bolak-balik ke tempat Pak Mantri karena sakit yang tidak pernah dia sangka telah parah hingga sanggup mengantarkan neneknya ke detik terakhir kehidupannya. Ada banyak sekali orang dengan wajah menyiratkan keprihatinan ketika ia sampai di rumah Nenek. Tanpa memedulikan orang-orang tersebut, Elina lantas duduk bersimpuh di depan jenazah neneknya yang telah terbujur kaku tertutupi oleh kain kafan bersama dengan orang-orang yang sibuk melafalkan doa-doa bagi neneknya. Elina menatapi wajah neneknya yang dibiarkan tak tertutupi kain kafan. Dalam wajah tersebut tampak sebuah ketenangan dan kedamaian dalam sebuah senyuman tipis yang sudah terlanjur kaku bersama seluruh anggota tubuh lainnya. Meski dikenal paling dekat dengan neneknya, Elina tidak kemudian menumpahkan tangisannya malam itu. Dia hanya memandang datar kepada jenazah neneknya, cara pandang yang terus menimbulkan tanya di dalam benak orang-orang yang menyaksikannya.

Di saat itulah kejadian yang tak biasa terjadi. Sebenarnya sedari tadi dia sendiri juga bertanya-tanya kenapa tak ada setetes pun air mata yang keluar. Lambat laun penglihatannya menjadi kabur, suasana haru sendu rumah duka berganti menjadi kabut tipis yang lama kelamaan memekat dan menebal. Anehnya lagi Elina sama sekali tidak bereaksi dengan pemandangan yang dia lihat itu. Dia tetap diam. Berselang lama, sedikit demi sedikit kabut menghilang, tapi bukan rumah nenek lagi yang dia lihat, tiba-tiba saja dia berada di kamar nenek dan Ya Tuhan…. masih ada nenek di situ. Masih hidup. Beliau terlihat tengah beristirahat, berbaring di dipan. Elina masih tidak bisa bereaksi meski dia berusaha. Dia hanya bisa melihat.

Nenek dengan wajah sayunya terlihat kelelahan. Beberapa saat kemudian pakdhe datang, anak pertama nenek. Dia memang terkenal sebagai anak yang paling tidak berbakti dengan nenek di antara anak beliau yang lain. Nenek selalu memarahinya sebab dia adalah anak yang paling tua namun belum menikah, tidak seperti adik-adiknya ditambah dengan pakdhe yang tidak punya pekerjaan tetap dan masih sering minta duit ke nenek dari dana pensiunan kakek. Uang itu bukannya digunakan untuk hal yang lebih berguna malah dipakai untuk menyabung ayam jagonya di kampung sebelah. Itu yang membuat pakdhe dijengkeli oleh nenek dan adik-adiknya yang lain.

“Kenapa lagi kamu? Mau minta duit lagi ke mbokmu yang mau sekarat ini?” nada nenek agak tinggi.

“Ealah mbok. Simbok itu mbok sadar, toh. Kenapa toh sering banget berburuk sangka sama aku. Mending simbok itu perbanyak amal dan ibadah, simbok kan sudah di usia senja,” kata-kata pakdhe memang seperti itu.

“Tanpa kamu suruh pun simbok juga sudah tahu! Kamu sendiri gimana? Nyuruh-nturuh tapi nggak melaksanakan. Mbok perbaiki awakmu dulu itu sebelum nyuruh-nyuruh orang.”

“Mbok, soal lemah bapak yang ada di Pleret itu gimana? Aku kan anak pertama, laki-laki lagi jadi aku dapat agak banyakan lah daripada adik-adikku yang udah nikah dan kerja itu. Apalagi Rukmini sama Sulastri kan sudah punya suami, sukses-sukses lagi. Mending simbok ngasih bagian mereka ke aku.”

“Ealah, Le. Kamu nanya kayak gitu, kamu mau ndoain simbok cepet modar apa? Kenapa kalo simbok kasih kamu lebih? Mau buat judi lagi to? Mbok perbaiki watakmu itu lho. Barang kayak gitu masih aja dilakoni.  Simbok nggak akan bahas-bahas warisan bapakmu kalau nggak ada adik-adikmu. Titik.”

“Gini lho, Mbok. Aku tuh mau ngasih usul terkait warisane bapak. Aku punya rencana mau ngolah lemah bapak yang di Pleret itu jadi lahan persawahan. Mau tak tanduri padi sesuai wasiat bapak sebelum meninggal dulu. Bapak kan bilang mau ngasih lemah ke anak-anaknya jika dan hanya jika untuk digarap bukan untuk dijual. Lagipula di sebelah utaranya itu kan ada pasar yang lumayan gedhe lah jadi nanti aku bisa jual hasil panen langsung ke sana. Dengan begitu bapak di atas sana akan senang lihat anaknya sukses nggarap tanahnya yang luas itu. Daripada sekarang cuma jadi kebon diincar banyak kontraktor yang mau bikin gedung. Denger-denger di sekitar  sana kan mau dibuka universitas baru. Banyak temenku yang punya tanah di sana sudah dijual ratusan juta buat dibangun apartemen. Cepat atau lambat tanah kita yang jadi target mbok.”

“Kamu sudah bilang ke saudara-saudaramu?” nenek terlihat curiga.

“Nantilah mbok. Itu urusan gampang. Mereka juga akan ngerti.”

“Nggak bisa. Simbok nggak akan setujui usulmu kalau kalian belum musyawarah. Ini keputusan sepihak namanya,” nenek tegas.

“Alah simbok ki gitu. Kelamaan kalau nunggu mereka. Apalagi si Salman tuh yang kerja di Palembang. Mesti nunggu lebaran biar dia datang ke sini,” pakdhe tetap ngeyel.

“Ya sudah. Berarti nunggu lebaran besok. Pokoknya simbok nggak akan ubah-ubah warisan itu sebelum semua adikmu tahu rencanamu,” ujar nenek ketus.

Mereka berdua saling keras kepala. Agak lama Elina memperhatikan dan menunggu.

“Yo wis, gini aja , Mbok. Nanti aku janji bakal kabarin ke semuanya. Darmo, Hendro, Rukmini, siapa lagi? Oh ya Sulastri sama Salman. Aku telponin nanti satu-satu. Yang penting simbok setujuin dulu usulanku ini, aku nggak enak e sudah minta tukang buat ngebersihin lahan, udah dapet separo lagi. Kasian to mereka.”

Dengan segala bujuk rayu yang keluar dari mulut pakdhe akhirnya nenek pun menyetujui usulannya dan memberikan semua sertifikat tanah warisan dari suaminya ke anak sulungnya itu. Pakdhe kemudian pergi membawa surat-surat berharga itu dengan muka sumringah. Nenek hanya bisa menatap anaknya dengan tatapan prihatin.

Beberapa jam berlalu tetapi hanya dalam hitungan detik pada penglihatan Elina. Dalam penglihatannya, Nenek tengah terbaring dan tertidur dengan nyaman hingga tiba-tiba beliau terbangun dengan mata melotot dan napas tersengal. Nenek dengan panik berusaha menggapai-gapai dengan tangannya mencari udara. Nenek terus berteriak minta tolong pada seisi rumah yang kosong. Hanya ada Pakdhe di dalam rumah waktu itu. Ikut panik, Elina berusaha menolong memanggil bantuan untuk neneknya yang masih saja tampak kepayahan terbebas dari sesak napas. Tak ada juga yang mendengar Elina. Ia cuma semacam sedang menonton acara televise tanpa bisa ikut serta di dalamnya, dia cuma bisa melihat. Tidak tahu harus bagaimana lagi, Elina menangis. Ia terus memanggili orang-orang dengan suara bergetarnya yang terus saja tak bisa menembus dunia di mana neneknya kepayahan bernafas itu.

Pakdhe pun datang yang anehnya mukanya tetap biasa dan seperti penantian yang dilakukannya telah usai. Tidak segera melakukan pertolongan, pakdhe malah menatap nenek dengan tatapan menyumpah ke arah beliau. Nenek masih berusaha memperjuangkan hidupnya dan dengan sadar meminta pertolongan kepada pakdhe. Elina berteriak setelah melihat pakdhenya yang tadinya mendekati Nenek kemudian melakukan hal yang benar-benar tak disangka bisa ia lakukan dengan kejamnya.

JANGAN!!! JANGAN PAKDHE!!! HENTIKAN!!!

Lihatlah. Pakdhe mengambil bantal nenek dengan kasar lalu menutupkan bantal itu ke wajah nenek dan menekannya. Nenek meronta-ronta mencari pertolongan dan oksigen yang seharusnya menjadi haknya. Butuh beberapa menit hingga tangan nenek mulai melemas, gerakannya semakin sedikit hingga benar-benar berhenti. Nenek sudah wafat di depan mata anak sulung dan cucunya sendiri.

Elina terkulai lemas dalam dimensinya melihat pakdhe mengembalikan posisi bantal nenek seperti semula dan nenek yang menutup mata dengan damai seakan sudah rela menghadapi takdirnya meninggalkan dunia ini oleh ulah anaknya sendiri. Adegan di depan Elina memperlihatkan pakdhe mengembalikan sertifikat tanah warisan itu ke tempatnya kembali di kamar nenek dan buru-buru meninggalkan rumah menjauh agar skenario nenek meninggal secara alami miliknya berhasil dan Pak Lik dan Bu Lik menyangka kalau nenek meninggal karena tidak mendapat pertolongan. Adegan kembali ke kamar nenek beberapa jam kemudian, terlihat pakdhe Hendro dan Bu Lik Lastri yang sepulang dari kerja mendapati nenek sudah tidur dan tak akan bangun lagi.

Kabut pun kembali menyeruak dan mengganti dimensi kejadian dua belas jam lalu ke waktu sekarang. Nenek yang telah terbujur kaku berkainkan kafan di depannya, para warga yang tengah membaca doa-doa dan kesibukan rumah duka. Kali ini Elina begitu sadar wajahnya sudah basah oleh air mata yang berlinangan, dia masih tidak beringsut dari tempatnya bersimpuh, menangis dalam diam. Melihat jam dan dia tahu bahwa kejadian aneh selama berjam-jam yang memperlihatkan bagaimana neneknya meninggal hanya berlangsung selama beberapa menit saja.

Source: Google keyword Mortuary

“Yosh, Bu Manajer. Jangan kebanyakan melamun apalagi di tempat seperti ini,” suara usikan membawa fokus Elina kembali ke waktu yang benar-benar sekarang.

“Mas Medika! Saya lagi nggak ada kerjaan soalnya,” jawab Elina pada perawat yang lebih tua darinya itu.

“Udah dibilangin, panggil Medi atau Dika aja. Kepanjangan kan kalau Medika. Jenazah almarhum bapak Yi Jeong Hwan bagaimana?”

“Ah, itu. Kemarin abu kremasinya sudah di bawa keluarganya ke rumah duka untuk disemayamkan selama beberapa hari.”

“Budaya Tionghoa,  ya?” tanya mas Medika lebih kepada dirinya sendiri.

“Oh ya Mas. Tadi ada satu yang meninggal dari Bangsal Didaktos belum aku cek.”

“Laci berapa?”

Elina menyebutkan nomor laci tempat pengawetan jenazah dan lelaki berusia hampir kepala tiga itu pun berlalu untuk melakukan tugasnya.

Kembali memori Elina membawanya ke suasana setelah beberapa hari pemakaman neneknya dimana teringat betul dia menceritakan semua kejadian itu pada orang tua, pakdhe, bulik, paklik dan saudara-saudaranya lebih karena penasaran akan kebenaran kejadian itu daripada menuduh pakdhenya yang tidak-tidak. Awalnya pakdhe Mandra yang langsung menyergah ceritanya, menyebutnya anak ingusan yang sok tahu. Namun, setelah diusut selama beberapa hari akhirnya pakdhe mengaku. Dia memang melakukannya karena tanah warisan milik kakek telah ada yang ingin membelinya untuk dibangun apartemen dan melihat sosok pakdhe Mandra yang hidupnya pas-pasan tak berpenghasilan kesempatan emas seperti itu langsung diambilnya tanpa pikir panjang. Akibatnya dia harus berurusan dengan hukum dan dipenjara sesuai undang-undang yang berlaku. Pihak keluarga tidak mau berurusan dengannya lagi. Bahkan pakdhe Hendro melarang kakak satu-satunya itu untuk menginjakkan kaki di rumah setelah masa hukuman habis. Pakdhe Mandra tetap mendapat bagiannya sesuai dengan peraturan awal tapi sebagai gantinya dia tidak diakui lagi sebagai bagian dari keluarga ibu Elina.

Kemampuan aneh Elina membuat Pakdhe, Bu Lik, Pak Lik dan semua saudaranya-termasuk orang tuanya sendiri-terkejut melebihi keterkejutan mereka terhadap pakdhe Mandra yang membunuh nenek. Beberapa saudaranya menyebutnya indigo tapi Elina tetap acuh dan meminta agar semua orang memperlakukannya seperti biasa dan tidak perlu menyebarluaskan berita yang tidak penting ini. Semua orang setuju. Sejak saat itulah setiap kali Elina melihat orang yang sudah mati dengan matanya sendiri dia dapat melihat penyebab orang tersebut meninggal dan berbagai cerita yang menyertainya. Semakin lama dia berurusan dengan orang mati semakin banyak bayangan-bayangan yang dimunculkan di kepalanya yang melengkapi keseluruhan cerita. Oleh karena itulah dia telah membulatkan tekad untuk meneruskan pendidikan tinggi di bagian tenaga medis dan mengambil jabatan penting sebagai manajer kamar jenazah rumah sakit. Karena baginya pasien yang sudah tidak bernyawa lebih mudah ditangani.

Mas Medika kembali menemuinya di meja depan, “Kondisinya masih bagus dan belum mengalami dekomposisi, pengawetan biasa aja cukup tapi kurus banget. Kasihan. Kapan keluarganya mau ambil?”

“Kayaknya besok, Mas. Tadi aku dapet pesan dari mbak Nursia gitu. Katanya kakaknya mau ikut mandiin dia.”

“Okelah, pekerjaan jadi lebih berkurang. Betewe dia kena apa?”

“Apa ya tadi? Kayaknya DB deh mas, bentar,” jawab Elina sambil memeriksa komputer di depannya, “Baihaqi Umar, lima belas tahun, iya, kena DB.”

Mas Medika manggut-manggut.

“Wuaaahhhhh, senengnya besok jadwalku libur,” dia menguap, “Masuk apa kamu besok, El?” lanjutnya.

“Masih siang lah, Mas. Baru juga dapet tiga hari. Ini mana lagi Mas Adrus sama Bu Wati? Lama banget istirahatnya.”

“Ealah baru enam bulan jadi manajer sudah galak gitu. Mereka mah emang gitu kalau tau kamu junior. Sakpenake dhewe. Oke aku balikin ranjang dorong ke gedung utama ya?”

Belum selangkah mas Medika berjalan, pintu kamar jenazah terbuka. Dua perawat mendorong ranjang yang diatasnya terbaring pasien yang ditutupi selimut putih diikuti beberapa orang di belakangnya. Mas Medika yang sudah berpengalaman langsung sigap melakukan tugasnya mengarahkan mereka. Salah seorang perawat yang perempuan mendekati Elina. Dia langsung sigap menerima laporan dari perawat itu.

“Nama pasien?” tanya Elina.

“Mutiara Dwi. Bangsal Agape. Keluhan Meningitis. Perlakuan segera dilakukan tindakan karena akan dibawa pulang oleh keluarganya hari ini juga.”

Elina mencocokkan informasi yang didapatkan dengan data di sistem dan memasukkan informasi tambahan di situ.

“Terima kasih setelah ini biar kami yang menangani.”

END

Edited by: Magmi Rukmasari.

Follow editor link at Blogroll.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s