Aku Suka Bulan Desember

debbowen.com/wp-content/uploads/2014/02/cockle-shells-for-posts.jpg

“Yee, aku nomer satu!” seru Omi ketika menyentuh tangga pos penjaga pantai.

Disusul olehku, “Tidak buruk juga, kudengar kau ikut klub atletik ya sewaktu SMA?”

Rifky dan Ninda sampai bersamaan.

“Kalian ini! Malah pacaran,” seruku.

“Udah … lama tau … aku gak lari … lari kayak gini,” jawab Ninda patah-patah.

Rifky memilih untuk ngos-ngosan ketimbang meladeniku.

“Berarti nanti kamu gendong aku balik ya, Nin!” pintaku menagih janji dan Ninda pun mau tak mau harus mengangguk.

Omi terlihat memungut sesuatu di atas pasir.

“Apaan tuh, Om?” tanyaku. Continue reading

Advertisements

Aku Suka Bulan Desember

 

Rocks Seashore Sea Amazing Landscapes Cliffs Beach Cavern Wallpaper Surf

renatures.com/wp-content/uploads/2016/11/beaches-beach-sea-cavern-amazing-landscapes-cliffs-rocks-seashore-wallpaper-style.jpg

Di saat yang sama di tempat lain.

“Mort, dimana Nathalie?” tanya Simba, teman SMP kami.

“Peduli amat. Dia paling ke gazebo tebing. Belum puas aku jewer dia, setelah kagetin Roy sampe nangis tadi. Aku jadi nggak enak sama paman Andre.”

“Mort. Mort. Gitu-gitu juga adikmu lho. Kalian keluar dari lubang yang sama,” goda Deddy.

“Iya, dan kalian mirip banget. Ingat nggak kalian waktu lomba raja ratu SMP. Mereka bertukar posisi dan nggak ada yang menyadari,” cerita Shelly.

“Heehh. jangan ingatkan aku kejadian menggelikan itu,” pintaku dengan muka merah.

Mereka semua tertawa. Continue reading

Aku Suka Bulan Desember

Aku suka bulan Desember. Di penghujung tahun aku bisa menikmati semilir sejuknya angin muson yang membawa banyak uap air dari samudera. Rintik hujannya yang membawaku ke dalam kenangan-kenangan kelam masa lalu. Sorenya yang sepanas siang hari membasahkan baju membuatku ingin menceburkan diri ke sungai. Mendungnya yang membatalkan semua rencana untuk keluar rumah seakan menyuruh untuk tetap meringkuk di kamar. Paginya yang beraroma lembut menyapa hidung untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin. Serta malamnya yang tenang dan begitu cepat membawaku ke alam mimpi. Tapi, yang terpenting dari semua itu adalah berakhirnya seluruh kegiatan semester ganjil. Masa-masa sulit ujian akhir yang telah terlewati dan menyisakan panjatan doa untuk hasil yang terbaik. Continue reading

Apanya yang jurusan lain lebih mudah? Apanya yang penelitian dia lebih gampang? Apanya yang sudah diteliti banyak orang tinggal salin? Yang ada aku hanya mencari pembenaran atas kesalahan yang kubuat. Aku menyalahkan semua orang padahal sudah jelas itu adalah kesalahanku sendiri. Aku malah lebih memilih untuk gelap mata. Seperti sekarang ini, aku malah mengungkapkan ketakberdayaanku disini.

Lalu sekarang apa? Tak ada lagi jalan mundur pun juga tak boleh berlama-lama jongkok di situ saja. Mau bikin alasan apa lagi? Jurusanku susah? Penelitianku belum banyak yang ngelakuin? Kehabisan referensi? Sudahlah nggak usah banyak alasan! Keep going and moving forward. Udah banyak waktu, tenaga, biaya dan semuanya yang dihabiskan selama ini. Udah! Nggak usah seandainya seandainya sebab itu nggak akan mengubah keadaanku juga. Memangnya aku bisa menjamin kalau dulu aku memilih jalan lain akan lebih baik daripada sekarang?

Sebenarnya bayak jalan yang terpampang begitu jelas dihadapanku. Jalan yang sudah jelas dapat membawaku ke tempat yang aku tuju hanya saja aku terlalu takut untuk megambilnya. Lebih terlalu malu karena kesalahaku di masa lalu. Ah, kenapa aku malah mencari pembenaran lagi. Tak ada gunanya.

Mungkin aku menganggap enteng masalah ini karena masih banyak sebayaku yang bernasib tak jauh denganku. Tapi bila aku terus menerus merasa santai maka aku tidak akan sadar bila kelak mereka akan melambaikan tangan mendahuluiku. Bahkan mereka-mereka yang selama ini aku remehkan. Mereka akan meninggalkanku dan megolokku dari jauh sana dari tempat yang seharusnya aku telah berada di sana.

Mau menangis? Untuk apa kalau setelah itu aku hanya meratap dan tak mau berusaha lagi. Aku punya Tuhan tetapi Dia juga tak akan begitu mengabulkan permintaanku jika aku tetap diam saja di hadapan-Nya. Tuhan tidak bekerja seperti itu. Mau mengabulkan gimana kalau aku masih sering melupakan-Nya? Aku yang malah sibuk mencari pembenaran atas diriku yang nyatanya Dia paling benar diantara semua kebenaran.

Waktu akan terus bergulir dan tanpa kusadari aku telah melakukan hal yang sia-sia selama ini. Kumohon aku tak mau seperti itu. Aku iri dengan mereka, ingin seperti mereka. Aku juga malu dengan mereka yang selalu memberiku semangat untuk segera mengakhiri ini semua. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya, kepalaku sudah buyar.

Ramalan

Terlalu angkuhkah kita sehingga berani menilik rahasia-Nya yang akan terjadi esok lusa?”

Source: nowstar.net

Arif Ardiasmono

Sherly melihat butiran-butiran kohesi air di kaca jendela kamarnya. Di luar terlihat gerombolan tetes-tetes air hujan membasahi tanah di sekitar rumahnya. Wajah Sherly yang biasanya ceria kali ini agak tertekuk karena dia telah dibohongi oleh ramalan cuaca di aplikasi laptop-nya. Sejam yang lalu tertulis cuaca akan berawan dengan kemungkinan hujan 0% dan sempat membuat hatinya bahagia. Hujan yang tak disangka ini membatalkan pertemuannya dengan Reihan, kekasihnya setelah cukup lama mereka saling lost-contact dan long-distance relationship karena si cowok pulang ke Adelide untuk menjenguk ayahnya yang sakit.
Sherly sempat khawatir karena sudah 66 hari dia tak mendapat telfon ataupun pesan dari Reihan di media sosial pun dia tak dapat dihubungi. Pesan yang ia tulis di chat, wall dan twitter-nya seolah-olah tak digubris oleh si cowok yang telah berhubungan dengannya selama enam bulan itu. Sempat juga Sherly melihat ramalan zodiaknya yang mengharuskan dia merelakan cintanya di kolom asmara. Seminggu yang lalu ketika…

View original post 207 more words